- Pemerintah mengidentifikasi 68 kabupaten/kota rentan pangan, mayoritas berada di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
- Sugeng Harmono menyampaikan Indeks Ketahanan Pangan nasional berada di level 73, namun daerah 3T prioritas intervensi distribusi.
- Fokus penanganan mencakup penguatan aksesibilitas, bantuan pangan, serta program Koperasi Desa Merah Putih untuk stabilitas.
Suara.com - Pemerintah mengungkap masih terdapat puluhan daerah di Indonesia yang masuk kategori rentan pangan. Kerentanan itu banyak ditemukan di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) yang menghadapi persoalan aksesibilitas hingga keterbatasan pasokan.
Hal ini disampaikan Assisten Deputi Cadangan dan Bantuan Pangan Kemenko Pangan, Sugeng Harmono dalam acara CORE Outlook Sektoral bertajuk “Ketahanan Pangan Indonesia 2026: Dari Bencana ke Strategi”.
Dalam forum itu, perwakilan Kemenko Pangan, Sugeng, menyampaikan capaian Indeks Ketahanan Pangan nasional tahun ini berada di level 73. Namun di balik capaian tersebut, masih ada pekerjaan rumah yang dinilai cukup besar. Salah satunya terkait wilayah-wilayah yang masuk kategori rawan atau rentan pangan.
“Tadi memang ada daerah-daerah rawan atau rentan pangan. Ini tiap tahun dengan Indeks Ketahanan Pangan, itu penurunannya 12 persen. Jadi sekarang ada 68 kabupaten/kota yang ada rentan pangannya,” ujar Sugeng di Jakarta, Selasa (20/1/2026).
Ia menyebut sebagian besar wilayah rentan pangan itu berada di kawasan 3T. Daerah-daerah tersebut menjadi perhatian pemerintah karena membutuhkan intervensi lebih kuat, terutama dari sisi akses distribusi dan ketersediaan pangan.
“Memang sebagian besar masih di 3T, Bapak Ibu. Itu yang warna coklat, warna biru muda, nah itulah di Maluku, Papua, dan lain sebagainya, ada 21 kabupaten,” ucapnya.
Menurutnya, pemerintah menjadikan daerah-daerah tersebut sebagai prioritas untuk penanganan ketahanan pangan. Salah satu fokus yang didorong adalah memperkuat aksesibilitas agar rantai pasok pangan ke wilayah terpencil bisa lebih lancar.
“Itu yang jadi prioritas kita, terutama nanti untuk aksesibilitas tadi yang disampaikan oleh Ibu, dan juga nanti intervensi melalui salah satunya bantuan pangan,” kata Sugeng.
Sugeng juga menyinggung tantangan geografis dan kondisi wilayah menjadi faktor yang membuat penanganan kerentanan pangan tidak bisa disamakan antar daerah.
Di sejumlah kawasan 3T, keterbatasan infrastruktur menjadi kendala yang membuat harga pangan lebih mahal dan pasokan lebih mudah terganggu.
Baca Juga: Riset CORE Sebut Ekonomi RI Bisa Lebih Buruk di 2026, Apa Pemicunya
Selain akses distribusi, pemerintah juga menyiapkan strategi intervensi melalui berbagai program. Sugeng menekankan ketahanan pangan bukan hanya soal produksi, tetapi juga kemampuan masyarakat mengakses pangan dengan harga yang terjangkau.
Ia menyebut pemerintah terus mengawal sejumlah indikator terkait pangan. Selain Indeks Ketahanan Pangan, ada pula indikator lain yang ikut dipantau, seperti Prevalence of Undernourishment (POU) atau kecukupan gizi dan energi masyarakat.
“Dan POU, Prevalence of Undernourishment, jadi kecukupan gizi atau energi bagi masyarakat, targetnya 7,21 juga tercapai hampir sekitar 7 gitu,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Sugeng menegaskan agenda swasembada pangan tetap menjadi prioritas pemerintah. Namun, ia menekankan fokus pemerintah tidak hanya beras, melainkan juga komoditas lain yang menopang kebutuhan pangan nasional.
Ia menyinggung berbagai program yang saat ini berjalan, mulai dari penguatan cadangan pangan pemerintah, penguatan rantai pasok, hingga program bantuan pangan untuk menjangkau wilayah rentan.
Sugeng juga menyebut pemerintah menyiapkan langkah untuk memperkuat ekonomi masyarakat desa melalui program Koperasi Desa Merah Putih. Program itu diarahkan untuk memotong rantai pasok sekaligus meningkatkan akses pangan di tingkat desa.
Berita Terkait
-
Pemerintah Diminta Waspadai El Nino, Produksi Padi Terancam Turun
-
CORE Indonesia Soroti Harga Beras Mahal di Tengah Produksi Padi Meningkat
-
Ketika Kas Negara Tekor Rp 695 Triliun, Apa Urusannya dengan Anda?
-
Tak Perlu Mahal, Ini 5 Laptop Intel Core i7 Terbaik Desember 2025
-
Bencana Sumatera 2025 Tekan Ekonomi Nasional, Biaya Pemulihan Melonjak Puluhan Triliun Rupiah
Terpopuler
- 43 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 7 Maret 2026: Klaim 10 Ribu Gems dan Kartu Legenda
- 6 HP Terbaik di Bawah Rp1,5 Juta, Performa Awet untuk Jangka Panjang
- 8 Rekomendasi Moisturizer Terbaik untuk Mencerahkan Wajah Jelang Lebaran
- Langkah Progresif NTT: Program Baru Berhasil Hentikan Perdagangan Daging Anjing di Kupang
- Siapa Istri Zendhy Kusuma? Ini Profil Evi Santi Rahayu yang Polisikan Owner Bibi Kelinci
Pilihan
-
Selain Bupati, KPK Juga Gelandang Wabup Rejang Lebong ke Jakarta Usai OTT
-
Patuhi Perintah Trump, Australia Kasih Suaka ke 5 Pemain Timnas Putri Iran
-
Trump Umumkan Perang Lawan Iran 'Selesai' Usai Diskusi dengan Vladimir Putin
-
BREAKING NEWS: Mantan Pj Gubernur Sulsel Tersangka Korupsi Bibit Nanas
-
Trump Cetak Sejarah di AS: Presiden Pertama yang Berperang Tanpa Didukung Warganya
Terkini
-
Efek Ramadan, Penjualan Eceran Februari 2026 Diproyeksi Naik 4,4 Persen
-
Mengapa Konsumen Indonesia Tetap Optimistis saat Konflik Timur Tengah Bikin Dunia Gelisah?
-
Bahagia Terima BHR, Pengemudi Ojol: Bisa Buat Keperluan Anak
-
Pemerintah: Harga BBM Tidak Akan Naik hingga Lebaran
-
Jadwal dan Rute Jalan Tol Diskon selama Mudik dan Arus Balik 2026
-
THR Sudah Cair? Begini Cara Kelolanya Agar Dompet Gak Kiamat Usai Lebaran
-
Jasa Marga Proyeksikan 3,5 Juta Kendaran Wara-wiri Mudik di Jalan Tol
-
Kementerian ESDM Pastikan Stok BBM 21 Hari Cukup: Seperti Tandon, Sebelum Habis Sudah Diisi Lagi
-
Fitch Ratings Revisi Prospek 8 Perusahaan Indonesia ke 'Negatif'
-
IHSG Naik Tipis di Sesi I, 460 Saham Melonjak