- CORE memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 hanya mencapai 4,9 hingga 5,1 persen akibat melemahnya net ekspor.
- Kondisi ekonomi 2026 diperkirakan memburuk karena konsumsi rumah tangga dan investasi diprediksi tidak lebih baik dari 2025.
- Industrialisasi inklusif serta stabilitas politik dan keamanan menjadi kunci penting untuk mencapai lompatan pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Suara.com - CORE Indonesia memproyeksikan ekonomi Indonesia pada tahun 2026 belum bisa membaik, dengan pertumbuhan ekonomi di kisaran 4,9 persen hingga 5,1 persen.
Hal ini sesuai dengan riset CORE yang bertajuk 'Brief Report CORE Economi Outlook 2026'. Dalam riset itu, CORE menilai belum ada strategi yang membuat adanya akselerasi pertumbuhan meski relatif resilien.
Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal, memproyeksikan ekonomi RI bahkan mungkin lebih buruk pada 2026 dibandingkan 2025.
"Net ekspor akan turun, tetapi akan ada kenaikan marginal di spending pemerintah, konsumsi rumah tangga, dan investasi. Tapi, karena kenaikannya marginal, ini kemungkinan tidak bisa mengompensasi menyempitnya net ekspor," ujar Faisal dalam laporan yang diterima Suara.com, Jumat (28/11/2025).
Faisal mengungkapkan, kondisi memburuk ini terlihat dari indikator ekonomi RI ini mulai dari konsumsi rumah tangga dan investasi diperkirakan tidak lebih baik dari tahun 2025.
Sedangkan, dari sisi konsumsi, misalnya, pertumbuhan kredit konsumsi terus melemah sepanjang Februari hingga Oktober 2025.
Pada Februari pertumbuhan kredit konsumsi tumbuh 10,2 persen sementara pada Oktober melemah di level 6,9 persen secara tahunan. Beberapa indikator konsumsi kelas menengah juga belum menunjukkan pemulihan, seperti terkontraksinya penjualan rumah sedang dan besar, masing-masing turun 12 persen dan 23 persen pada Kuartal-III 2025.
Investasi Merosot
Dari sisi investasi, masuknya modal asing diperkirakan merosot pada 2025, dan berpotensi berlanjut pada 2026 jika tidak ada perubahan kebijakan yang mampu memulihkan kepercayaan investor.
Baca Juga: Forum Ekonomi KB Bank Hadirkan Tokoh Nasional Bahas Arah Ekonomi dan Investasi Jelang 2026
Sepanjang triwulan I hingga III 2025, pertumbuhan investasi asing merosot 1 persen, sementara investasi domestik meningkat 30 persen.
Meski demikian, Indonesia tetap bisa tumbuh jika pemerintah mendorong industrialisasi yang inklusif sebagai basis untukmenciptakan lompatan pertumbuhan ekonomi.
Hal ini sekaligus menjadi solusi atas kondisi Indonesia yang sudah terlalu lama terjebak dalam stagnasi pertumbuhan di level 5 persen.
"PR kita adalah, bahwa Indonesia tumbuh terlalu rendah dalam jangka lama, dan bahkan pertumbuhannya itu cenderung melambat," jelas ekonom senior Hendri Saparini.
Saran Strategi Pemerintah
Hendri menambahkan, kalau berkaca dari negara lain, lompatan ekonomi itu terjadi jika perekonomian didominasi oleh aktivitas di industri manufaktur. Maka itu, Hendri menyoroti industrialisasi adalah kunci jika Indonesia ingin mencapai lompatan pertumbuhan.
"Kalau kita lihat lesson-learned dari banyak negara, ternyata negara yang bisa melakukan lompatan ekonomi seperti Korea Selatan mereka bisa menjaga share industri manufaktur terhadap PDB di level yang sangat tinggi," bebernya.
Senada itu, Burhanuddin Muhtadi, Direktur Indikator Politik Indonesia, mengatakan bahwa untuk melakukan lompatan ekonomi, kunci utamanya adalah stabilitas politik dan keamanan.
"Idealnya pemerintah Indonesia mengikuti pendekatan diplomasi yang seimbang. Menjaga hubungan baik untuk semua kekuatan besar, tanpa terjebak dalam blok tertentu," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Gerbang Polda DIY Dirobohkan Massa Protes Kekerasan Aparat, Demonstran Corat-coret Tembok Markas
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- Setahun Andi Sudirman-Fatmawati Pimpin Sulsel, Pengamat: Kinerja Positif dan Tata Kelola Membaik
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
Pilihan
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
-
Hujan Gol, Timnas Indonesia Futsal Putri Ditahan Malaysia 4-4 di Piala AFF Futsal 2026
Terkini
-
Baznas Tetapkan Nisab Zakat 2026 Naik 7 Persen, Ini Alasannya
-
Ancaman Pelarangan Vape Dinilai Bisa Matikan UMKM dan Ratusan Ribu Lapangan Kerja
-
Perkuat Fondasi Kelistrikan Nasional, PLN Enjiniring Akselerasi Transformasi Digital dan SDM
-
Danantara Gaspol Bentuk Holding BUMN Maskapai, Target Semester I-2026 Rampung
-
Tekan Angka Kecelakaan Kerja, SMGR Catat Nihil Fatalitas di Seluruh Pabrik
-
Naik Tipis, CIMB Niaga Raup Laba Rp6,93 Triliun
-
OJK Restui Empat BPR di Priangan Timur Digabungkan, Apa Untungnya?
-
RI Boncos! Ini Alasan AS Tetapkan Tarif 104 Persen Produk Panel Surya Indonesia
-
Optimalkan Jualan Online, UMKM Kue Kering Alami Lonjakan Pesanan hingga 100% Jelang Lebaran
-
Harga Emas 27 Februari 2026 di Pegadaian Stabil, Saatnya Beli?