- Rupiah ditutup menguat 0,25 persen di level Rp 16.657 per USD pada Selasa, 25 November 2025.
- Penguatan rupiah dipicu sentimen pemangkasan suku bunga The Fed dan harapan stabilitas APBN domestik.
- Mata uang Asia lain beragam, di mana Won Korea Selatan melonjak paling tinggi sementara Peso Filipina melemah.
Suara.com - Nilai tukar rupiah terus berada di zona hijau pada hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar Selasa (25/11/2025) ditutup di level Rp 16.657 per USD.
Tentunya, rupiah terus bangkit 0,25 persen dibanding penutupan pada Senin yang berada di level Rp 16.999 per dolar AS.
Sedangkan, beberapa mata uang asia menunjukkan fluktuatif terhadap dolar. Misalnya, Won Korea Selatan menjadi mata uang yang paling tinggi melonjak 0,44 persen. Diikuti ringgit Malaysia juga melesat 0,04 persen.
Berikutnya, baht Thailand yang terapresiasi 0,16 persen dan dolar Hongkong naik 0,08 persen. Disusul, dolar Taiwan yang menguat 0,01 persen. Lalu, dolar Singapura yang sama-sama menanjak 0,13 persen.
Sedangkan, peso Filipina menjadi mata uang yang melemah setelah turun tipis 0,06 persen terhadap the greenback.
Selanjutnya ada yen Jepang yang terkoreksi 0,14 persen dan yuan China juga terkoreksi 0,11 persen.
Penyebab Rupiah Perkasa
Dalam hal ini, Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan penguatan rupiah ini disebabkan oleh dua faktor yakni dari global maupun domestik.
Salah satunya faktor global mengenai sentimen pelaku pasar tampaknya yakin bahwa Federal Reserve (Fed) akan memangkas suku bunga pada pertemuan bulan Desember seiring terus mengalirnya data ekonomi AS. Hal tersebut terlihat dari komentar dovish para pejabat Federal Reserve yang meningkatkan kemungkinan penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) pada pertemuan bulan Desember.
Baca Juga: Jangan Sampai Tertipu! BI Tegaskan Desain Uang Rupiah Redenominasi di Medsos Itu Hoaks
"Saat ini Pelaku pasar bersiap untuk data ekonomi AS terbaru untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut tentang kebijakan moneter," bebernya.
Selain itu, AS dan Ukraina terlihat bekerja sama dalam kesepakatan damai Rusia Para pejabat AS dan Ukraina terlihat bekerja sama untuk menyusun rencana komprehensif guna mengakhiri perang dengan Rusia, menurut laporan pada hari Senin.
Keduanya juga mengumumkan rencana yang telah direvisi setelah perundingan damai di Jenewa pada hari Minggu, meskipun hanya sedikit detail yang dibagikan. Washington awal bulan ini telah mengungkapkan rencana 28 poin yang bertujuan untuk mengakhiri perang, meskipun proposal tersebut dikritik karena sangat condong ke kepentingan Rusia.
Sedangkan di dalam negeri dipengaruhi oleh Presiden Prabowo Subianto punya harapan soalpengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Dia ingin APBN pada 2027 atau 2028 tidak lagi deficit. Dengan begitu, pendapatan dan belanja negara seimbang atau bahkan pendapatan lebih besar daripada belanja. Keinginan tersebut diungkapkan Prabowo saat menyampaikan nota keuangan dalam Sidang Tahunan MPR pada 15 Agustus 2025.
"Dalam nota keuangan tersebut, menyampaikan target defisit APBN 2026 sebesar 2,48 persen dari produkdomestik bruto (PDB). Artinya, butuh waktu setahununtuk menekan defisit dari 2,48 persen menjadi nolseperti cita-cita Prabowo," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 Skema Suami Dwi Sasetyaningtyas Kembalikan Dana Beasiswa LPDP
- Gerbang Polda DIY Dirobohkan Massa Protes Kekerasan Aparat, Demonstran Corat-coret Tembok Markas
- Setahun Andi Sudirman-Fatmawati Pimpin Sulsel, Pengamat: Kinerja Positif dan Tata Kelola Membaik
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
- 4 HP Motorola Harga Rp1 Jutaan, Baterai Jumbo hingga 7.000 mAh
Pilihan
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
-
Hujan Gol, Timnas Indonesia Futsal Putri Ditahan Malaysia 4-4 di Piala AFF Futsal 2026
-
Mandiri Tunas Finance Terancam Sanksi OJK Buntut Debt Collector Tusuk Advokat
Terkini
-
Bank Maybank Indonesia Hanya Raup Laba Rp1,66 Triliun di Tahun 2025
-
Menkeu Singgung Pajak Rakyat Bukan untuk Penghina Negara
-
Bank Mandiri Siapkan Rp44 Triliun Uang Tunai untuk Lebaran
-
Izin Davies Vandy Resmi Dicabut OJK, Ini Alasannya
-
Penerima Beasiswa LPDP Kembalikan Dana ke Negara karena Tak Mengabdi, Per Orang Rp 1-2 Miliar
-
Bos LPDP: Anak Pejabat Boleh Terima Beasiswa
-
Tak Semua Huntap di Daerah Bencana Sumatera Rampung Sebelum Lebaran
-
Menteri PKP: 133.000 Rumah Subsidi Berdiri di Jateng dan Jatim di 2026
-
Mandiri Tunas Finance Terancam Sanksi OJK Buntut Debt Collector Tusuk Advokat
-
Pemerintah Ingatkan Industri Kualitas Genteng Harus Dijaga Dalam Program Gentengisasi