Bisnis / Ekopol
Sabtu, 14 Maret 2026 | 19:16 WIB
Komisaris Independen PT TASPEN, Ariawan, saat melakukan pengawasan langsung terhadap proses penyerahan THR kepada pensiunan di sejumlah titik mitra bayar di Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (6/3/2026). [Suara.com]
Baca 10 detik
  • PT TASPEN menyalurkan THR pensiunan sejak 5 Maret 2026 kepada 3,2 juta penerima melalui 45 mitra bayar.
  • Meningkatnya modus penipuan digital mengancam pensiunan yang rentan saat pencairan dana hari raya tersebut.
  • Nasabah diimbau memverifikasi setiap permintaan data pribadi, seperti PIN atau OTP, kepada mitra bayar resmi TASPEN.

Suara.com - PT TASPEN (Persero) telah menyalurkan Tunjangan Hari Raya alias THR pensiunan menjelang Idul Fitri 2026, sejak 5 Maret.

Namun, di balik keceriaan menyambut lebaran, muncul ancaman serius yang mengintai para nasabah, yakni maraknya aksi penipuan yang memanfaatkan momen pencairan dana tersebut.

"Ini penting diketahui oleh nasabah. Sebab, ada banyak modus penipuan yang memanfaatkan peluang pencairan THR ini," kata Ariawan dikutip hari Sabtu (14/3/2026).

Waspada "Pemain" di Balik Euforia THR

Menurut Ariawan, fenomena penipuan menjelang hari raya bukanlah hal baru, namun metodenya kian beragam dan canggih.

Momen ketika jutaan orang menerima dana segar dalam waktu bersamaan sering kali dianggap sebagai "masa panen" bagi oknum tidak bertanggung jawab.

Para pelaku biasanya mengincar kelompok rentan, terutama pensiunan yang kurang terpapar informasi teknologi terbaru.

Ariawan menjelaskan, modus yang paling sering muncul adalah pelaku yang menyamar sebagai petugas resmi TASPEN atau lembaga keuangan terkait.

Mereka menghubungi korban melalui telepon, pesan singkat (SMS), atau aplikasi chat dengan dalih verifikasi data, pembagian hadiah tambahan, hingga ancaman pemblokiran rekening jika tidak mengikuti instruksi tertentu.

Baca Juga: PT TASPEN Imbau Pensiunan Waspada Penipuan, Tegaskan THR Langsung Masuk ke Rekening

Karena itu, para pensiunan diimbau agar selalu waspada dan tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum jelas kebenarannya.

Pengawasan dari anggota keluarga yang lebih muda—kelompok usia produktif 18-45 tahun—sangat diharapkan untuk mendampingi orang tua mereka dalam bertransaksi atau menerima informasi terkait dana pensiun.

Langkah Preventif: Konfirmasi adalah Kunci

Menghadapi potensi ancaman tersebut, pihak TASPEN menekankan pentingnya verifikasi dua arah.

Jika nasabah menerima instruksi yang meminta data pribadi seperti PIN ATM, kode OTP, atau informasi perbankan lainnya, dipastikan hal tersebut adalah upaya penipuan.

Ariawan menegaskan, apabila para nasabah menemukan atau menerima informasi yang dirasa mencurigakan, sebaiknya segera melakukan konfirmasi kepada pihak resmi atau mitra bayar TASPEN agar dapat dipastikan kebenarannya.

Load More