- Kepala Pusat Makroekonomi Indef menilai utang luar negeri Indonesia sebesar Rp7.784 triliun masih aman dan terkendali hingga Juni 2026.
- Stabilitas utang bergantung pada rasio terhadap PDB, tenor jangka panjang, serta kemampuan pemerintah dalam memenuhi kewajiban pembayaran tepat waktu.
- Pemerintah disarankan memperkuat penerimaan pajak dan ekspor untuk mengurangi ketergantungan utang serta menjaga stabilitas nilai tukar rupiah ke depan.
Suara.com - Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Rizal Taufikurahman, menilai utang luar negeri (ULN) Indonesia yang mencapai sekitar Rp7.784 triliun masih aman.
Kondisi belum dapat dikatakan mengkhawatirkan hanya dari sisi nominalnya. Pasalnya, yang lebih penting adalah indikator keberlanjutannya.
Mulai dari rasio ULN terhadap PDB yang masih sekitar 30 persen , struktur utang yang didominasi tenor jangka panjang, serta kemampuan pemerintah memenuhi kewajiban pembayaran.
"Namun, tren kenaikan utang tetap perlu diwaspadai karena berpotensi meningkatkan beban bunga dan mempersempit ruang fiskal di masa depan," katanya saat dihubungi Suara.com, Rabu (17/6/2026).
Dia menerangkan, besarnya ULN juga tidak otomatis membuat rupiah melemah. Nilai tukar lebih dipengaruhi oleh fundamental ekonomi, arus modal asing, dan ketersediaan devisa.
Namun, jika kebutuhan pembayaran utang valas terus meningkat tanpa diimbangi pertumbuhan ekspor dan investasi, bisa menekan rupiah.
"Tekan terhadap rupiah dapat semakin besar karena permintaan dolar AS ikut meningkat," ucapnya.
Untuk itu, pemerintah perlu mengurangi ketergantungan pada utang dengan memperkuat penerimaan pajak, meningkatkan efisiensi belanja negara, serta mendorong investasi dan ekspor bernilai tambah.
Pendalaman pasar keuangan domestik juga penting agar kebutuhan pembiayaan pembangunan lebih banyak berasal dari sumber dalam negeri daripada pinjaman luar negeri.
Baca Juga: Utang Luar Negeri Membengkak Tembus Rp7.784 Triliun, Pemerintah Fokus Biayai 3 Sektor Ini
Dengan demikian, persoalannya bukan terletak pada besarnya utang, tetapi pada kualitas pemanfaatannya.
Sebaliknya, jika utang terus bertambah tanpa meningkatkan produktivitas ekonomi, maka tekanan terhadap APBN dan stabilitas rupiah akan semakin besar dalam jangka panjang.
"Selama utang digunakan untuk kegiatan produktif yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kapasitas fiskal, risikonya masih dapat dikelola," pungkasnya.
Berita Terkait
-
Pengamat: Penjatahan BBM Subsidi Masih Wajar dan Efektif Tekan Konsumsi Energi
-
Rupiah Sudah Tembus Rp17.000, Bukan Tanda Ekonomi Indonesia Memburuk
-
Waspada! Utang RI Tembus Rp7.368 Triliun
-
Harga Minyak Tembus 100 dolar AS per Barrel, Harga BBM Bakal Naik?
-
Bank-bank Kecil Berguguran di Tahun 2026, Pertanda Apa?
Terpopuler
- Aliansi BEM Bersatu: Mobil Fortuner Tiyo Ardianto Tercatat Milik Adik Letjen Purn Setyo Sularso
- Cara Mencari Sinyal TVRI di TV Digital dan TV Analog agar Bisa Nonton Siaran Piala Dunia 2026
- 4 SMA di Banten Terpilih Jadi Sekolah Unggul Garuda 2026, Ini Daftarnya
- Milk Cleanser Viva untuk Umur Berapa? Ini Penjelasan dan 5 Pilihan Variannya
- 4 Cushion Terbaik untuk Usia 40 Tahun ke Atas, Anti Crack Samarkan Garis Halus Seharian
Pilihan
-
Prediksi Argentina vs Aljazair: Head to Head, Susunan Pemain dan Fakta Menarik
-
Aksi di DPR Memanas! Peserta Demo Cipayung Menggugat Ngaku Dianiaya Polisi usai Ditangkap
-
Wasit Liga Indonesia 'Berulah', FIFA Investigasi Kemenangan Timnas Jerman vs Curacao
-
Mahasiswa Gelar Demo di DPR, Tagih Janji 19 Juta Lapangan Kerja dan Desak Hentikan MBG
-
Mau Aksi di Patung Kuda, Mahasiswa UBK Sempat Dihadang di Tugu Tani
Terkini
-
Rupiah Alami Pelemahan, Cek Harga Dolar AS di Bank Mandiri, BNI, BRI dan BCA
-
Cabai Rawit Makin Pedas di Kantong! Harga Tembus Rp82.300 per Kg
-
Rupiah Kembali Lesu, Dolar AS Merangkak Naik ke Level Rp17.738
-
Investor Ragu Komitmen Damai AS - Iran, Harga Minyak Dunia Merangkak Naik
-
IHSG Masih Dalam Tren Menguat, Pantau Saham BMRI
-
Pertimbangkan Jual, Harga Buyback Emas Antam Naik Tinggi Jadi Rp2.514.000/Gram
-
Melonjak 54,37%, BTN Bukukan Laba Bersih Rp1,85 Triliun Hingga Mei
-
Investor Kembali Borong Kripto, Harga Bitcon Tembus USD 65.900
-
Heboh Struk SPBU Tulis Harga Pertalite Rp18.040 per Liter, Pertamina: Itu Harga Keekonomian
-
Bank of Japan Pilih Lawan Inflasi, Suku Bunga Naik Tertinggi Sejak 1995 di Tengah Pelemahan Yen