-
Rupiah dibuka menguat di level Rp 16.608 terhadap dolar AS.
-
Penguatan dipengaruhi sanksi Trump terhadap perusahaan minyak Rusia.
-
Faktor domestik adalah strategi pemerintah kelola utang Rp 9.000 triliun.
Suara.com - Nilai tukar rupiah ditutup menguat pada pagi hari ini . Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot pagi Selasa (28/10/2025), dibuka di level Rp 16.608 per dolar Amerika Serikat (AS).
Hal ini membuat rupiah makin perkasa dibanding penutupan pada Senin (27/10/2025) yang berada di level Rp 16.621 per dolar AS. Adapun, pergerakan mata uang di Asia bervariasi dengan kecenderungan menguat.
Di mana, yen Jepang menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah melonjak 0,51 persen. Selanjutnya, baht Thailand menanjak 0,44 persen dan dolar Taiwan yang terkerek 0,33 persen.
Diikuti, ringgit Malaysia terangkat 0,22 persen. Berikutnya ada dolar Singapura yang terapresiasi 0,12 persen dan yuan China yang menguat 0,11 persen di sore ini.
Lalu, rupee India menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah anjlok 0,46 persen. Diikuti, won Korea Selatan terkoreksi 0,44 persen.
Kemudian ada peso Filipina yang turun 0,38 persen dan dolar Hongkong yang melemah tipis 0,001 persen terhadap the greenback.
Dalam hal ini, Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan penguatan rupiah dipengaruhi faktor global dan internal. Salah satunya, Trump memberlakukan sanksi terkait Ukraina terhadap Rusia untuk pertama kalinya dalam masa jabatan keduanya, yang menargetkan perusahaan minyak Lukoil dan Rosneft. Menyusul sanksi tersebut, produsen minyak terbesar kedua Rusia, Lukoil, mengatakan pada hari Senin bahwa mereka akan menjual aset internasionalnya.
"Ini adalah tindakan paling berpengaruh sejauh ini yang dilakukan oleh perusahaan Rusia setelah sanksi Barat atas perang Rusia di Ukraina, yang dimulai pada Februari 2022," jelasnya.
Lalu di sektor domestik ada sentimen pemerintah melalui menkeu memaparkan strategi utama pemerintah untuk mengelola rasio utang yang mencapai sekitar Rp9.000 triliun. Strategi tersebut berfokus pada efisiensi belanja anggaran dan peningkatan pertumbuhan ekonomi untuk menekan defisit dan menaikkan rasio penerimaan pajak terhadap Produk Domestik Bruto (tax-to-GDP ratio).
Baca Juga: Rupiah Mulai Bangkit Lawan Dolar Amerika
Total utang pemerintah pusat per akhir Juni 2025 adalah Rp9.138,05 triliun, yang terdiri dari Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp7.980,87 triliun dan pinjaman senilai Rp1.157,18 triliun. Angka ini merupakan rasio sebesar 39,86 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi HP 5G Paling Murah Januari 2026, Harga Mulai Rp1 Jutaan!
- Polisi Ungkap Fakta Baru Kematian Lula Lahfah, Reza Arap Diduga Ada di TKP
- 5 Rekomendasi HP Memori 256 GB Paling Murah, Kapasitas Lega, Anti Lag Harga Mulai Rp1 Jutaan
- Jalan Rusak Parah, Warga Kulon Progo Pasang Spanduk Protes: 'Ini Jalan atau Cobaan?'
- Resmi Gabung Persib, Bojan Hodak Ungkap Jadwal Latihan Kurzawa dan Kedatangan Markx
Pilihan
-
Bursa Saham Indonesia Tidak Siap? BEI Klarifikasi Masalah Data yang Diminta MSCI
-
Menperin Pastikan Industri Susu Nasional Kecipratan Proyek MBG
-
MSCI Melihat 'Bandit' di Pasar Saham RI?
-
Harga Emas di Palembang Nyaris Rp17 Juta per Suku, Warga Menunda Membeli
-
IHSG Anjlok Hampir 8 Persen Gegara MSCI, BEI: Kita Melakukan Segala Effort
Terkini
-
Profil Dewan Energi Nasional, Ini tugas dan Tanggung Jawabnya
-
Bursa Saham Indonesia Tidak Siap? BEI Klarifikasi Masalah Data yang Diminta MSCI
-
Target Negosiasi Tarif Impor AS Mundur, Ada Kendala?
-
Purbaya soal IHSG Anjlok: Beres Sebelum Mei, Hanya Syok Sesaat
-
PU Kebut Normalisasi Sungai Aek Doras, Upaya Redam Ancaman Banjir di Sibolga
-
Tekanan Global hingga AI Warnai 2026, MCorp Buka Ruang Dialog Strategis Lintas Industri
-
Pos Indonesia Gandeng Emiten WIFI Bantu Distribusi Internet Rakyat
-
IHSG Terjun Bebas, BEI: Investor Jangan FOMO Jual Saham
-
Menperin Pastikan Industri Susu Nasional Kecipratan Proyek MBG
-
Jembatan Energi Jawa Hampir Tersambung: Proyek Cisem II Rampung Maret 2026