- PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) meluncurkan LADI, indikator akumulasi/distribusi saham real-time pertama bagi investor ritel Indonesia.
- LADI diklaim menawarkan standar baru melalui indikator berbasis streaming data, mengatasi kelemahan data historis aplikasi trading mayoritas.
- IPOT mengembangkan engine LADI secara internal, mendemokratisasikan teknologi trading institusional yang sebelumnya sulit diakses ritel.
Suara.com - Di tengah lonjakan investor ritel dalam beberapa tahun terakhir, standar teknologi aplikasi trading dinilai belum sepenuhnya naik kelas. Mayoritas platform masih beroperasi sebagai data viewer menampilkan indikator berbasis data historis atau snapshot bukan engine analitik berbasis streaming real-time.
Di tengah kondisi tersebut, PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) meluncurkan versi terbaru LADI (Live Accumulation/Distribution Indicator), indikator akumulasi dan distribusi saham berbasis data yang terbaru atau real-time yang diklaim menjadi yang pertama dan satu-satunya tersedia bagi investor ritel di Indonesia.
Peluncuran ini bukan sekadar penambahan fitur. IPOT secara terbuka menyoroti kelemahan struktural sebagian besar aplikasi sekuritas yang masih mengandalkan indikator berbasis data masa lalu. Padahal, pasar saham bergerak setiap detik.
IPOT menyebut LADI menghadirkan standar baru melalui indikator berbasis streaming data, memungkinkan investor memantau beberapa saham dalam satu layar, membandingkan performa 1D, 1M, 1Y, YTD hingga 10Y secara dinamis, serta mendeteksi tekanan akumulasi dan distribusi tanpa delay.
President Director & CEO PT Indo Premier Sekuritas, Moleonoto The, menegaskan urgensi kecepatan dalam membaca pasar.
"Pasar bergerak setiap detik. Jika indikator yang digunakan investor tidak bergerak secepat pasar, maka akan muncul gap antara realitas dan persepsi. Dalam trading, gap tersebut dapat berarti masuk setelah momentum selesai atau keluar setelah distribusi terjadi," ujarnya seperti dikutip, Rabu (25/2/2026).
Menurut IPOT, penggunaan indikator non-real-time bukan sekadar keterbatasan fitur, melainkan memiliki implikasi risiko nyata.
Keterlambatan membaca fase akumulasi atau distribusi berpotensi membuat investor masuk ketika momentum hampir berakhir, atau keluar setelah distribusi berlangsung.
Selain itu, indikator berbasis data historis dinilai dapat memunculkan false sense of timing. Investor merasa telah membaca sinyal pasar, padahal indikator merepresentasikan kondisi masa lalu, bukan tekanan transaksi yang sedang berlangsung.
Baca Juga: Skandal Manipulasi, Ini Saham-saham yang 'Digoreng' Belvin
Dalam pasar yang volatil, pendekatan reaktif berbasis harga tanpa visibilitas tekanan underlying secara langsung dinilai meningkatkan risiko kesalahan eksekusi. Apalagi jika investor harus berpindah halaman untuk melakukan verifikasi tambahan karena tidak terintegrasi dalam satu tampilan.
IPOT menilai, jika pasar bergerak real-time, maka indikator juga seharusnya real-time. Namun mengembangkan sistem semacam itu bukan perkara sederhana.
Dibutuhkan infrastruktur data streaming berkecepatan tinggi, sistem low-latency, kemampuan algorithmic coding presisi tinggi, hingga tim kuantitatif internal untuk merancang dan menguji model analitik secara berkelanjutan.
Banyak platform memilih bertahan pada model data viewer karena lebih ringan dan sederhana secara sistem. IPOT justru mengambil jalur berbeda dengan membangun engine algoritmik LADI secara internal agar indikator diperbarui secara kontinu mengikuti transaksi yang terjadi di pasar.
Accummulation/Distribution Indicator sendiri lazim digunakan dalam trading institusional untuk membaca tekanan beli dan jual sebelum sepenuhnya tercermin dalam harga. Dengan menghadirkan LADI ke investor ritel, IPOT menyebut langkah ini sebagai bentuk demokratisasi teknologi institutional-grade.
Langkah tersebut sekaligus menandai pergeseran paradigma industri sekuritas, dari kompetisi berbasis kemudahan tampilan menuju kompetisi berbasis kualitas engine analitik.
"Investor berhak mendapatkan teknologi yang selaras dengan dinamika pasar. Jika pasar bergerak real-time, indikator seharusnya juga real-time," pungkas Moleonoto.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
- Arya Iwantoro Anak Siapa? Ternyata Ayahnya Eks Sekjen Kementan yang Pernah Diperiksa KPK!
- Usut Kematian Nizam Syafei yang Disiksa Ibu Tiri, Video di Ponsel Korban akan Diperiksa
- 7 Skema Suami Dwi Sasetyaningtyas Kembalikan Dana Beasiswa LPDP
Pilihan
-
Debut Berujung Duka, Pemain Senegal Meninggal Dunia Usai Kolaps di Lapangan
-
Di Tengah Jalan Raya, Massa Polda DIY Gelar Salat Gaib Massal untuk Korban Represi Aparat
-
Massa Aksi di Depan Polda DIY Dibubarkan Paksa oleh Sekelompok Orang Berpakaian Sipil
-
5 Fakta Mencekam Demo di Mapolda DIY: Gerbang Roboh hingga Ledakan Misterius
-
Suasana Mencekam di Depan Polda DIY, Massa Berhamburan Usai Terdengar Ledakan
Terkini
-
Ma'ruf Amin Respons Menkeu Purbaya soal Mahalnya Bank Syariah
-
Tak Ada Lagi Alasan, Kemenperin Desak Industri Baja Segera Kantongi SNI
-
Harga Emas Pegadaian Rabu 25 Februari 2026, Galeri 24 Lebih Murah dari UBS
-
BKPM Permudah Izin KKPR Darat bagi Usaha Mikro
-
Orang Kaya RI Pilih Pindah ke Tangerang, Ini Buktinya.
-
Skandal Manipulasi, Ini Saham-saham yang 'Digoreng' Belvin
-
BEI Gembok Wanteg Sekuritas, Nasabah Tidak Bisa Transaksi
-
LPS Tuntaskan Likuidasi BPR Prima Master Bank, 88 Persen Rekening Nasabah Sudah Dibayarkan
-
Indodax Luncurkan Program Spesial di Momen Ramadan 2026
-
Menhub Pastikan Diskon Tiket Pesawat Libur Lebaran 2026 Tak Kuras Kantong Maskapai