- Wamenkeu Juda Agung berkomitmen menjaga defisit APBN 2026 di bawah 3 persen meskipun meleset dari target tahun lalu.
- Pemerintah menargetkan defisit APBN 2026 sebesar 2,68 persen dan rasio utang di bawah 40 persen terhadap PDB.
- Indonesia menghadapi antisipasi penilaian lembaga pemeringkat setelah Moody's menurunkan outlook menjadi negatif akibat tata kelola.
Suara.com - Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung menegaskan komitmen pemerintah untuk menjaga defisit APBN 2026 tetap di bawah 3 persen, meski pada tahun lalu defisit melebar menjadi 2,92 persen - meleset dari target 2,53 persen.
Disiplin pemerintah untuk menjaga defisit fiskal itu sebelumnya menjadi sorotan lembaga pemerintah seperti Moody's yang pada pekan lalu menurunkan outlook kredit Indonesia menjadi negatif, meski peringkat dipertahankan di Baa2.
"Kita jaga, 3 persen itu harga matilah," kata Juda saat ditemui wartawan di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Selasa (10/2/2026).
Adapun pada 2026 ini, pemerintah menargetkan defisit APBN di angka 2,68 persen. Sementara rasio utang ditargetkan di bawah 40 persen terhadap PDB.
"Di undang-undang 60 persen, tetapi kami akan jaga sekitar 40 persen," tegas Juda yang dilantik sebagai Wamenkeu pada pekan lalu.
Pada akhir 2025 lalu, seperti diketahui, rasio utang pemerintah mencapai 40,08 persen terhadap PDB atau setara dengan Rp9.549,46 triliun. Hal ini pula yang membuat lembaga-lembaga pemeringkat mewanti-wanti pemerintah untuk lebih berhati-hati.
Juda juga menyampaikan bahwa pemerintah saat ini sedang mengantisipasi penilaian dari lembaga pemeringkat Fitch pada yang akan merilis laporannya pada 23 Februari 2026, yang selanjutnya disusul laporan dari S&P.
"Ya ini yang perlu kita koordinasikan. Nanti tentu saja nanti rating yang lain kan akan datang di tanggal 23 Februari. Kita siapkan semua itulah yang saya katakan, lesson learned dari Moody's kemarin," ujarnya.
Dia menegaskan perlunya perbaikan menyeluruh yang mencakup tata kelola, kebijakan, serta manajemen risiko.
Baca Juga: Usai 'Dikeroyok' Sentimen Negatif, IHSG Jadi Indeks Berkinerja Paling Buruk di Dunia
"Nah, ini harus kita perbaiki semua. Baik itu terkait dengan tata kelola, tata kelola kebijakan, dan juga risiko-risiko yang lain," ujarnya.
Diwartakan sebelumnya Moody’s menurunkan outlook utang Indonesia menjadi negatif dari sebelumnya stabil.
Rating negatif itu diberikan, karena Moody's menilai adanya tanda-tanda pelemahan tata kelola serta semakin berkurangnya efektivitas kebijakan di Indonesia. Lembaga itu juga menguraikan bahwa kebijakan pemerintah Presiden Prabowo Subianto makin sulit diprediksi.
Salah satu yang disorot adalah, antara lain kebijakan populis seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) - yang menguras keuangan negara - di tengah penerimaan negara yang seret.
Selain itu penunjukkan keponakan Prabowo, yakni Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur BI juga menjadi sorotan di tengah isu rencana mengubah mandat Bank Sentral lewat perubahan undang-undang.
"Jika terus berlanjut, tren ini dapat mengikis kredibilitas kebijakan Indonesia yang sudah lama dibangun, yang selama ini mendukung pertumbuhan ekonomi yang kuat serta stabilitas makroekonomi, fiskal, dan keuangan," Moody's memperingatkan.
Berita Terkait
-
Ekonomi RI Tembus 5,39 Persen, Wamenkeu Juda Agung: Saya Belum Puas!
-
Moodys Geser Outlook ke Negatif, OJK: Perbankan Nasional Tetap Kokoh!
-
Jawab Moodys, Purbaya Siap Koreksi Anggaran MBG Jika Ada Pemborosan
-
Outlook Moody's Jeblok Jadi Negatif, Janji Purbaya: RI Mampu Bayar Utang
-
Moodys Beri Rating Negatif, Pemerintah: Ekonomi Tetap Solid di Level Investment Grade
Terpopuler
- Siapa Ginka Febriyanti yang Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- 5 HP Memori 256 GB Harga di Bawah Rp2 Juta, Bisa Simpan Ribuan File dan Gaming
- 3 Rekomendasi Bedak Padat di Indomaret untuk Makeup Halus dan Tahan Lama
- 4 HP Murah Terbaru 2026 untuk Anak Sekolah: Baterai 7000 mAh hingga Koneksi 5G
Pilihan
-
Korban Meninggal Latsarmil SPPI Bertambah Menjadi 5 Orang, Ini Penjelasan Kemhan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
Terkini
-
96% Perusahaan RI Rekrut Lulusan Micro-Credentials, Gaji Dibayar Tinggi
-
Pengguna Tol Jakarta-Cikampek Wajib Tahu! Ada Perbaikan Jalan di Beberapa Titik hingga Awal Juli
-
Prabowo: Belum Ada Profesor Ekonomi yang Bisa Bantah Saya, Matematik Adalah Matematik!
-
Jembatan Donat Dukuh Atas Rampung 2028, Menhub: Enam Moda Transportasi Jakarta Akan Terintegrasi
-
Dari Pupuk ke Klinik Desa, KDMP Tamanmartani Buktikan Koperasi Mampu Tingkatkan Kesejahteraan Warga
-
Kabar Baik! Stasiun JIS Akan Punya Dua Peron, Akses ke Stadion dan Ancol Makin Lancar
-
Pemerintah Diminta Perhatikan Dampak Ekonomi dalam Pembuatan Aturan soal Industri Rokok
-
Merdeka Gold Resources Ukir Sejarah, Saham EMAS Resmi Melantai di Bursa Hong Kong
-
IHSG Ambles 4,55% Sepekan, Kapitalisasi Pasar BEI Susut Rp486 Triliun
-
60% Anak Muda Terkendala Modal Usaha