- Goldman Sachs memproyeksikan harga emas berpotensi mencapai US$ 4.900 per troy ons pada 2026 didorong ketidakpastian geopolitik.
- Pergerakan harga emas diprediksi mengalami volatilitas, termasuk potensi penurunan awal tahun sebelum tren penguatan.
- Pembelian masif oleh bank sentral, terutama China, serta antisipasi pemotongan suku bunga The Fed mendukung optimisme emas.
“Indeks komoditas telah memberikan pengembalian total yang kuat pada tahun 2025 (misalnya BCOM 15%) karena pengembalian yang sangat kuat di sektor industri dan terutama logam mulia, yang keduanya cenderung diuntungkan dari pemotongan suku bunga The Fed, sekaligus mengimbangi pengembalian yang sedikit negatif di sektor energi," tambah Goldman Sachs.
Salah satu motor penggerak paling signifikan bagi kenaikan harga emas adalah perilaku bank sentral, terutama di negara-negara berkembang (Emerging Markets).
Goldman Sachs mengamati adanya perubahan paradigma besar sejak tahun 2022, dipicu oleh pembekuan cadangan devisa Rusia oleh negara-negara Barat.
Kejadian tersebut telah mengubah cara pandang para pengelola cadangan devisa terhadap risiko geopolitik dan keamanan aset negara.
Maraknya pembelian emas oleh bank sentral diprediksi akan berkontribusi sekitar 14 poin persentase terhadap total kenaikan harga emas hingga Desember 2026.
Bank Sentral China (PBoC) menjadi sorotan utama karena pangsa cadangan emasnya yang dinilai masih relatif rendah jika dibandingkan dengan standar bank sentral global lainnya.
Langkah China untuk terus menambah pundi-pundi emasnya juga berkaitan erat dengan rencana besar mereka untuk menginternasionalisasi mata uang Yuan.
Dengan memiliki cadangan emas yang kuat, kredibilitas mata uang sebuah negara akan meningkat di mata dunia, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap Dollar AS.
Selain faktor geopolitik, kondisi ekonomi makro global juga sangat mendukung penguatan harga logam mulia. Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) global yang diprediksi tetap kuat akan meningkatkan daya beli masyarakat terhadap emas fisik. Di sisi lain, kebijakan bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), menjadi kunci yang dinanti para investor.
Baca Juga: Solidaritas untuk Sumatera, 14 Daerah Larang Pesta Kembang Api Malam Tahun Baru 2026
Goldman Sachs memperkirakan adanya pemotongan suku bunga The Fed sebesar 50 basis poin (bp) pada tahun 2026. Secara historis, penurunan suku bunga selalu menjadi angin segar bagi emas.
Karena emas merupakan aset yang tidak memberikan imbal hasil (bunga), maka rendahnya suku bunga akan menurunkan opportunity cost dalam memegang emas, sehingga permintaannya cenderung melonjak.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Lari Skechers yang Diskon sampai 50 Persen di Sport Station, Mulai Rp500 Ribuan
- 10 Promo Sepatu Lari di Sports Station: Adidas, Reebok, dan New Balance Mulai Rp299 Ribuan
- 6 Sunscreen di Alfamart untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
Pilihan
-
Hakim Andi Sebut Nadiem Makarim Seharusnya Dibebaskan
-
Selain 10 Tahun Penjara, Nadiem Makarim Wajib Bayar Uang Pengganti Rp809,59 Miliar
-
Nadiem Makarim Divonis 10 Tahun Penjara!
-
Jangan Puji Pemerintah karena Kerja: Mengapa Publik Begitu Mudah Terpesona?
-
Kabar Duka! Legenda Persija Si Macan Betawi Tan Liong Houw Tutup Usia
Terkini
-
Berlaku Besok, IESR Ungkap Bahayanya Penerapan B50
-
J Trust Bank (BCIC) Rombak Jajaran Direksi
-
Insentif Mobil Listrik Tak Kunjung Jelas, Kemenperin Khawatir Penjualan Tertahan
-
Target Swasembada Garam 2027 Dinilai Sulit Tercapai Tanpa Reformasi Impor
-
BUMN Logistik Baru Mulai Terbentuk, Merger dari 7 Perusahan
-
Vonis Nadiem Makarim Jadi Sorotan Media Internasional: Investor Asing Semakin Tak Percaya
-
Tujuh BUMN Logistik Resmi Melebur di bawah PT Multi Terminal Indonesia
-
Dilema B50 vs Ekspor CPO, Kebijakan Ini Bisa Jadi Pedang Bermata Dua?
-
Pemadaman Listrik Hambat Industri Manufaktur di Juni 2026
-
Brantas Abipraya Percepat Penyelesaian Sekolah Rakyat Kabupaten Bogor, Dukung Pemerataan Pendidikan