- Kemenkeu dan Pemkot Surakarta membangun 56 unit rumah layak huni di Kelurahan Sangkrah melalui program TJSL BUMN.
- Program senilai Rp4,48 miliar ini dipimpin PT SMF dan melibatkan beberapa Special Mission Vehicle (SMV) Kemenkeu.
- Sebanyak 37 rumah telah ditempati warga, sementara 19 unit sisanya ditargetkan rampung pembangunan pada Juni-Juli 2026.
Suara.com - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) bersama Pemerintah Kota Surakarta menyulap kawasan kumuh di Kelurahan Sangkrah, Surakarta, dengan membangun 56 unit rumah layak huni.
Pembangunan ini dilakukan oleh Special Mission Vehicle (SMV) atau BUMN di bawah naungan Kemenkeu dengan joint program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).
Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Suahasil Nazara bercerita kalau kawasan kumuh itu awalnya adalah bantaran sungai. Ia menilai lokasi tersebut perlu ditata dengan baik karena masyarakat yang tinggal di sana juga memiliki hak untuk tinggal.
Berlatar dari sana, Sua menyatakan kalau BUMN di bawah Kemenkeu melihat ini sebagai peluang untuk kontribusi membangun hunian layak.
"Saya sangat berbesar hati bahwa tanggung jawab sosial dan lingkungan yang dijalankan oleh badan usaha kita bisa memberikan dampak kepada masyarakat secara langsung," kata Sua saat konferensi pers di Surakarta, Jawa Tengah, Kamis (12/2/2026).
Adapun SMV Kemenkeu yang terlibat dalam pembangunan rumah ini meliputi PT Sarana Multigriya Finansial (PT SMF), PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PT PII), PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI), hingga PT Geo Dipa Energi. Program ini sendiri dipimpin oleh PT SMF.
Dari total 56 unit rumah yang dibangun, sebanyak 37 unit sudah mulai ditempati warga. Sedangkan 19 unit rumah sisanya masih dalam proses pembangunan yang ditargetkan selesai Juni-Juli 2026.
Program senilai Rp 4,48 miliar ini diperuntukkan bagi 56 kepala keluarga penerima manfaat. Masing-masing rumah dibangun dengan konsep dua lantai di atas lahan seluas 20 m persegi, dengan luas bangunan 40 m persegi.
Rincinya, ukuran luas rumah yakni 4m x 5m dengan tipe dua lantai siteplan yang menyesuaikan kondisi lahan. Ada yang kopel (berhimpitan saling membelakangi), ada pula yang tidak kopel dan berderet.
Baca Juga: Misteri Pesugihan Kandang Bubrah dan Tumbal Manusia
Berita Terkait
-
Misteri Pesugihan Kandang Bubrah dan Tumbal Manusia
-
BPDP Ungkap Penerimaan Ekspor Sawit Tembus Rp 31 Triliun di 2025
-
Algojo Algoritma: Saat 11 Juta Peserta BPJS PBI Dicoret Demi Rapikan Data
-
Ayu Ting Ting Masuk Rumah Sakit, Sempat Alami Demam hingga Tekanan Darah Rendah
-
Sinopsis Film Rumah Tanpa Cahaya: Saat Kehilangan Ibu Mengubah Arti Rumah
Terpopuler
- Berapa Harga Sewa Pendopo Soimah? Ini Fasilitas Pendopo Tulungo
- 7 Lipstik Lokal Murah dan Awet, Transferproof Meski Dipakai Makan dan Minum
- 7 Cushion Anti Oksidasi untuk Usia 50 Tahun, Ringan di Wajah dan Bikin Tampak Lebih Muda
- 5 HP Android dengan Kualitas Kamera Setara iPhone 15
- Apakah Produk Viva Memiliki Sunscreen? Segini Harga dan Cara Pakainya
Pilihan
-
Keluar Kau Setan! Ricuh di Pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping
-
Jauh di Bawah Tuntutan Jaksa, Eks Konsultan Kemendikbud Kasus Chromebook Hanya Divonis 4 Tahun
-
Tok! Eks Konsultan Kemendikbudristek Ibam Divonis 4 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook
-
Fenomena Tim Musafir Masih Hiasi Super League, Ketegasan PSSI dan I.League Dipertanyakan
-
Nyanyi Bareng Jakarta: Melodi Penenang bagi Jiwa yang Terpapar Debu Ibu Kota
Terkini
-
Purbaya Ramal Perang AS vs Iran Berakhir September 2026
-
Sempat Tolak, Ini Alasan Purbaya Akhirnya Kasih Insentif Mobil Listrik
-
Bank Indonesia dan Bank Negara Malaysia Perkuat Sektor Moneter dan Sistem Pembayaran
-
Warga Jabodetabek Kabur Liburan, Kendaraan Padati Jalan Tol
-
Alasan Panas Bumi Jadi Pusat Pengembangan Energi terbarukan
-
Kemenhub Restui Maskapai Naikkan Fuel Surchage 50%, Tiket Pesawat Ikut Melonjak?
-
BI Prediksi Kinerja Penjualan Eceran April 2026 Tetap Kuat, Kelompok Suku Cadang Jadi Penopang
-
BRI KPR Solusi Permudah Miliki Rumah dan Properti Lelang dengan Cicilan Fleksibel
-
Ada Nama Baru di Jajaran Direksi Garuda Indonesia, Dua WNA Masih Menjabat
-
Industri Rokok Dinilai Jadi Penopang Lapangan Kerja dan Penerimaan Negara