Bisnis / Energi
Selasa, 20 Januari 2026 | 12:17 WIB
Ilustrasi China. [Javier Quiroga/Unsplash]
Baca 10 detik
  • Harga minyak Brent dan WTI naik pada Selasa (20/1/2026) didorong optimisme permintaan pasca data ekonomi China melampaui estimasi.
  • Pasar mencermati ancaman tarif AS 10% terhadap Eropa per 1 Februari terkait sengketa Presiden Trump mengenai Greenland.
  • Penguatan harga juga didukung pelemahan dolar AS 0,3% akibat aksi jual menyikapi potensi konflik perdagangan internasional.

Hal ini terjadi akibat aksi jual dolar oleh pelaku pasar sebagai respons terhadap ancaman tarif yang terus dilontarkan Presiden Trump terkait isu Greenland.

Ilustrasi Greenland dan Presiden Donald Trump

Dolar AS turun 0,3 persen terhadap mata uang lainnya. Melemahnya dolar AS membuat kontrak minyak berdenominasi dolar menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain.

Di samping itu, pasar saat ini juga tengah memantau sektor minyak Venezuela menyusul pernyataan, Donald Trump bahwa Amerika Serikat akan mengelola industri tersebut pasca-penangkapan Presiden Nicolas Maduro.

Menurut sejumlah sumber perdagangan menyebutkan bahwa perusahaan trading Vitol telah menawarkan minyak Venezuela kepada pembeli di China, dengan diskon sekitar 5 dolar AS per barel terhadap harga patokan ICE Brent untuk pengiriman April.

Di sisi lain, China mencatatkan volume impor minyak mentah jenis Urals asal Rusia tertinggi sejak 2023.

Berdasarkan data pelayaran dan sumber perdagangan, minyak Rusia tersebut ditawarkan dengan harga yang lebih murah dibandingkan minyak Iran.

Lonjakan ini terjadi setelah pembeli utama sebelumnya, India, memangkas impor secara tajam akibat sanksi Barat, serta sebagai langkah antisipasi sebelum diberlakukannya larangan Uni Eropa terhadap produk olahan minyak Rusia.

Load More