Bisnis / Keuangan
Minggu, 04 Januari 2026 | 15:12 WIB
Karyawan melintas di samping layar elektronik yang menunjukkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (9/9/2022). . ANTARA FOTO/Galih Pradipta/aww.
Baca 10 detik
  • IHSG ditutup menguat 1,17 persen ke 8.748,13 didorong sektor transportasi, rupiah melemah ke Rp16.725/USD.
  • Phintraco Sekuritas memproyeksikan IHSG berpeluang uji level psikologis 8.800 berdasarkan sinyal teknikal positif.
  • PMI manufaktur Desember 2025 turun ke 51,2, sementara pertumbuhan kredit perbankan stabil sekitar 7 persen.

Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan masih berpeluang melanjutkan penguatan pada perdagangan pekan depan. Mengutip riset Phintraco Sekuritas, sentimen teknikal membuka peluang IHSG untuk menguji level psikologis 8.800.

Pada pekan ini, IHSG ditutup menguat 1,17 persen ke level 8.748,13. Penguatan tersebut didorong oleh kenaikan saham-saham sektor transportasi yang mencatatkan penguatan terbesar, sementara sektor keuangan justru membukukan koreksi terdalam.

Sementara itu, nilai tukar rupiah ditutup melemah ke level Rp16.725 per dolar AS di pasar spot, seiring pelemahan mayoritas mata uang Asia terhadap dolar AS.

Ilustrasi perdagangan sesi I IHSG hari ini [Ist/Antara]

Secara teknikal, Phintraco Sekuritas menilai indikator Stochastic RSI IHSG masih melanjutkan penguatan di area pivot. Kondisi tersebut diperkuat oleh penyempitan histogram negatif MACD serta kenaikan volume beli.

"Dengan kombinasi sinyal teknikal tersebut, IHSG diperkirakan melanjutkan penguatan dengan area resistance di level 8.800, pivot di 8.700, dan support di 8.600," tulis Phintraco Sekuritas dalam riset hariannya, seperti dikutip Minggu (4/1/2026).

Dari sisi fundamental, indeks S&P Global Manufacturing PMI Indonesia tercatat turun ke level 51,2 pada Desember 2025 dari 53,3 pada November 2025, serta berada di bawah estimasi di level 53,6.

Meski demikian, PMI masih menunjukkan ekspansi sektor manufaktur yang telah berlangsung selama lima bulan berturut-turut.

Penurunan PMI disebabkan oleh melambatnya pertumbuhan pesanan baru, meskipun masih berada dalam fase ekspansi. Pada pekan depan, pelaku pasar juga akan mencermati rilis data neraca perdagangan dan inflasi yang berpotensi memengaruhi pergerakan IHSG.

Selain itu, Menteri Keuangan Purbaya mengungkapkan total dana pemerintah sebesar Rp 276 triliun yang ditempatkan di perbankan, dengan Rp 75 triliun di antaranya telah ditarik untuk kebutuhan belanja rutin kementerian dan lembaga.

Baca Juga: Emiten Tambang dan Energi Diborong Asing, Saham-saham Bakrie Jadi Favorit

Realisasi kebijakan tersebut dinilai belum memberikan dampak optimal terhadap pertumbuhan kredit perbankan.

Pertumbuhan kredit perbankan masih tercatat stabil di kisaran 7 persen, yang diperkirakan dipengaruhi oleh suku bunga kredit perbankan yang masih bertahan di sekitar 8,96 persen per November 2025, meskipun BI Rate berada di level 4,75 persen.

Adapun,saham yang dapat diperhatikan investor pada perdagangan pekan depan antara lain PYFA, ASSA, HMSP, PNBN, DATA, dan SCMA.

Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan dan analisis pasar yang ditujukan sebagai informasi umum, bukan saran atau rekomendasi investasi. Keputusan investasi tetap berada di tangan pembaca, dan setiap risiko investasi menjadi tanggung jawab pribadi. Investor disarankan untuk melakukan riset mendalam sebelum mengambil keputusan.

Load More