- IHSG melonjak saat pembukaan perdagangan 2 Januari 2026, mencapai level 8.676 hingga 8.680 pagi itu.
- Pada waktu tersebut, tercatat 2,58 miliar saham diperdagangkan dengan nilai transaksi total Rp 1,42 triliun.
- Proyeksi analis menunjukkan IHSG akan menguat terbatas dengan support di 8.560 dan resistance di 8.720.
Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melonjak di pembukaan perdagangan tahun 2026, pada Jumat, 2 Januari 2026. IHSG menguat ke level 8.676
Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga pukul 09.05 WIB, IHSG terus melesat naik 0,39 persen di level 8.680.
Pada perdagangan pada waktu itu, sebanyak 2,58 miliar saham diperdagangkan dengan nilai transaksi sebesar Rp 1,42 triliun, serta frekuensi sebanyak 205.900 kali.
Dalam perdagangan di waktu tersebut, sebanyak 349 saham bergerak naik, sedangkan 202 saham mengalami penurunan, dan 407 saham tidak mengalami pergerakan.
Adapun, beberapa saham yang menjadi Top Gainers pada waktu itu diantaranya, ARKO, NELY, TRUE, NETV, POLU, RIGS, MEJA, UDNG, GRPM, LUCY, AMMS.
Sedangkan, saham yang masuk dalam Top Loser diantaranya, MRAT, PUDP, YULE, SOUL, BACA, INPP, CINT, NTBK, SILO, BESS, LRNA.
Proyeksi IHSG
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bergerak menguat terbatas pada perdagangan Kamis (2/1/2026). Pilarmas Investindo Sekuritas dalam risetnya, menilai sentimen pasar di awal tahun masih cenderung terbatas.
Pada perdagangan Selasa (30/12/2025), IHSG ditutup menguat tipis 2 poin atau 0,03 persen ke level 8.646. Kinerja positif indeks ditopang oleh sektor consumer cyclicals yang mencatatkan kenaikan tertinggi sebesar 3,03 persen.
Baca Juga: Daftar 70 Saham Force Delisting Awal 2026, Ada Emiten Sejuta Umat dan BUMN
Sementara itu, tekanan jual terjadi pada sektor healthcare yang menjadi sektor dengan kinerja terlemah setelah terkoreksi 1,53 persen.
Riset Pilarmas Investindo Sekuritas menilai pergerakan IHSG di akhir tahun 2025 memberikan sinyal akhir yang manis, sekaligus menjadi momen yang dinanti oleh pelaku pasar untuk membuka tahun 2026 dengan harapan baru.
Berdasarkan analisa teknikal, IHSG dinilai masih memiliki peluang untuk melanjutkan penguatan meski terbatas. Support IHSG berada di kisaran 8.560, sedangkan resistance diperkirakan di level 8.720.
Dengan ruang penguatan yang terbatas, investor disarankan tetap selektif dalam menentukan strategi perdagangan dan mencermati saham-saham pilihan.
Adapun, saham yang masuk dalam stock watch Pilarmas antara lain PT Petrosea Tbk (PTRO), PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP), serta PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT).
Berita Terkait
Terpopuler
- Biar Terlihat Muda Pakai Lipstik Warna Apa? Ini 5 Pilihan Shade yang Cocok
- 7 HP 5G Termurah 2026 Rp1 Jutaan, Tawarkan Chip Kencang dan Memori Lega
- 5 HP dengan Kamera Leica Termurah, Kualitas Flagship Harga Ramah di Kantong
- 16 Februari 2026 Bank Libur atau Tidak? Ini Jadwal Operasional BCA hingga BRI
- 5 Pilihan Mesin Cuci 2 Tabung Paling Murah, Kualitas Awet dan Hemat Listrik
Pilihan
-
Persib Bandung Bakal Boyong Ronald Koeman Jr, Berani Bayar Berapa?
-
Modus Tugas Kursus Terapis, Oknum Presenter TV Diduga Lecehkan Seorang Pria
-
Jangan ke Petak Sembilan Dulu, 7 Spot Perayaan Imlek di Jakarta Lebih Meriah & Anti Mainstream
-
Opsen Pajak Bikin Resah, Beban Baru Pemilik Motor dan Mobil di Jateng
-
Here We Go! Putra Saparua Susul Tijjani Reijnders Main di Premier League
Terkini
-
PLN, MEBI, dan HUAWEI Resmikan SPKLU Signature dengan Ultra-Fast Charging dan Split Charging Pertama
-
Harga Cabai Masih 'Pedas', Bapanas Siapkan Intervensi
-
Kemendag Keluarkan Harga Patokan Eskpor Komoditas Tambang, Ini Daftarnya
-
Menkeu Purbaya Resmi Alihkan Dana Desa Rp34,5 T ke Koperasi Merah Putih
-
Pabrik Alas Kaki di Jombang Pakai PLTS, Kapasitas Tembus 3,7 MWp
-
Bisnis Emas BSI Melesat 100 Persen dalam 8 Bulan
-
Pengangguran Menurun, Tapi 50 Persen Tenaga Kerja Masih 'Salah Kamar'
-
Rating Indonesia Turun, Purbaya Serang Balik: Saya Ingin Membuat Reputasi Moody's Jeblok
-
Emiten BFIN Andalkan Program Loyalitas Dongkrak Pembiayaan Mobil Bekas
-
Dalih Purbaya Bikin Defisit APBN Nyaris 3 Persen: Kalau Tidak Kita Bisa Jatuh Seperti 1998