- Lie Halim mengundurkan diri dari jabatan Direktur Utama PT MDTV Media Technologies Tbk pada 20 Februari 2026.
- Pengunduran diri ini akan disahkan melalui RUPS dan tidak berdampak pada kelangsungan bisnis maupun keuangan perseroan.
- Hingga kuartal ketiga 2025, NETV mencatatkan rugi bersih sebesar Rp137,07 miliar akibat merosotnya pendapatan iklan.
Suara.com - Emiten media, PT MDTV Media Technologies Tbk. (NETV), mengumumkan pengunduran diri Direktur Utama, Lie Halim dari jabatannya. Pengunduran diri Lie Halim ini diungkap setelah dirinya mengirim sepucuk surat kepada manajemen.
"Pada tanggal 20 Februari 2026, Perseroan telah menerima surat pengunduran diri dari Bapak Lie Halim selaku Direktur Utama Perseroan," tulis Corporate Secreatry NETV, Cecil Samantha Sasmita seperti dikutip dari keterbukaan informasi, Senin (23/2/2026).
Cecil mengungkapkan, Lie Halim akan resmi meninggalkan perseroan setelah Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
Adapun, Perseroan akan menyelenggarakan RUPS untuk menindaklanjuti pengunduran diri tersebut paling lambat dalam jangka waktu 90 hari, sesuai dengan ketentuan Peraturan OJK No. 33/POJK.04/2014.
Ia juga menegaskan, pengunduran diri Lie Halim secara tiba-tiba ini tidak memiliki dampak terhadap kondisi keuangan maupun kelangsungan usaha Perseroan.
Untuk diketahui, PT MDTV Media Technologies Tbk (NETV) masih mencatatkan tekanan kinerja hingga kuartal III 2025. Berdasarkan laporan keuangan per 30 September 2025, perseroan membukukan rugi bersih sebesar Rp137,07 miliar.
Kinerja tersebut berbalik dari periode yang sama tahun sebelumnya, di mana perusahaan sempat mencatatkan laba bersih. Penurunan signifikan pada sisi pendapatan menjadi faktor utama yang menekan bottom line perseroan.
Sepanjang sembilan bulan pertama 2025, NETV mencatatkan pendapatan sebesar Rp64,88 miliar. Angka ini merosot lebih dari 60 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Tekanan terutama berasal dari melemahnya pendapatan iklan, baik dari segmen televisi maupun digital. Penurunan pendapatan tersebut belum sepenuhnya diimbangi oleh efisiensi beban operasional, sehingga perseroan masih mencatatkan kerugian.
Baca Juga: OJK Siapkan Tanda Khusus Bagi Emiten Tak Penuhi Free Float, Paksa Transparansi atau Delisting?
Dari sisi neraca, total aset perseroan tercatat mengalami penyusutan dibandingkan periode sebelumnya. Sementara itu, posisi liabilitas menunjukkan peningkatan, mencerminkan tantangan likuiditas yang masih dihadapi perusahaan
Berita Terkait
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Bupati Kulon Progo Hapus Logo Geblek Renteng hingga Wajibkan Sekolah Pasang Foto Kepala Daerah
- Cerita Eks Real Madrid Masuk Islam di Ramadan 2026, Langsung Bersimpuh ke Baitullah
- Desa di Kebumen Ini Ubah Limbah Jadi Rupiah
- Sosok Arya Iwantoro Suami Dwi Sasetyaningtyas, Alumni LPDP Diduga Langgar Aturan Pengabdian
Pilihan
-
Kasus Pembakaran Tenda Polda DIY: Perdana Arie Divonis 5 Bulan, Hakim Perintahkan Bebas
-
Bikin APBD Loyo! Anak Buah Purbaya Minta Pemerintah Daerah Stop Kenaikan TPP ASN
-
22 Tanya Jawab Penjelasan Pemerintah soal Deal Dagang RI-AS: Tarif, Baju Bekas, hingga Miras
-
Zinedine Zidane Comeback! Sepakat Latih Timnas Prancis Usai Piala Dunia 2026
-
Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
Terkini
-
Impor 105 Ribu Pikap India PT Agrinas Dianggap Berlawanan dengan Program Prabowo
-
Cara Cetak Emas di Pegadaian Terbaru Lengkap Syarat, Biaya, dan Alurnya
-
Bulog Mulai Kirim Beras ke Arab Saudi pada 28 Februari
-
Defisit APBN Capai Rp 54,6 T per Januari 2026, Purbaya Klaim Masih Terkendali
-
Ekonom: Tarif Impor AS Bisa Tekan Rupiah dan Picu Kenaikan Harga Dalam Negeri
-
Harga Bitcoin Anjlok ke Level Terburuk Februari Imbas Tarif Trump
-
7 Fakta Penting di Balik Proses Demutualisasi Bursa Efek Indonesia
-
IHSG Menghijau 1,35% di Sesi I, 480 Saham Melesat
-
Pengendali Borong 4,49 Miliar Saham BUKA, Rogoh Kocek Rp674 Miliar
-
File APK Berkedok Undangan Kuras Rekening di Batang, Pakar: Nasabah Harus Lebih Awas