Bisnis / Energi
Kamis, 12 Februari 2026 | 18:34 WIB
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyindir Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa saat bicara soal capaian lifting minyak pada 2025 lalu. [Antara]
Baca 10 detik
  • Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyindir Menteri Keuangan terkait target lifting minyak 2025 yang mencapai 605.000 barel per hari.
  • Capaian lifting minyak tersebut direalisasikan melalui optimalisasi teknologi dan reaktivasi sumur tua, bukan hanya sumur baru.
  • Komunikasi baik dengan KKKS, seperti di Blok Cepu, berhasil meningkatkan produksi minyak dari 150.000 menjadi 180.000 barel per hari.

Suara.com - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia kembali menyindir Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa soal lifting minyak 2025. Sindiran itu dilempar Bahlil ketika berbicara dalam acara “Strategi Swasembada Energi 2026: Hilirisasi, Transisi, dan Investasi” yang digelar di Jakarta, Kamis (12/2/2026).

Awalnya Bahlil mengeklaim bahwa lifting minyak 2025 mencapai target APBN Sebesar 605.000 barel per hari.

“Alhamdulillah lifting kita di 2025 mencapai target APBN sebesar 605.000 barel per hari. Jadi, ini fakta, bukan omon-omon,” ujar Bahlil.

Bahlil memaparkan capaian lifting minyak Indonesia terjadi karena berbagai strategi yang telah direalisasikan oleh pemerintah, seperti optimalisasi produksi menggunakan teknologi dan reaktivasi sumur-sumur tua.

Selain itu, Bahlil juga menegaskan pentingnya komunikasi antara pemerintah dengan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) atau perusahaan pengelola blok minyak dan gas bumi (migas) yang beroperasi di Indonesia.

“Kok ada salah satu anggota DPR dan salah satu menteri mengatakan bagaimana mungkin lifting naik sementara sumur besar belum ada? Dia lupa kalau kita itu komunikasi terus dengan KKKS,” sindir Bahlil.

Sebelumnya anggota Komisi XII DPR Cornelis menyoroti pernyataan Kepala SKK Migas Djoko Siswanto yang menerangkan kenaikan lifting migas pada tahun 2025. Berdasarkan paparan yang ia terima, kenaikan ini disebut menjadi yang pertama setelah bertahun-tahun sebelumnya selalu turun. Cornelis mengungkapkan kebingungannya terhadap perbedaan data lifting migas.

Sebelumnya Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa juga menyebut lifting migas hanya bisa naik dengan penambahan sumur baru. Di sisi lain, ia mengaku bingung terhadap perbedaan data yang disampaikan pemerintah.

Sementara Bahlil, dalam tanggapannya hari ini bilang, komunikasi KKKS adalah kunci meningkatkan lifting minyak. Ia mencontohkan peningkatan lifting minyak yang terjadi di Blok Cepu, Jawa Timur sebagai buah dari komunikasinya bersama ExxonMobil.

Baca Juga: Target Lifting Minyak Pertamina di 2025 Terlampaui, Pakar Bilang Begini

Pada tahun 2024, kata dia, produksi Exxon hanya mencapai 150 ribu barel per hari. Namun, pada 2025, Exxon berhasil mempercepat pengeboran tujuh sumur di Blok Cepu, Bojonegoro, Jawa Timur, menjadi semester I tahun 2025 atau 10 bulan lebih cepat dari jadwal semula.

Sebelum penambahan, Lapangan Banyu Urip di Blok Cepu memproduksi 150.000 barel per hari. Kini, angkanya naik menjadi 180.000 barel atau setara dengan 25 persen lifting minyak nasional.

“Dengan komunikasi yang baik, dengan win-win (solution), lifting mereka dari 150.000 (barel per hari) sekarang sudah bisa mencapai puncaknya itu 180.000 barel per hari. Rata-rata mereka itu di 175.000 barel per hari,” ucap Bahlil.

Oleh karena itu, Bahlil kembali menegaskan bahwasanya tidak menemukan sumur baru bukan berarti tidak bisa menaikkan lifting minyak.

Berdasarkan data Kementerian ESDM, sepanjang tahun 2025 rata-rata lifting minyak bumi (termasuk Natural Gas Liquid/NGL) mencapai 605,300 barel per hari Angka tersebut melebihi target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 yang sebesar 605.000 barel per hari.

Tanpa NGL, lifting minyak pada 2025 sebesar 581,600 barel per hari. Sedangkan, pada 2024, pencapaian lifting minyak mentah berada di angka 579,300 barel per hari.

Load More