- IPO PT Superbank Indonesia Tbk (SUPA) pada Desember 2025 menjadi tonggak penting dalam transformasi ekosistem digital PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK).
- Tak hanya mencetak rekor sebagai salah satu IPO terpanas di Bursa Efek Indonesia, langkah ini memperkuat narasi bahwa EMTK tengah membangun portofolio aset digital.
- Hingga November 2025, SUPA membukukan laba sebelum pajak sebesar Rp122,4 miliar, dengan tren profitabilitas yang telah berbalik positif serta aktivitas transaksi harian yang menembus jutaan transaksi.
Suara.com - Keberhasilan IPO PT Superbank Indonesia Tbk (SUPA) pada Desember 2025 menjadi tonggak penting dalam transformasi ekosistem digital PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK).
Tak hanya mencetak rekor sebagai salah satu IPO terpanas di Bursa Efek Indonesia, langkah ini memperkuat narasi bahwa EMTK tengah membangun portofolio aset digital yang matang, berkelanjutan, dan berbasis fundamental.
SUPA resmi melantai di BEI pada 17 Desember 2025, dengan total dana segar yang dihimpun mencapai sekitar Rp2,79 triliun. Antusiasme investor terlihat sangat kuat, tercermin dari tingkat oversubscription sekitar 318 kali, dengan lebih dari 1 juta order investor selama masa penawaran. Capaian tersebut menempatkan SUPA sebagai salah satu IPO terlaris sepanjang sejarah BEI.
Dari sisi kinerja, Superbank menunjukkan perkembangan fundamental yang solid pasca IPO. Hingga November 2025, SUPA membukukan laba sebelum pajak sebesar Rp122,4 miliar, dengan tren profitabilitas yang telah berbalik positif serta aktivitas transaksi harian yang menembus jutaan transaksi.
Selain itu, dengan modal inti melampaui Rp6 triliun, Superbank resmi memenuhi kriteria KBMI 2. Kenaikan kelas ini menjadi sinyal penting bahwa SUPA tidak hanya mengembangkan aset digital berbasis pertumbuhan, tetapi juga memperkuat struktur permodalan dan keberlanjutan bisnis secara fundamental.
Selain Superbank, perhatian pasar juga tertuju pada Vidio, platform OTT milik EMTK yang dikabarkan tengah dipersiapkan untuk IPO pada 2026. Vidio saat ini merupakan salah satu platform OTT terbesar di Indonesia, dengan target pertumbuhan pelanggan hingga delapan juta pengguna dalam 2–3 tahun ke depan.
Sejumlah laporan media menilai valuasi Vidio pada 2024 telah mencapai sekitar Rp14,96 triliun, melampaui valuasi beberapa emiten media digital yang telah tercatat di bursa. Jika rencana IPO terealisasi, Vidio berpotensi menjadi IPO sektor teknologi & media berskala jumbo, sekaligus memperpanjang “IPO effect” di lingkungan EMTK.
"Saya sudah mendengar rumor Vidio akan IPO sejak pertengahan tahun ini dari berbagai media. Jika memang hal ini terealisasi, tahun 2026 akan menjadi tahun yang menarik karena kecenderungan suku bunga yang akan menurun sehingga investor akan cenderung berinvestasi ke growth stock, salah satunya adalah sektor teknologi," ungkap Bernadus Wijaya, CEO Sucor Sekuritas.
Selain itu, dari sisi makro, prospek penurunan BI Rate pada 2026 berpotensi menjadi wind at the back bagi saham teknologi dan digital. Dengan kisaran suku bunga acuan yang diproyeksikan menuju 2,5% ±1%, likuiditas diperkirakan kembali mengalir ke aset berisiko, termasuk saham-saham berbasis pertumbuhan seperti EMTK.
Baca Juga: Melantai di Bursa, Saham SUPA Meroket 93% dalam Tiga Hari Perdagangan
Tren global penurunan suku bunga serta meningkatnya minat investor terhadap aset digital di kawasan Asia Tenggara turut memperkuat daya tarik emiten dengan ekosistem digital terintegrasi.
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 Lipstik Lokal Murah dan Awet, Transferproof Meski Dipakai Makan dan Minum
- Apakah Produk Viva Memiliki Sunscreen? Segini Harga dan Cara Pakainya
- Promo Long Weekend Alfamart, Diskon Camilan untuk Liburan sampai 60 Persen
- 5 HP Baterai 7000 mAh Terbaru 2026, Tahan Seharian dan Kencang Mulai Rp1 Jutaan
- Siapa Ayu Aulia? Bongkar Ciri-ciri Bupati R yang Membuatnya Kehilangan Rahim
Pilihan
-
SMAN 1 Pontianak Tolak Ikut Lomba Ulang, Sampaikan Salam: Sampai Jumpa di LCC Tahun Depan!
-
Keluar Kau Setan! Ricuh di Pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping
-
Jauh di Bawah Tuntutan Jaksa, Eks Konsultan Kemendikbud Kasus Chromebook Hanya Divonis 4 Tahun
-
Tok! Eks Konsultan Kemendikbudristek Ibam Divonis 4 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook
-
Fenomena Tim Musafir Masih Hiasi Super League, Ketegasan PSSI dan I.League Dipertanyakan
Terkini
-
Purbaya Ramal Perang AS vs Iran Berakhir September 2026
-
Sempat Tolak, Ini Alasan Purbaya Akhirnya Kasih Insentif Mobil Listrik
-
Bank Indonesia dan Bank Negara Malaysia Perkuat Sektor Moneter dan Sistem Pembayaran
-
Warga Jabodetabek Kabur Liburan, Kendaraan Padati Jalan Tol
-
Alasan Panas Bumi Jadi Pusat Pengembangan Energi terbarukan
-
Kemenhub Restui Maskapai Naikkan Fuel Surchage 50%, Tiket Pesawat Ikut Melonjak?
-
BI Prediksi Kinerja Penjualan Eceran April 2026 Tetap Kuat, Kelompok Suku Cadang Jadi Penopang
-
BRI KPR Solusi Permudah Miliki Rumah dan Properti Lelang dengan Cicilan Fleksibel
-
Ada Nama Baru di Jajaran Direksi Garuda Indonesia, Dua WNA Masih Menjabat
-
Industri Rokok Dinilai Jadi Penopang Lapangan Kerja dan Penerimaan Negara