Suara.com - Dalam peta pasar modal Indonesia, nama Prajogo Pangestu tetap menjadi figur yang kerap memicu perhatian. Ia dikenal sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia.
Sebagai pendiri Barito Pacific Group, Prajogo berhasil mentransformasi bisnisnya dari sektor perkayuan menjadi konglomerasi lintas industri yang mencakup petrokimia, energi terbarukan, hingga pertambangan.
Keberhasilannya membawa sejumlah emiten melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) menjadikannya salah satu orang terkaya di dunia dengan estimasi kekayaan bersih mencapai US$ 36-38 miliar atau melampaui Rp 600 triliun.
Portofolio Saham Barito Group
Hingga saat ini, kekuasaan bisnis Prajogo Pangestu di pasar modal didominasi oleh empat emiten utama, ditambah dengan beberapa anak usaha strategis. Berikut adalah rincian portofolio saham yang terafiliasi dengan beliau:
PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN): Fokus pada sektor energi baru terbarukan, khususnya panas bumi.
PT Barito Pacific Tbk (BRPT): Entitas induk (holding) yang menaungi bisnis petrokimia, energi, dan properti.
PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA): Raksasa petrokimia terbesar yang menjadi tulang punggung industri hilir Indonesia.
PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN): Lini bisnis yang bergerak di sektor pertambangan batu bara dan emas.
Baca Juga: OJK Pastikan Reformasi Pasar Modal Tetap Berjalan di Tengah Transisi Kepemimpinan
PT Petrosea Tbk (PTRO): Perusahaan jasa pertambangan dan konstruksi yang baru diakuisisi beberapa waktu lalu.
PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA): Anak usaha terbaru di sektor infrastruktur dan energi yang melakukan IPO pada 2025.
PT Gozco Plantations Tbk (GZCO): Emiten yang bergerak di sektor perkebunan kelapa sawit.
Rekam Jejak Karier: Dari Bengkayang Menuju Puncak Dunia
Perjalanan hidup pria kelahiran Bengkayang, 13 Mei 1944 ini seringkali menjadi inspirasi di dunia bisnis. Lahir dengan nama Phang Djoen Phen dari keluarga sederhana, Prajogo muda hanya menamatkan jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Sebelum merajai bursa saham, ia pernah menjalani profesi sebagai sopir angkutan kota rute Singkawang-Pontianak pada era 1960-an.
Titik balik hidupnya terjadi saat ia bertemu pengusaha kayu asal Malaysia, Burhan Uray. Bergabung dengan Djajanti Group menjadi pintu masuknya ke dunia industri perkayuan.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi HP POCO RAM Besar dan Kamera Bagus, Cek di Sini!
- Promo Alfamart Hari Ini 30 April 2026, Tebus Suka Suka Diskon 60 Persen
- 5 HP Terbaru 2026 Baterai Jumbo 10.000 mAh: Tahan 3 Hari, Performa Kencang
- 5 Sepatu Lari Diadora Diskon 50 Persen di Sports Station, Harga Jadi Rp200 Ribuan
- 5 Cushion Matte untuk Menutupi Bekas Jerawat dan Noda Hitam, Harga Terjangkau
Pilihan
-
RESMI! Klub Milik Prabowo Subianto Promosi ke Super League
-
Dibayar Rp50 Ribu Sebulan, Guru Ngaji di Kampung Tak Terjamah Sistem Pendidikan
-
10 Spot Wisata Paling Hits di Solo 2026: Paduan Sempurna Budaya, Estetika, dan Gaya Hidup Modern!
-
7 Sabun Mandi Cair Wangi Mewah yang Bikin Rileks Setelah Pulang Kerja, Ada yang Mirip Aroma Spa
-
Mantan Istri Andre Taulany Dilaporkan ke Polisi, Diduga Aniaya Karyawan
Terkini
-
SPBU Swasta Naikkan Harga BBM, Pertamina Bakal Ikutan?
-
Danantara Evaluasi Peluang Investasi Strategis, Potongan Komisi Ojol Ditarget Turun Jadi 8 Persen
-
Dasco: Kita Bikin UU Ketenagakerjaan yang Baru, Silakan Buruh yang 'Masak'
-
Dasco: Pemerintah Akan Ambilalih 'Perusahan Sakit' agar Tak Ada PHK Buruh
-
Minyak Mentah Rusia Segera Masuk RI, Bahlil Pastikan Stok BBM Nasional Aman
-
BNI Konsisten Dorong Pemerataan Pendidikan Lewat Beasiswa Nasional
-
BPJS Kesehatan - Persi Perkuat Kolaborasi Strategis Keberlanjutan Program JKN untuk 5 Tahun ke Depan
-
Penguatan Ekonomi UMKM Batik di Giriloyo Melalui 'Diplomasi' Pasar Global
-
Kolaborasi Developer PT CGIS dengan BRI, Program PKS Permudah Akses Wujudkan Rumah Impian
-
Bukan Cuma Denda Rp100 Ribu, Ini Risiko Jika Kamu Tidak Lapor SPT Tahunan