- BPS berencana mengungkap fenomena Rohana dan Rojali" sebagai perubahan pola aktivitas ekonomi masyarakat pada Sensus Ekonomi 2026.
- Sensus Ekonomi 2026 yang dilaksanakan Mei hingga Juli bertujuan membaca struktur ekonomi baru pasca-COVID yang tidak terlihat fisik.
- BPS akan menggunakan pendekatan pendataan rumah tangga guna menelusuri aktivitas ekonomi digital yang tidak tercatat pada metode lama.
Suara.com - Badan Pusat Statistik (BPS) menyinggung soal fenomena rombongan hanya nanya (rohana) dan rombongan jarang beli (rojali) di pusat perbelanjaan yang belakangan ramai dibicarakan. Hal ini dianggap sebagai perubahan pola aktivitas ekonomi masyarakat.
Untuk itu, BPS berencana mengungkap fenomena ini dalam pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 yang dilaksanakan bulan Mei hingga Juli.
Sekretaris Umum BPS, Zulkipli mengatakan sensus ekonomi kali ini diharapkan mampu membaca struktur ekonomi baru yang terbentuk dalam beberapa tahun terakhir, termasuk yang tidak terlihat secara fisik.
Ia menyebut perubahan perilaku masyarakat dan pelaku usaha menjadi salah satu fokus penting pendataan.
"Kita tahu bahwa pasca-COVID banyak sekali yang terjadi dengan kegiatan ekonomi di Indonesia. Orang sering mendengar viral 'Rojali' dan 'Rohana'. Apakah itu nantinya akan bisa kita lihat di dalam pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 ini," ujar Zulkipli dalam acara Kick-off Publisitas Sensus Ekonomi 2026 di Jakarta, Rabu (25/2/2026).
Menurutnya, kondisi fisik pusat perdagangan tidak selalu mencerminkan kondisi ekonomi yang sebenarnya. Ia mencontohkan banyak pusat perbelanjaan maupun ruko yang terlihat kosong, namun mobilitas masyarakat tetap tinggi.
"Mal banyak yang kosong, ruko-ruko itu juga banyak yang kosong kelihatannya. Tetapi kenapa arus ekonomi kelihatan masih berjalan," ungkapnya.
Zulkipli menilai situasi tersebut menunjukkan adanya aktivitas ekonomi lain yang belum sepenuhnya tercatat melalui metode pendataan lama.
"Tentu ada aktivitas ekonomi yang lain yang tidak kelacak, yang sampai ini nantinya mudah-mudahan di dalam pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 ini akan dapat kami dapatkan datanya," katanya.
Baca Juga: BPS Gelar Sensus Ekonomi 2026, Sasar Pelaku Usaha
Ia menyebut perkembangan industri digital menjadi salah satu faktor yang mendorong perubahan pola usaha. Banyak transaksi kini berlangsung secara daring sehingga tidak selalu tercermin dari keramaian pusat perdagangan.
Untuk menangkap perubahan tersebut, BPS menyiapkan pendekatan pendataan yang lebih luas dalam Sensus Ekonomi 2026. Selain mendata usaha formal yang sudah terlihat, BPS juga akan menggunakan pendekatan rumah tangga guna menelusuri aktivitas ekonomi yang tersembunyi.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP Terbaru 2026 Harga Rp2 Jutaan, Kamera Bagus dan Baterai Besar hingga 7000 mAh
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- Silsilah Keluarga Lim Xin Rui yang Resmi Jadi Menantu Hasto Kristiyanto
- 5 Sepatu Puma yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp200 Ribuan
- 5 Sunscreen Wardah Terlaris di Shopee Mulai Rp30 Ribuan, Ini Kandungan dan Manfaatnya
Pilihan
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
Terkini
-
Harga BBM Subsidi Tak Naik, Kepercayaan Industri RI Langsung Melesat
-
Di Tengah Lemahnya Rupiah, Kepercayaan Industri Naik ke Level 53,56
-
Infrastruktur Kompleks di Balik Layar: Mengapa Gangguan Platform Trading Sering Bikin Trader Panik?
-
Investasi Digital China di RI Makin Marak, Apa Untung dan Ruginya?
-
Begini Cara Ubah Data Karyawan Jadi Mesin Pertumbuhan Bisnis
-
Peruri Tegaskan Keberlanjutan Bukan Sekadar Kepatuhan, Tapi Strategi Ciptakan Nilai Bersama
-
Tokopedia Perkuat Bisnis Kesehatan Digital
-
Konflik di Selat Hormuz Bikin Ekspor Perhiasan Indonesia Terancam Rontok
-
Rupiah Tembus Rp17.803, Pengusaha Dilema: Naikkan Harga atau Menyerah
-
Pelaku UMKM hingga Investor Asing Kini Bisa Urus Bisnis dalam Satu Platform