- S&P Global Ratings khawatir beban bunga utang Indonesia melebihi 15 persen pendapatan, berpotensi memicu peninjauan negatif peringkat BBB.
- Moody's telah mengubah prospek peringkat Indonesia menjadi negatif karena tata kelola melemah dan risiko fiskal meningkat sejak Februari 2026.
- Pelemahan pasar saham dan potensi arus keluar modal asing menekan kepercayaan investor serta berisiko meningkatkan biaya pembiayaan negara.
Tekanan terhadap pasar keuangan domestik turut menjadi perhatian. Pada akhir Januari, pasar saham Indonesia mencatat penurunan terdalam dalam beberapa dekade setelah MSCI memperingatkan kemungkinan penurunan status dari pasar berkembang apabila isu keterbukaan dan kemudahan investasi tidak segera ditangani.
Otoritas merespons dengan meluncurkan rencana reformasi pasar, termasuk peningkatan persyaratan saham beredar bebas (free float).
S&P menilai pelemahan pasar saham belakangan ini belum berdampak langsung terhadap peringkat kredit negara.
Namun, pemulihan kepercayaan investor asing dinilai penting untuk menghindari risiko arus keluar modal yang dapat meningkatkan biaya pembiayaan, menekan nilai tukar rupiah, dan melemahkan keuangan publik.
Direktur Pelaksana dan Pimpinan Sektor Pemeringkatan Sovereign Asia Pasifik S&P, Kim Eng Tan, mengatakan tekanan harga aset dapat meningkat apabila terjadi perubahan bobot indeks atau bahkan reklasifikasi pasar.
“Hal ini dapat memicu pembalikan arus modal asing dari bursa saham Indonesia,” ujarnya.
Tan menambahkan, apabila investor asing secara signifikan mengurangi eksposur terhadap Indonesia, likuiditas pasar modal akan terdampak sehingga biaya pembiayaan bagi pemerintah maupun korporasi meningkat. Selain itu, investor asing juga memegang instrumen utang jangka pendek dan simpanan di pasar tempat mereka berinvestasi saham.
Penurunan arus masuk modal juga berpotensi mendorong Bank Indonesia untuk menggunakan cadangan devisa guna menopang nilai tukar rupiah.
“Perkembangan tersebut dapat menambah tekanan penurunan yang belakangan muncul terhadap peringkat kredit Indonesia,” kata Tan.
Baca Juga: Purbaya Tarik Utang Baru Rp 127,3 Triliun di Januari 2026
Tag
Berita Terkait
-
Wamenkeu Juda Agung: Batas Defisit APBN 3 Persen Harga Mati
-
Purbaya Klaim Indonesia Masih Mampu Bayar Utang Meski Rating Moody's Negatif
-
Moody's Tebar Peringatan Dini buat Prabowo: Kebijakan Ugal-ugalan!
-
Bayar Utang dan Jaga Rupiah, Cadangan Devisa RI Anjlok Rp32 Triliun
-
Pandu Sjahrir Beberkan Mekanisme Danantara Investasi di Pasar Saham
Terpopuler
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 3 Sepatu New Balance Tanpa Tali, Bantalan Nyaman untuk Jalan Kaki Jauh
- Gugurkan Klaim Santriwati 'Hamil Tanpa Hubungan Badan', Polisi Tangkap Kiai di Pekalongan
- Persija Sudah Temukan Pengganti Mauricio Souza, Target Juara Super League Musim Depan
- 5 Sepatu Adidas Tanpa Tali yang Serbaguna, Anti Pegal Dipakai Jalan Seharian
Pilihan
-
Kebakaran RSUD Syekh Yusuf Gowa, Begini Kondisi Terkini Pasien
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
-
Skandal! Jaksa AS Selidiki FIFA, Penjualan Tiket Piala Dunia 2026 Diduga Bermasalah
-
Live 'Pocong Jadi-Jadian' Hebohkan Warga Sragen, 3 Pelajar Diamankan Polisi
Terkini
-
Konsumsi Daging Orang RI Ternyata Masih Rendah
-
Peruri Tebar Hewan Kurban ke 4 Daerah
-
Petani Diproyeksi Untung, Bulog Pastikan Harga Ekspor Beras ke Malaysia Lebih Mahal dari HET
-
Belajar dari Blackout Sumatra, Cuaca Kini Jadi Faktor Krusial Sistem Listrik
-
ESDM Kantongi 24 Ribu Hektare Lahan untuk Proyek PLTS
-
Rohis Pegadaian Wujudkan Satu Ketulusan Sejuta Kebermanfaatan: Distribusi 4.500 Paket Daging Kurban
-
Emiten MPMX Tebar Dividen Rp 170 per Saham
-
Memahami Pentingnya Layanan Keuangan Terdaftar dan Diawasi OJK
-
Jangan Salah, Angin Kencang Bisa Sebabkan Kabel Listrik Putus dan Picu Blackout
-
Indodax Salurkan Hewan Kurban ke Wilayah Aceh yang Terdampak Bencana