- IESR mengkritik rencana pemerintah menghentikan insentif kendaraan listrik 2026 karena biaya kerusakan lingkungan lebih besar.
- Pencabutan insentif PPN 10 persen akan menaikkan harga mobil listrik, berpotensi menurunkan minat masyarakat beralih.
- Kebijakan ini mengancam investasi industri baterai kendaraan listrik yang diproyeksikan bernilai triliunan rupiah hingga 2060.
Suara.com - Rencana pemerintah untuk menghentikan insentif kendaraan listrik pada 2026 menuai kritik dari berbagai kalangan. Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa menilai kebijakan tersebut kurang tepat karena nilai insentif yang dikeluarkan negara jauh lebih kecil dibandingkan dampak ekonomi akibat kerusakan lingkungan dari emisi transportasi.
"Pemerintah harus sadar bahwa biaya kerusakan lingkungan dan dampak kesehatan akibat emisi transportasi jauh lebih mahal harganya dibandingkan nilai rupiah insentif yang diberikan saat ini," ujar Fabby Tumiwa seperti dikutip, Jumat (2/1/2026).
Ia menegaskan, membiarkan kendaraan berbahan bakar fosil terus mendominasi jalanan justru akan menimbulkan biaya pemulihan ekologi yang jauh lebih besar di masa depan.
"Kebijakan pencabutan insentif ini menunjukkan cara pandang jangka pendek yang mengabaikan beban krisis iklim di masa depan," katanya.
Fabby menjelaskan, jika insentif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 10 persen benar-benar dicabut, maka harga kendaraan listrik akan melonjak signifikan. Kondisi tersebut diyakini akan membuat minat masyarakat untuk beralih ke kendaraan ramah lingkungan merosot tajam.
Ia juga memaparkan temuan IESR terkait dampak positif penggunaan kendaraan listrik terhadap ketahanan energi nasional. Menurut catatan IESR, penggunaan satu unit mobil listrik sejauh 20.000 kilometer per tahun mampu menekan impor bahan bakar minyak (BBM) hingga 1.320 liter.
"Jangan sampai kita terjebak menghemat anggaran fiskal, namun justru membiarkan defisit neraca perdagangan membengkak akibat ketergantungan impor BBM yang terus berlanjut," bebernya.
Tak hanya berdampak pada lingkungan dan energi, Fabby menilai pencabutan insentif kendaraan listrik juga berisiko mengganggu iklim investasi, khususnya di industri baterai kendaraan listrik. Sektor ini diproyeksikan menarik investasi hingga Rp 544 triliun sampai 2060.
Saat ini, sejumlah produsen disebut masih berada dalam tahap pembangunan pabrik dan membutuhkan kepastian kebijakan dari pemerintah agar investasi yang telah berjalan tidak terhambat.
Baca Juga: Dirayu Menperin soal Insentif Mobil Listrik 2026, Ini Jawaban Purbaya
Atas dasar itu, Fabby meminta pemerintah untuk tetap memperpanjang insentif kendaraan listrik guna menjaga momentum transisi energi nasional sekaligus melindungi hak masyarakat atas kualitas udara yang lebih bersih.
Berita Terkait
Terpopuler
- Asal-usul Kenapa Semua Pejabat hingga Diplomat Iran Tak Pakai Dasi
- 5 HP Infinix Kamera Beresolusi Tinggi Terbaru 2026 dengan Harga Murah
- 7 Rekomendasi Parfum Lokal Tahan Lama dengan Wangi Musky
- 7 Bedak Wardah yang Tahan Lama Seharian, Makeup Flawless dari Pagi sampai Malam
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
Pilihan
-
Diperiksa Kasus Penggelapan Rp2,4 Triliun, Apa Peran Dude Harlino dan Istri di PT DSI?
-
Diguncang Gempa M 7,6, Plafon Gereja Paroki Rumengkor Ambruk Jelang Ibadah Kamis Putih
-
Isak Tangis Pecah di Kulon Progo, Istri Praka Farizal Romadhon Tiba di Rumah Duka
-
Bareskrim Periksa Pasangan Artis Dude Herlino-Alyssa Terkait Skandal Kasus PT DSI Rp2,4 Triliun
-
BREAKING NEWS: Peringatan Dini Tsunami 3, BMKG Minta Evakuasi Warga
Terkini
-
Pertamina dan POSCO International Jajaki Kerja Sama Pengembangan Teknologi Rendah Karbon
-
Update Harga BBM SPBU Shell, BP dan Vivo saat Minyak Dunia Lewati USD 100 per Barel
-
Indonesia-Korsel Teken 10 MoU Senilai Rp 173 Triliun, Kerja Sama AI hingga Energi Bersih
-
IHSG Terus-terusan Anjlok, OJK Salahkan Sentimen Negatif Global
-
Penyebab Rupiah Melemah Tembus Rp17.002 per Dolar AS Hari Ini
-
Profil PT PP Presisi Tbk (PPRE): Anak Usaha BUMN, Siapa Saja Pemegang Sahamnya?
-
RI Masuk 3 Besar Dunia Peminat Aset Kripto Riil, OSL Rilis 'Tabungan' Emas Digital
-
Pasar Semen Domestik Lesu, SMGR Putar Otak Jualan ke Luar Negeri
-
Dilema Selat Hormuz: DEN Minta Warga Tenang, Stok BBM Nasional Masih Terjaga
-
Impor Mobil Pikap Tembus Rp 975,5 Miliar di Januari-Februari 2026, Buat Kopdes Merah Putih?