- Rupiah melemah signifikan 0,39% pada Rabu (29/1/2026), dibuka di level Rp16.788 per dolar AS.
- Pelemahan rupiah dipicu sentimen global karena indeks dolar AS menguat setelah pernyataan Powell lebih hawkish.
- Analis memprediksi pelemahan berlanjut di kisaran Rp16.700–16.800 kecuali Bank Indonesia melakukan intervensi.
Suara.com - Nilai tukar berbalik melemah pada penbukaan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar Rabu (29/1/2026) dibuka Rp16.788 per dolar Amerika Serikat (AS).
Pelemahan ini membuat mata uang garuda masuk di zona merah. Alhasil, rupiah melemah 0,39 persen dibanding penutupan pada Rabu yang berada di level Rp16.722 dolar AS.
Sedangkan, kurs Jisdor Bank Indonesia tercatat di Rp16.723 per dolar AS. Sementara itu, pergerakan mata uang Asia sebagian bervariasi.
Salah satunya, ringgit Malaysia mayoritas mata uang di Asia melemah dengan ringgit Malaysia turun paling dalam setelah ambles 0,28 persen.
Selanjutnya, ada baht Thailand yang tertekan 0,18 persen dan peso Filipina terkoreksi 0,16 persen. Disusul, dolar Taiwan terdepresiasi 0,09 persen.
Berikutnya dolar Singapura tergelincir 0,04 persen dan yuan China turun 0,02 persen. Lalu dolar Hongkong melemah tipis 0,01 persen.
Dalam hal ini, Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pelemahan rupiah terhadap dolar AS dikarenakan sentimen global. Apalagi, indek dolar AS mengalami rebound.
"Rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dolar AS yang rebound setelah dalam FOMC, Powell memberikan pernyataan yang lebih hawkish dari harapan," katanya saat dihubungi Suara.com.
Kata dia, pelemahan rupiah juga dipengaruhi oleh Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang melemah. Hal ini membuat investor panik.
Baca Juga: Setelah MSCI, Goldman Sachs Perburuk Kondisi Pasar Modal RI
"Investor juga mengantisipasi dan mewaspadai ekuitas domestik yang dimana terjadi sell-off kemarin. Range Rp16.700-16.800. Rupiah diperkirakan tetap akan melemah hingga penutupan kecuali adanya intervensi dari BI," tandasnya.
Berita Terkait
-
Keponakan Prabowo Jadi Deputi BI, INDEF: Pasar Keuangan Pasang Mode Waspada Tinggi
-
Pencabutan Izin Tambang Gerus Saham-saham Big Caps, IHSG Masih di Level 8.900
-
Purbaya Ungkap Alasan Rupiah Menguat: Bukan Karena Thomas Djiwandono
-
Rupiah Masih Tekan Dolar AS, Melesat ke Level Rp 16.768/USD
-
Daftar Saham LQ45, IDX30, dan IDX80 Terbaru: BREN, CUAN Hingga BUMI Masuk
Terpopuler
- 5 Rekomendasi HP 5G Paling Murah Januari 2026, Harga Mulai Rp1 Jutaan!
- Polisi Ungkap Fakta Baru Kematian Lula Lahfah, Reza Arap Diduga Ada di TKP
- 5 Rekomendasi HP Memori 256 GB Paling Murah, Kapasitas Lega, Anti Lag Harga Mulai Rp1 Jutaan
- Jalan Rusak Parah, Warga Kulon Progo Pasang Spanduk Protes: 'Ini Jalan atau Cobaan?'
- 5 Mobil Bekas 80 Jutaan dengan Pajak Murah, Irit dan Nyaman untuk Harian
Pilihan
-
10 Sneakers Putih Ikonik untuk Gaya Kasual yang Tak Pernah Ketinggalan Zaman, Wajib Punya
-
Bursa Saham Indonesia Tidak Siap? BEI Klarifikasi Masalah Data yang Diminta MSCI
-
Menperin Pastikan Industri Susu Nasional Kecipratan Proyek MBG
-
MSCI Melihat 'Bandit' di Pasar Saham RI?
-
Harga Emas di Palembang Nyaris Rp17 Juta per Suku, Warga Menunda Membeli
Terkini
-
Setelah MSCI, Goldman Sachs Perburuk Kondisi Pasar Modal RI
-
Danantara Incar Laba BUMN Rp 350 Triliun di 2026
-
Ekonomi Indonesia Bakal Meroket, Bos BI Minta Pengusaha Berhenti Wait and See
-
IHSG Masih Nyaman Turun di Kamis Pagi, Balik ke Level 7.800
-
OJK Temukan Dugaan Penyaluran Dana Fiktif di PT Crowde Membangun Bangsa
-
IHSG Anjlok, Bos BEI Minta Danantara Masuk Cepat ke Pasar Modal?
-
Benarkah Tembakau Alternatif jadi Jalan Keluar Kebiasaan Merokok?
-
BUMN Ini Dulu Hanya Percetakan, Kini Bertransformasi jadi Raksasa Teknologi Keamanan Digital RI
-
Profil Dewan Energi Nasional, Ini tugas dan Tanggung Jawabnya
-
Bursa Saham Indonesia Tidak Siap? BEI Klarifikasi Masalah Data yang Diminta MSCI