- Tionghoa Indonesia wajib utamakan identitas nasional di tengah arus budaya asing.
- Identitas Tionghoa RI adalah pilihan politik dan budaya yang khas Indonesia.
- Generasi muda diminta tidak menjiplak budaya luar demi menjaga jati diri bangsa.
Suara.com - Di tengah derasnya arus globalisasi dan dominasi kekuatan ekonomi baru dari daratan Tiongkok, masyarakat Tionghoa di Indonesia diingatkan untuk tetap teguh memegang identitas keindonesiaan. Bukan sekadar soal budaya, pilihan ini merupakan komitmen politik yang krusial dalam menjaga kedaulatan bangsa.
Hal tersebut mengemuka dalam diskusi menyambut Imlek bertajuk “Imlek 2026: Ketionghoaan dalam Bingkai Budaya Indonesia” yang digelar secara kolaboratif oleh Asosiasi Peranakan Tionghoa Indonesia (Aspertina), Ikatan Pemuda Tionghoa Indonesia (IPTI), dan Forum Sinologi Indonesia (FSI) di Jakarta.
Ketua Forum Sinologi Indonesia (FSI), Johanes Herlijanto, menekankan bahwa Tionghoa Indonesia memiliki keunikan yang tidak bisa disamakan dengan masyarakat di daratan Tiongkok maupun negara Asia Tenggara lainnya.
"Tionghoa di luar Tiongkok memiliki kemampuan adaptasi yang luar biasa. Tionghoa Indonesia perlu memosisikan diri sebagai Indonesia dalam hubungan dengan pihak luar," ujar Johanes mengutip pakar Singapura, Prof. Wang Gungwu.
Senada dengan itu, perwakilan IPTI, Septeven Huang, memberikan pesan menohok bagi generasi muda. Ia meminta agar kaum muda Tionghoa tidak terjebak dalam krisis identitas dengan menjiplak mentah-mentah budaya asing, baik itu Barat, Korea, maupun Tiongkok daratan.
"Jangan larut dalam krisis identitas. Hindari menjiplak langsung kebudayaan Tiongkok tanpa memahami padanannya dalam kebudayaan Tionghoa yang berbingkai keindonesiaan. Kami Tionghoa, dan kami Indonesia," tegas alumni Hukum UI tersebut.
Peneliti senior Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr. Thung Julan, menyoroti bahwa identitas nasional adalah sebuah keputusan politik. Di tengah kompleksitas sejarah—mulai dari kelompok peranakan yang berbaur sejak zaman Banten hingga kelompok "totok"—pilihan untuk menjadi Indonesia adalah harga mati.
"Dalam hubungan dengan Tiongkok, etnis Tionghoa harus memandang posisinya sebagai warga negara Indonesia, alih-alih sebagai bagian dari Tiongkok," kata Julan.
Menariknya, Direktur Gentala Institute, Christine Susanna Tjhin, membedah fenomena ini dari sudut pandang sosiopolitik yang lebih luas. Ia menjelaskan perbedaan status antara Huayi/Huaren (bukan warga negara Tiongkok) dan Huaqiao (pemegang paspor Tiongkok).
Baca Juga: Gandeng BDO, Kawasan Rebana Disiapkan Jadi Magnet Investasi Global Berbasis ESG
Di era ekonomi saat ini, tantangan baru muncul seiring masifnya investasi Tiongkok ke Indonesia. Christine mencatat munculnya kategori "pendatang baru" yang baru, yakni para ekspatriat atau migran yang hadir seiring dengan proyek-proyek investasi luar negeri.
"Muncul kategori baru yang bersifat sangat kompleks. Relevansi dualisme antara 'totok' dan 'peranakan' yang dulu dikenal, kini perlu dipertanyakan kembali efektivitasnya dalam memetakan identitas saat ini," papar Christine.
Sekretaris Aspertina, Budiman Tanah Djaya, melihat fenomena istilah Chindo (Chinese Indonesia) di media sosial sebagai upaya generasi muda memaknai identitas secara lebih cair dan progresif. Namun, ia mengingatkan agar sejarah pahit masa lalu tetap diingat sebagai fondasi.
"Generasi tua harus menjadi pengarah agar anak cucu tidak melupakan sejarah pahit sebagai konteks penting dalam membangun identitas Tionghoa dalam bingkai Keindonesiaan," tutup Budiman.
Acara yang dipandu oleh dosen Hubungan Internasional President University, Muhammad Farid, ini menjadi pengingat penting: bahwa di tengah persaingan ekonomi global, nasionalisme tetap menjadi kompas utama bagi seluruh elemen bangsa, termasuk masyarakat Tionghoa Indonesia.
Berita Terkait
Terpopuler
- Janji Ringankan Kasus, Oknum Jaksa di Banten Ancam Korban Bayar Rp2 Miliar atau Dihukum Berat
- 5 HP Murah Terbaru Lolos Sertifikasi di Indonesia, Usung Baterai Jumbo hingga 7.800 mAh
- 6 Bedak Tabur Tahan Air, Makeup Tetap Mulus Meski Keringatan Seharian
- 69 Kode Redeem FF Max Terbaru 14 April 2026: Ada Skin Chromasonic dan Paket Bawah Laut
- Misteri Lenyapnya Bocah 4 Tahun di Tulung Madiun: Hanya Sekedip Mata Saat Ibu Mencuci
Pilihan
-
Daftar Starting XI Timnas Indonesia U-17 vs Malaysia: Dava Yunna Masih Jadi Tumpuan!
-
Jateng Belum Ikut-ikut Kebijakan KDM, Bayar Pajak Kendaraan Masih Pakai KTP Pemilik Lama
-
Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Jadi Tersangka Kejagung, Tangan Diborgol
-
Bukan Hanya soal BBM, Kebijakan WFH Mengancam Napas Bisnis Kecil di Magelang
-
Solidaritas Tanpa Batas: Donasi WNI untuk Rakyat Iran Tembus Rp9 Miliar
Terkini
-
Akan Beli Minyak dari Rusia, Bahlil Upayakan Dapat Harga Murah
-
Prediksi Purbaya: Defisit APBN 2026 Turun ke 2,8 Persen
-
Harga Minyakita Meroket, Mendag: Stoknya Memang Terbatas
-
IHSG Terus Memerah Hingga Akhir Perdagangan ke Level 7,621, Cek Saham yang Cuan?
-
Tak Cukup Kasih Modal, UMKM Perlu Akses Pasar Agar Naik Kelas
-
S&P Sorot Rasio Utang RI, Purbaya Klaim Belum di Level Berbahaya
-
Laba Emiten Hary Tanoe Terbang 140 Persen
-
Gak Cuma Murah, Minyak Rusia Ternyata 'Jodoh' Buat Kilang Pertamina
-
OJK dan BEI Bongkar Data Pemilik Saham RI, Berharap Genjot Transparansi
-
Produksi Cat Nasional Tembus 1,5 Juta Ton, Pemerintah Soroti Pentingnya Keamanan Produk