- LPEM UI menilai angka pertumbuhan tahun lalu belum mencerminkan kualitas yang kuat apalagi berkelanjutan.
- Struktur ekonomi saat ini dianggap masih rapuh secara fundamental.
- LPEM UI menyoroti adanya perbedaan mencolok antara realisasi BPS (5,11%) dengan proyeksi mereka sebelumnya yang hanya di angka 5,05%.
Suara.com - Meski Badan Pusat Statistik (BPS) merilis angka pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2025 mencapai 5,11%, namun pujian tidak datang dari kalangan akademisi. Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) FEB Universitas Indonesia justru memberikan catatan merah terkait kualitas pertumbuhan tersebut.
Dalam laporan Indonesia Economic Outlook Q1-2026, LPEM UI menilai angka pertumbuhan tahun lalu belum mencerminkan kualitas yang kuat apalagi berkelanjutan. Struktur ekonomi saat ini dianggap masih rapuh secara fundamental.
“Di tengah angka pertumbuhan PDB yang mengejutkan selama 2025, kami berpandangan bahwa pertumbuhan ekonomi masih belum berkualitas dan berpotensi hanya tumbuh sedikit di atas 5% untuk 2027,” tulis laporan LPEM UI, dikutip Jumat (6/2/2026).
LPEM UI menyoroti adanya perbedaan mencolok antara realisasi BPS (5,11%) dengan proyeksi mereka sebelumnya yang hanya di angka 5,05%. Menurut para peneliti UI, akselerasi di kuartal IV-2025 yang mencapai 5,39% bukan disebabkan oleh perbaikan struktural, melainkan dorongan belanja negara di akhir tahun, peningkatan konsumsi akhir tahun yang bersifat temporer.
Lembaga ini juga bersikap skeptis terhadap target ambisius Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang mematok pertumbuhan ekonomi 6% untuk tahun ini. LPEM UI memprediksi ekonomi 2026 justru akan stagnan di kisaran 4,9% hingga 5,3%.
Ada beberapa alasan mendasar di balik sikap pesimistis tersebut diantaranya belum adanya perbaikan signifikan yang mampu menciptakan lapangan kerja skala besar, independensi bank sentral yang memburuk serta alokasi belanja fiskal yang tidak produktif dan pemotongan transfer ke daerah yang menghambat layanan publik di level akar rumput.
LPEM UI memperingatkan pemerintah bahwa tanpa reformasi struktural yang benar, Indonesia tidak hanya akan sulit menjaga pertumbuhan di angka 5%, tetapi juga terancam mengalami penurunan kesejahteraan secara signifikan.
“Apabila tidak dilakukan secara benar, akan memicu penurunan kesejahteraan secara signifikan dan memperlebar ketimpangan yang saat ini sudah memburuk,” tegas LPEM UI.
Sisi fiskal juga menjadi sorotan tajam. Defisit anggaran 2025 yang mencapai 2,92% dari PDB dinilai akibat pembengkakan biaya program prioritas seperti, Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih.
Baca Juga: Purbaya Tetap Dampingi Anak Buah usai OTT KPK: Nanti Orang Kemenkeu Tak Mau Kerja
Program-program ini dianggap menyedot ruang fiskal yang seharusnya bisa digunakan untuk belanja lebih produktif. Ironisnya, di saat belanja membengkak, penerimaan pajak justru "kebakaran jenggot" dimana PPh (Pajak Penghasilan) tumbuh negatif 13,13% (yoy), PPN (Pajak Pertambahan Nilai) terkontraksi 4,52% (yoy).
Lemahnya kinerja pajak ini menjadi sinyal kuat bahwa produktivitas dunia usaha sedang merosot dan daya beli masyarakat umum tengah terengah-engah.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Sepatu Jalan Kaki Lokal Terbaik Harga Rp300 Ribuan Sesuai Review, Kualitas Jempolan
- Daripada Nyicil BeAT: Ini 5 Motor Keren Murah Bertenaga untuk Pelajar, Harga Mulai 5 Jutaan Saja
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Beroperasi Bertahun-tahun Tanpa Izin Resmi, Pabrik Pengolahan Oli Bekas di Tangerang Resmi Ditutup
- Suzuki Burgman 15 Sudah Ada di Dealer, Skutik Penantang NMAX dengan Layar TFT dan Traction Control
Pilihan
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
-
Resmi! Roy Suryo dan Dokter Tifa Tak Ditahan Jaksa, Ini Syarat yang Harus Dipenuhi
-
Sudewo Tolak Dakwaan Gabungan Kasus DJKA dan Perangkat Desa, Kuasa Hukum Sebut Langgar KUHAP!
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
Terkini
-
PLN Kekurangan Batu Bara 20 Juta Ton, Bahlil Turun Tangan Bentuk Tim Pengawas Khusus
-
Harga Cabai Mulai Mendingin, Kenaikan Beras dan Minyak Goreng Masih Membebani Konsumen
-
Rupiah Tertekan, Dolar AS Terus Naik ke Level Rp17.855
-
Cuan untuk Investor, Buyback Emas Antam Naik Lebih Tinggi dari Harga Jual
-
Tak Hanya Belanja, Pengunjung PRJ Kini Berburu Investasi Emas
-
Jelang Review MSCI, IHSG Dibuka Merah ke Level 6.096
-
Pasar Pantau Kesepakatan AS - Iran, Harga Minyak Dunia Naik Tipis
-
Profil PT Bach Multi Global Tbk (BACH), Jaringan Bisnis 'Grup Djarum' yang Siap IPO
-
Wacana Rokok Murah untuk Masyarakat Bawah Dikritik, Ancam Penerimaan Cukai Negara
-
cashUP Perkuat Ekosistem UMKM Digital, Satukan Pembayaran, Pembiayaan, dan Teknologi