Bisnis / Energi
Selasa, 20 Januari 2026 | 12:17 WIB
Ilustrasi China. [Javier Quiroga/Unsplash]
Baca 10 detik
  • Harga minyak Brent dan WTI naik pada Selasa (20/1/2026) didorong optimisme permintaan pasca data ekonomi China melampaui estimasi.
  • Pasar mencermati ancaman tarif AS 10% terhadap Eropa per 1 Februari terkait sengketa Presiden Trump mengenai Greenland.
  • Penguatan harga juga didukung pelemahan dolar AS 0,3% akibat aksi jual menyikapi potensi konflik perdagangan internasional.

Suara.com - Harga minyak naik pada perdagangan Selasa (20/1/2026), menyusul data pertumbuhan ekonomi China yang melampaui ekspektasi sehingga memicu optimisme permintaan.

Pada saat yang sama, pasar tengah mencermati ancaman kenaikan tarif Amerika Serikat terhadap negara-negara Eropa terkait keinginan Presiden Donald Trump untuk membeli Greenland.

Mengutip dari Investing.com, harga minyak Brent berjangka naik 19 sen, atau 0,3 persen, menjadi 64,13 dolar AS per barel pada pukul 01.00 GMT atau pukul 08.00 WIB.

Minyak mentah West Texas Intermediate AS untuk bulan Februari, yang berakhir pada hari Selasa, naik 25 sen atau 0,4 persen dibanding pada perdagangan Jumat, menjadi 59,69 dolar AS.

Sementara itu, kontrak WTI Maret yang lebih aktif diperdagangkan menguat 0,08 sen atau 0,13 persen ke level 59,42 dolar AS per barel.

Untuk sekedar diketahui, tidak ada penetapan harga pada Senin kemarin karena pasar Amerika Serikat libur memperingati Martin Luther King Jr. Day.

Analis pasar IG, Tony Sycamore, dalam laporannya menjelaskan bahwa harga minyak mentah WTI sedikit menguat berkat dukungan data PDB China kuartal IV-2025 yang melampaui estimasi pasar.

"Ketahanan di negara pengimpor minyak terbesar di dunia ini memberikan dorongan pada sentimen permintaan," katanya dalam sebuah catatan.

Berdasarkan data yang dirilis pada Senin (19/1), Ekonomi China tumbuh 5,0 persen tahun lalu, memenuhi target pemerintah dengan merebut pangsa permintaan global untuk barang yang mencapai rekor tertinggi, mengimbangi konsumsi domestik yang lemah.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik Tipis, Setelah AS Batal Serang Iran

Strategi itu meredam dampak tarif AS tetapi semakin sulit untuk dipertahankan.

Data pemerintah juga menunjukkan bahwa kinerja kilang minyak China sepanjang 2025 meningkat 4,1 persen secara tahunan (yoy), sementara produksi minyak mentah tumbuh 1,5 persen. Keduanya berhasil mencatatkan rekor tertinggi sepanjang sejarah.

Di sisi lain, kekhawatiran akan pecahnya perang dagang kembali meningkat pada akhir pekan lalu.

Hal ini dipicu oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump yang berencana memberlakukan tarif tambahan sebesar 10 persen mulai 1 Februari terhadap barang-barang dari sejumlah negara Eropa, termasuk Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Belanda, Finlandia, dan Inggris.

Tarif tersebut diancam akan naik menjadi 25 persen pada 1 Juni jika kesepakatan mengenai pembelian Greenland tidak tercapai.

Sycamore menambahkan bahwa penguatan harga komoditas tersebut juga didorong oleh pelemahan dolar AS.

Load More