- Harga minyak Brent dan WTI naik pada Selasa (20/1/2026) didorong optimisme permintaan pasca data ekonomi China melampaui estimasi.
- Pasar mencermati ancaman tarif AS 10% terhadap Eropa per 1 Februari terkait sengketa Presiden Trump mengenai Greenland.
- Penguatan harga juga didukung pelemahan dolar AS 0,3% akibat aksi jual menyikapi potensi konflik perdagangan internasional.
Hal ini terjadi akibat aksi jual dolar oleh pelaku pasar sebagai respons terhadap ancaman tarif yang terus dilontarkan Presiden Trump terkait isu Greenland.
Dolar AS turun 0,3 persen terhadap mata uang lainnya. Melemahnya dolar AS membuat kontrak minyak berdenominasi dolar menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain.
Di samping itu, pasar saat ini juga tengah memantau sektor minyak Venezuela menyusul pernyataan, Donald Trump bahwa Amerika Serikat akan mengelola industri tersebut pasca-penangkapan Presiden Nicolas Maduro.
Menurut sejumlah sumber perdagangan menyebutkan bahwa perusahaan trading Vitol telah menawarkan minyak Venezuela kepada pembeli di China, dengan diskon sekitar 5 dolar AS per barel terhadap harga patokan ICE Brent untuk pengiriman April.
Di sisi lain, China mencatatkan volume impor minyak mentah jenis Urals asal Rusia tertinggi sejak 2023.
Berdasarkan data pelayaran dan sumber perdagangan, minyak Rusia tersebut ditawarkan dengan harga yang lebih murah dibandingkan minyak Iran.
Lonjakan ini terjadi setelah pembeli utama sebelumnya, India, memangkas impor secara tajam akibat sanksi Barat, serta sebagai langkah antisipasi sebelum diberlakukannya larangan Uni Eropa terhadap produk olahan minyak Rusia.
Berita Terkait
-
Harga Minyak Mentah Indonesia Turun Jadi USD 62,63 di November, BBM Gimana?
-
Imbas Blokade Tanker Venezuela oleh AS, Harga Minyak Brent dan WTI Melonjak
-
Harga Minyak Dunia Turun, di Tengah Menguatnya Perdamaian Rusia-Ukraina
-
Harga Minyak Menguat Lagi: AS Bersiap Tambah Pencegatan Kapal Tanker Venezuela
-
Harga Minyak Melonjak: AS Sita Kapal Tanker di Lepas Pantai Venezuela
Terpopuler
- Malaysia Tegur Keras Menkeu Purbaya: Selat Malaka Bukan Hanya Milik Indonesia!
- Lipstik Merek Apa yang Tahan Lama? 5 Produk Lokal Ini Anti Luntur Seharian
- Warga 'Serbu' Lokasi Pembangunan Stadion Sudiang Makassar, Ancam Blokir Akses Pekerja
- Dexlite Mahal, 5 Pilihan Mobil Diesel Lawas yang Masih Aman Minum Biosolar
- Awas! Jakarta Gelap Gulita Besok Malam, Cek Daftar Lokasi Pemadaman Lampunya
Pilihan
-
Jadi Tersangka Pelecehan Santri, Benarkah Syekh Ahmad Al Misry Sudah Ditahan di Mesir?
-
Kopral Rico Pramudia Gugur, Menambah Daftar Prajurit TNI Korban Serangan Israel di Lebanon
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
Terkini
-
Narasi Pemerintah soal Harga Tiket Pesawat Naik 13 Persen Dinilai Menyesatkan
-
Kementan Pastikan Stok Daging Sapi Aman Jelang Idul Adha 2026
-
Mulai Hari Ini Pemerintah Tanggung PPN Tiket Pesawat Kelas Ekonomi
-
BRILink Agen Mekaar 426 Ribu, BRI Perluas Inklusi hingga Desa
-
BRI Consumer Expo 2026 Surabaya Tawarkan Promo Spesial dan Hiburan Musik
-
Hampir Separuh UMKM di Sektor Pangan, Masalah Pasar Masih Jadi Hambatan
-
OJK Perpanjang Batas Laporan Keuangan Asuransi hingga Juni 2026
-
OJK: Bank Bisa Penuhi Kebutuhan Valas Tanpa Bikin Rupiah Semakin Goyah
-
Harga Pangan Hari Ini: Cabai Rawit Tembus Rp64.050/Kg, Telur Ayam Nyaris Rp32 Ribu
-
Masih Harus Uji Coba, Status Bahan Bakar Bobibos Tunggu Kepastian Kategori BBN atau BBM