- Perpanjangan SAL Rp200 T cegah tekanan dana jelang Lebaran dan jatuh tempo Maret.
- Dana SAL beri ruang bank Himbara capai target pertumbuhan kredit 9%-11%.
- Likuiditas longgar tekan biaya dana (Cost of Fund) dan redam kenaikan suku bunga.
Suara.com - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menyambut positif langkah strategis Menteri Keuangan Purbaya yang berencana memperpanjang penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) senilai Rp200 triliun di Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Kebijakan ini dinilai sebagai "angin segar" di tengah ketatnya persaingan likuiditas perbankan.
Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro mengungkapkan, perpanjangan napas bagi penempatan dana pemerintah tersebut akan memberikan dampak instan bagi stabilitas sektor keuangan.
“Saya menilai kalau perpanjangan likuiditas dari Pak Menkeu kemarin ya, ini dampaknya positif,” ujar Andry dalam acara buka bersama Bank Mandiri di Jakarta, dikutip Kamis (26/2/2026).
Andry menjelaskan, jika dana jumbo tersebut ditarik sesuai jadwal semula pada 13 Maret 2026, perbankan bakal menghadapi tekanan hebat. Pasalnya, tanggal tersebut bertepatan dengan lonjakan kebutuhan pendanaan korporasi dan persiapan momentum Lebaran.
“Kalau saat itu ditarik, momentumnya kurang pas. Di saat bersamaan demand likuiditas juga meningkat, sehingga bisa memicu tensi perebutan dana,” bebernya.
Dengan tetap parkirnya dana SAL di bank pelat merah, tensi perebutan likuiditas—terutama di level bank-bank besar—bisa diredam. Hal ini menjaga agar perbankan tidak perlu jor-joran menaikkan bunga simpanan demi berebut dana masyarakat.
Selain menjaga stabilitas, longgarnya likuiditas berkat dana SAL ini diyakini bakal memicu akselerasi penyaluran kredit. Bank Mandiri memproyeksikan pertumbuhan kredit industri tahun ini berada di level high single digit hingga low double digit (9 persen–11 persen secara tahunan).
“Dengan dana SAL yang tetap ditempatkan, likuiditas menjadi lebih longgar sehingga ada ruang untuk meningkatkan pertumbuhan kredit,” tambah Andry.
Tak hanya soal pertumbuhan, kebijakan ini juga menjadi kunci dalam menjaga Cost of Fund (biaya dana). Menurutnya, tekanan bagi bank untuk mengerek suku bunga demi menarik dana nasabah akan berkurang, sehingga bunga kredit pun diharapkan tetap stabil.
Baca Juga: OJK Restui Rencana Menteri Purbaya Parkir SAL Rp200 Triliun di Himbara, Bunga Kredit Bakal Jinak?
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 Skema Suami Dwi Sasetyaningtyas Kembalikan Dana Beasiswa LPDP
- Gerbang Polda DIY Dirobohkan Massa Protes Kekerasan Aparat, Demonstran Corat-coret Tembok Markas
- Setahun Andi Sudirman-Fatmawati Pimpin Sulsel, Pengamat: Kinerja Positif dan Tata Kelola Membaik
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
- 4 HP Motorola Harga Rp1 Jutaan, Baterai Jumbo hingga 7.000 mAh
Pilihan
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
-
Hujan Gol, Timnas Indonesia Futsal Putri Ditahan Malaysia 4-4 di Piala AFF Futsal 2026
-
Mandiri Tunas Finance Terancam Sanksi OJK Buntut Debt Collector Tusuk Advokat
Terkini
-
Bayang-bayang Perang AS-Iran, Harga Minyak Dunia 'Nangkring' di Level Tertinggi 7 Bulan
-
OJK Restui Rencana Menteri Purbaya Parkir SAL Rp200 Triliun di Himbara, Bunga Kredit Bakal Jinak?
-
Emas Diprediksi Masih Bullish Panjang, Target Harga Di Atas USD 6.000
-
Trading Saham Global Kini Bisa 24 Jam Nonstop
-
Tumbuh Double Digit Sepanjang 2025, BRI Bukukan Laba Rp57,13 Triliun
-
Berbalik Melonjak, Ini Daftar Lengkap Harga Emas Antam Terbaru Hari Ini
-
Pembatasan Tar-Nikotin Dinilai Ancam Industri Kretek dan Lapangan Kerja
-
Dolar AS Melemah, Rupiah Menguat ke Level Rp16.754
-
Bos Agrinas Pangan Akui Sekitar 1.000 Unit Pikap Asal India Tiba di RI
-
IHSG Fluktuatif di Awal Perdagangan, Cermati Support 8.200