Suara.com - Maraknya pinjaman online (pinjol) ilegal sering kali diikuti dengan praktik penagihan yang tidak manusiawi. Debt collector (DC) pinjol ilegal tak segan melakukan ancaman, intimidasi, bahkan menyebarkan data pribadi nasabah dan keluarga jika telat atau gagal bayar.
Situasi ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut dan memerlukan tindakan tegas dari korban. Perlu diingat, tindakan seperti ini jelas melanggar hukum dan tidak dibenarkan. Jika Anda atau keluarga Anda mengalami teror dari DC pinjol ilegal, jangan panik! Ada beberapa langkah penting yang bisa Anda lakukan untuk melaporkan dan menghentikan tindakan tidak menyenangkan ini.
Penting untuk dipahami bahwa penagihan utang oleh DC pinjol legal yang terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memiliki aturan yang ketat. Mereka dilarang melakukan ancaman, kekerasan fisik maupun verbal, merendahkan martabat, serta menagih di luar batas waktu yang ditentukan. Jika DC pinjol, baik legal maupun ilegal, melakukan tindakan yang mengarah pada ancaman dan intimidasi, Anda berhak untuk melaporkannya. Terlebih lagi jika ancaman tersebut menyasar keluarga Anda yang tidak memiliki sangkutan utang.
Langkah-Langkah Efektif Melaporkan DC Pinjol yang Mengancam:
1. Kumpulkan Bukti
Langkah pertama yang krusial adalah mengumpulkan semua bukti ancaman yang Anda terima. Bukti ini bisa berupa tangkapan layar (screenshot) percakapan melalui pesan singkat atau aplikasi chatting, rekaman suara percakapan telepon, foto atau video jika ada tindakan intimidasi langsung, serta nomor telepon atau identitas DC yang melakukan ancaman. Semakin lengkap bukti yang Anda miliki, semakin kuat laporan Anda.
2. Laporkan ke OJK
OJK adalah lembaga pemerintah yang berwenang mengawasi dan mengatur kegiatan di sektor jasa keuangan, termasuk pinjol. Anda dapat melaporkan pinjol ilegal dan praktik penagihan yang tidak sesuai aturan ke OJK melalui beberapa cara:
- Call Center OJK: Hubungi 157.
- Email OJK: Kirimkan laporan beserta bukti-bukti ke konsumen@ojk.go.id.
- Website OJK: Kunjungi website resmi OJK dan cari menu pengaduan konsumen.
- Surat Tertulis: Kirimkan surat pengaduan ke alamat kantor OJK.
Sampaikan laporan Anda secara jelas dan detail, sertakan nama pinjol, nomor kontak DC, kronologi kejadian, serta bukti-bukti yang telah Anda kumpulkan. OJK akan menindaklanjuti laporan Anda dan melakukan investigasi terhadap pinjol yang bersangkutan.
Baca Juga: Cara Mengatasi Teror Penawaran Pinjol via Telepon, SMS dan WA
3. Laporkan ke Polisi
Jika ancaman yang Anda terima sudah mengarah pada tindak pidana, seperti pengancaman dengan kekerasan, pencemaran nama baik, atau penyebaran data pribadi tanpa izin, segera laporkan kejadian tersebut ke kantor polisi terdekat. Sertakan semua bukti yang Anda miliki agar laporan Anda dapat diproses lebih lanjut. Pihak kepolisian memiliki wewenang untuk melakukan penyelidikan dan menindak pelaku intimidasi sesuai dengan hukum yang berlaku.
4. Laporkan ke AFPI (Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia)
Jika pinjol yang Anda gunakan terdaftar sebagai anggota AFPI, Anda juga dapat menyampaikan keluhan Anda kepada asosiasi tersebut. AFPI memiliki kode etik yang harus dipatuhi oleh anggotanya, termasuk dalam hal penagihan. Meskipun AFPI tidak memiliki kekuatan hukum seperti OJK atau kepolisian, mereka dapat memberikan mediasi dan menjatuhkan sanksi kepada anggotanya yang melanggar kode etik. Anda dapat mencari informasi kontak AFPI melalui website resmi mereka.
5. Blokir Nomor Kontak dan Jangan Ladeni
Sebagai langkah pencegahan, blokir semua nomor kontak DC pinjol yang melakukan ancaman. Jangan terpancing untuk meladeni percakapan atau negosiasi dengan mereka, terutama jika mereka menggunakan cara-cara yang intimidatif. Fokuslah pada pengumpulan bukti dan pelaporan kepada pihak yang berwenang.
Berita Terkait
-
Utang Pinjol Masyarakat RI Makin Tinggi, Kini Tembus Rp 80 Triliun
-
OJK: Utang Pinjol Masyarakat Indonesia Tembus Rp 80,2 Triliun
-
Ingin Pinjam Uang Darurat untuk Kebutuhan Mendesak? Cek Solusinya di Sini
-
Terlilit Utang? Ini Doa Mustajab Meluluhkan Hati Debt Collector
-
Galbay Pinjaman, Benarkah Bisa Dipenjara?
Terpopuler
- 6 Mobil Bekas 50 Jutaan Cocok untuk Milenial, Bodi Stylish Tak Repot Perawatan
- 5 Moisturizer dengan Alpha Arbutin untuk Memudarkan Flek Hitam, Cocok Dipakai Usia 40-an
- 5 Rekomendasi Ban Tubeless Motor Matic, Tidak Licin saat Hujan dan Jalan Berpasir
- 7 Mobil Boros Bahan Bakar Punya Tenaga Kuda, Tetapi Banyak Peminatnya
- Kronologi Lengkap Petugas KAI Diduga Dipecat Gara-Gara Tumbler Penumpang Hilang
Pilihan
-
4 HP Snapdragon Paling Murah, Cocok untuk Daily Driver Terbaik Harga mulai Rp 2 Jutaan
-
Dirumorkan Latih Indonesia, Giovanni van Bronckhorst Tak Direstui Orang Tua?
-
Jadi Kebijakan Progresif, Sineas Indonesia Ingatkan Dampak Ekonomi LSF Hapus Kebijakan Sensor Film
-
Daftar Maskapai RI yang Pakai Airbus A320
-
5 Tempat Ngopi Tersembunyi di Palembang yang Bikin Ketagihan Sejak Seduhan Pertama
Terkini
-
BRI Peduli Salurkan Perahu Karet dan Paket Makanan untuk Korban Bencana di Padang
-
Jangan Sampai Tertipu! Kenali 7 Ciri Pinjol Ilegal dan Cara Mudah Mengecek Izin Resmi dari OJK
-
Kejagung Cabut Status Dirut PT Djarum Victor Hartono, Ini Alasannya
-
BRI Peduli Salurkan Bantuan TJSL ke Seluma, Dukung Produktivitas Petani
-
Cara Mengelola Uang Saku dengan Baik untuk Pelajar, Keterampilan yang Tak Diajarkan di Sekolah
-
Apa Itu Desil dan Cara Cek Penentu Bansos PKH dan BPNT
-
Sosok Pemilik PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET)
-
Fakta-fakta Bank Jatim (BJTM) Jadi Induk Bank Banten, Siapa Pengendali Sahamnya?
-
Profil Pemilik Mukhtara Air, Maskapai Baru Ternyata Punya Jaringan Bisnis di Madinah
-
Gaji dan Honorarium Petugas Haji (PPIH) 2026, Ada Fasilitas Juga