- IHSG ditutup menguat 1,17 persen ke 8.748,13 didorong sektor transportasi, rupiah melemah ke Rp16.725/USD.
- Phintraco Sekuritas memproyeksikan IHSG berpeluang uji level psikologis 8.800 berdasarkan sinyal teknikal positif.
- PMI manufaktur Desember 2025 turun ke 51,2, sementara pertumbuhan kredit perbankan stabil sekitar 7 persen.
Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan masih berpeluang melanjutkan penguatan pada perdagangan pekan depan. Mengutip riset Phintraco Sekuritas, sentimen teknikal membuka peluang IHSG untuk menguji level psikologis 8.800.
Pada pekan ini, IHSG ditutup menguat 1,17 persen ke level 8.748,13. Penguatan tersebut didorong oleh kenaikan saham-saham sektor transportasi yang mencatatkan penguatan terbesar, sementara sektor keuangan justru membukukan koreksi terdalam.
Sementara itu, nilai tukar rupiah ditutup melemah ke level Rp16.725 per dolar AS di pasar spot, seiring pelemahan mayoritas mata uang Asia terhadap dolar AS.
Secara teknikal, Phintraco Sekuritas menilai indikator Stochastic RSI IHSG masih melanjutkan penguatan di area pivot. Kondisi tersebut diperkuat oleh penyempitan histogram negatif MACD serta kenaikan volume beli.
"Dengan kombinasi sinyal teknikal tersebut, IHSG diperkirakan melanjutkan penguatan dengan area resistance di level 8.800, pivot di 8.700, dan support di 8.600," tulis Phintraco Sekuritas dalam riset hariannya, seperti dikutip Minggu (4/1/2026).
Dari sisi fundamental, indeks S&P Global Manufacturing PMI Indonesia tercatat turun ke level 51,2 pada Desember 2025 dari 53,3 pada November 2025, serta berada di bawah estimasi di level 53,6.
Meski demikian, PMI masih menunjukkan ekspansi sektor manufaktur yang telah berlangsung selama lima bulan berturut-turut.
Penurunan PMI disebabkan oleh melambatnya pertumbuhan pesanan baru, meskipun masih berada dalam fase ekspansi. Pada pekan depan, pelaku pasar juga akan mencermati rilis data neraca perdagangan dan inflasi yang berpotensi memengaruhi pergerakan IHSG.
Selain itu, Menteri Keuangan Purbaya mengungkapkan total dana pemerintah sebesar Rp 276 triliun yang ditempatkan di perbankan, dengan Rp 75 triliun di antaranya telah ditarik untuk kebutuhan belanja rutin kementerian dan lembaga.
Baca Juga: Emiten Tambang dan Energi Diborong Asing, Saham-saham Bakrie Jadi Favorit
Realisasi kebijakan tersebut dinilai belum memberikan dampak optimal terhadap pertumbuhan kredit perbankan.
Pertumbuhan kredit perbankan masih tercatat stabil di kisaran 7 persen, yang diperkirakan dipengaruhi oleh suku bunga kredit perbankan yang masih bertahan di sekitar 8,96 persen per November 2025, meskipun BI Rate berada di level 4,75 persen.
Adapun,saham yang dapat diperhatikan investor pada perdagangan pekan depan antara lain PYFA, ASSA, HMSP, PNBN, DATA, dan SCMA.
Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan dan analisis pasar yang ditujukan sebagai informasi umum, bukan saran atau rekomendasi investasi. Keputusan investasi tetap berada di tangan pembaca, dan setiap risiko investasi menjadi tanggung jawab pribadi. Investor disarankan untuk melakukan riset mendalam sebelum mengambil keputusan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Ratusan Honorer NTB Diberikan Tali Asih Rp3,5 Juta Usai Putus Kontrak
- Lupakan Aerox atau NMAX, Skutik Baru Yamaha Ini Punya Traksi dan Agresivitas Sempurna di Trek Basah
- Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
- Anggota DPR RI Mendadak Usul Bangun 1.000 Bioskop di Desa Pakai Dana APBN 2027
- 5 Serum Penumbuh Rambut Terbaik untuk Rambut Menipis dan Area Botak
Pilihan
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
Terkini
-
Misbakhun: APBN Mustahil Bangkrut
-
Ini Strategi BTN Salurkan Kredit Perumahan Bagi Masyarakat
-
Ekonom UI: Masyarakat Kok Makin Miskin kala Pemerintah Klaim Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen
-
Misbakhun Nilai Pelemahan Rupiah Sekarang Tak Seburuk 1998
-
IHSG Bergejolak Karena Ekspor Dikendalikan Danantara, Pemerintah Harus Siapkan Mitigasi
-
Isu Sejumlah Merek Kendaraan Dilarang Beli Pertalite, Pertamina: Hoaks!
-
Pasca-Blackout Sumatra, Pasokan Listrik 8,3 Juta Pelanggan Diklaim PLN Mulai Pulih
-
Indikasi Awal, PLN Sebut Gangguan Cuaca jadi Penyebab Blackout di Sumatera
-
LPS Ajak Generasi Muda Kuasai Teknologi dan Mitigasi Risiko Keuangan
-
Aceh hingga Jambi Mati Blackout, Dirut PLN Minta Maaf!