Bisnis / Keuangan
Selasa, 03 Februari 2026 | 17:06 WIB
Mata uang rupiah dan dolar Amerika Serikat. [Antara]
Baca 10 detik
  • Rupiah menguat 0,24% ke Rp16.754 per dolar AS didorong optimisme pasar global.
  • Kesepakatan tarif AS-India dan net buy asing di IHSG jadi pemicu utama penguatan.
  • Pasar waspada konsolidasi menanti data PDB Indonesia dan NFP Amerika Serikat.

Suara.com - Mata uang Garuda menunjukkan taringnya pada penutupan perdagangan Selasa (3/2/2026). Nilai tukar rupiah sukses mendarat di posisi Rp16.754 per dolar AS, menguat 0,24% dibandingkan penutupan hari sebelumnya yang sempat tertahan di level Rp16.800.

Sementara itu, kurs referensi JISDOR Bank Indonesia turut mencatat penguatan di angka Rp16.776.

Penguatan ini tidak lepas dari mendinginnya tensi perdagangan global. Kesepakatan tarif antara Amerika Serikat dan India menjadi "obat kuat" bagi pasar, memicu optimisme investor atau fenomena risk-on.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebutkan bahwa selain faktor eksternal, kondisi dalam negeri juga mulai stabil.

"Meredanya sentimen negatif di pasar ekuitas domestik dengan kembalinya aksi beli bersih (net buy) oleh asing di IHSG turut menyokong posisi rupiah," ungkapnya.

Meski sedang dalam tren positif, penguatan ini diprediksi masih bersifat jangka pendek. Para pelaku pasar kini tengah memasang mode wait and see menanti dua rilis data raksasa dalam beberapa hari ke depan seperti rilis pertumbuhan PDB Kuartal IV (Q4) Indonesia data tenaga kerja Non-Farm Payroll (NFP) Amerika Serikat.

Dua data ini akan menjadi penentu apakah rupiah mampu melanjutkan reli atau justru kembali terkoreksi.

Load More