Suara.com - Kabar mengejutkan datang dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang memicu "gempa" di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Pada akhir Januari 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat anjlok hingga 8% dalam sehari, memicu penghentian perdagangan sementara (trading halt).
Penyebab utamanya adalah rapor merah dari MSCI terkait transparansi pasar modal kita. Jika Indonesia tidak segera berbenah hingga Mei 2026, status bursa kita terancam turun kasta dari Emerging Market (Pasar Berkembang) menjadi Frontier Market (Pasar Pemula).
Memahami Kriteria Klasifikasi Pasar MSCI
Untuk menentukan di mana posisi sebuah negara, MSCI menggunakan "buku panduan" ketat yang mencakup tiga pilar utama:
1. Perkembangan Ekonomi
Kriteria ini sebenarnya hanya menjadi penentu utama bagi negara yang ingin masuk ke level tertinggi, yaitu Developed Market (Pasar Maju).
Syaratnya cukup berat: pendapatan per kapita negara tersebut harus 25% di atas ambang batas pendapatan tinggi Bank Dunia selama tiga tahun berturut-turut.
Untuk kelas Frontier dan Emerging, MSCI cenderung lebih fleksibel soal pertumbuhan ekonomi selama syarat lainnya terpenuhi.
Baca Juga: IHSG Hari Ini: Sentimen Positif MSCI dan Bursa Saham Dunia yang 'Kebakaran'
2. Ukuran Perusahaan dan Likuiditas
MSCI melihat seberapa besar perusahaan di negara tersebut dan seberapa mudah sahamnya diperjualbelikan (likuiditas).
- Frontier: Hanya butuh minimal 1 perusahaan besar dengan kapitalisasi pasar sekitar US$155 juta.
- Emerging (Posisi Indonesia saat ini): Butuh minimal 3 perusahaan besar dengan nilai kapitalisasi pasar minimal US$2.964 juta.
- Developed: Harus memiliki minimal 5 perusahaan raksasa dengan nilai di atas US$5.928 juta.
Likuiditas juga diukur melalui Annualized Traded Value Ratio (ATVR). Pasar Maju menuntut perputaran uang yang sangat cepat (20% ATVR), sementara Pasar Pemula hanya butuh 2,5%.
3. Aksesibilitas Pasar
Inilah yang menjadi batu sandungan bagi Indonesia. Aksesibilitas mengukur seberapa nyaman investor asing berinvestasi di suatu negara. MSCI menyoroti lima poin:
- Keterbukaan terhadap kepemilikan asing.
- Kemudahan keluar-masuknya modal.
- Efisiensi operasional bursa.
- Ketersediaan instrumen investasi.
- Stabilitas kelembagaan.
Peta Kekuatan Pasar Modal Dunia
Berita Terkait
-
OJK Siap Koreksi Target IPO Usai Free Float Naik 15 Persen
-
Siapa Daud Tony? Viral Ramal Kejatuhan Saham dan Kripto, Harga Perak Meroket
-
Airlangga Girang, Modal Asing Mulai 'Mudik' ke Saham RI
-
Emiten BUMI Bangkit Kembali Setelah ARB, Siapa yang Borong Sahamnya?
-
IHSG Akhirnya Menguat 1,57% di Sesi I, Saham-saham Ini Bisa Dipantau
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Serum Malam untuk Hempas Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- Work to Run: 5 Sepatu Lari Hitam Polos yang Tetap Rapi di Kantor dan Nyaman Dipakai Lari
- 5 HP Redmi RAM 8 GB Memori 256 GB Termurah di Bawah Rp1,5 Juta, Spek Juara
Pilihan
-
Bejatnya Kiai Cabul Ashari di Pati: Ngaku Keturunan Nabi hingga Istri Orang Bebas Dicium
-
Mengungkap Jejak Pelarian Kiai Cabul Pati: Terendus Ritual di Kudus, Kini Raib Bak Ditelan Bumi
-
Diterpa Kontroversi dan Dilaporkan ke Bareskrim Terkait Ceramah JK, Ade Armando Mundur dari PSI
-
Lolos Blokade AS! Kapal Tanker Iran Rp 3,8 T Menuju Riau, Kemlu RI: Tak Langgar Hukum
-
Kapal Perang AS Dihantam 2 Rudal karena Coba Masuk Selat Hormuz, Klaim Iran
Terkini
-
Ekonomi Indonesia Melesat 5,61 Persen saat Rupiah Pecahkan Rekor Terlemah
-
Pertukaran Mata Uang dengan China dan Jepang Jadi Strategi Jaga Nilai Tukar Rupiah
-
Rupiah Masih Melemah Akibat Turunnya Surplus Perdagangan
-
Ikon Kota yang Terawat Bisa Menggerakkan Ekonomi, AVIA Ungkap Alasannya
-
Purbaya Bantah Ekonomi RI Seperti Krisis 1998: Ekonom Salah Prediksi, Kecele
-
Pemerintah Bidik Hilirisasi Industri demi Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen di 2029
-
Pelemahan Rupiah yang Terparah dalam Sejarah Bisa Picu Gagal Bayar dan PHK
-
Bahlil Tegaskan Tarif Listrik Tak Naik pada Mei
-
OJK: DSI Masih Nunggak Bayar Dana Nasabah Rp 2,4 Triliun
-
Ditopang Margin Kilang Minyak, Laba Barito Pacific (BRPT) Naik 803 Persen di Kuartal I-2026