- Teknologi mempercepat pemrosesan dokumen dan otomatisasi pembayaran perdagangan.
- Perusahaan redam lonjakan tarif AS lewat diversifikasi ke Vietnam hingga Meksiko.
- Investasi AI global diproyeksi tembus 7,75 triliun dolar AS pada tahun 2030.
Suara.com - Citigroup atau Citi kembali merilis laporan strategis bertajuk Global Perspectives & Solutions (Citi GPS) edisi terbaru dengan fokus pada ketahanan perdagangan dunia.
Laporan berjudul “Pembiayaan Rantai Pasok: Perdagangan Global yang Tangguh di Era AI” ini membedah bagaimana teknologi mutakhir menjadi benteng bagi korporasi di tengah badai tarif dan ketidakpastian geopolitik.
Laporan tersebut menyoroti transformasi mendasar dalam perdagangan global yang dipicu oleh volatilitas tarif, adopsi Kecerdasan Buatan (AI), serta pergeseran menuju rantai pasok yang lebih multipolar dan regional. Meski dihantam berbagai tantangan, Citi menilai lanskap bisnis global tetap menunjukkan ketahanan yang luar biasa melalui diversifikasi dan optimalisasi modal kerja.
Global Head of Trade and Working Capital Citi, Adoniro Cestari, menegaskan bahwa teknologi kini menjadi mesin utama yang merekayasa ulang operasional pembiayaan perdagangan.
“Pemrosesan dokumen cerdas yang ditenagai AI tidak hanya meningkatkan akurasi, tetapi juga mempercepat proses yang biasanya memakan waktu lama menjadi hanya dalam hitungan menit,” ujar Cestari dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Jumat (6/3/2026).
Selain AI, pemanfaatan teknologi blockchain juga tengah diuji coba untuk pembayaran perdagangan bersyarat. Inovasi ini berpotensi mengubah jaminan standar berbasis kertas menjadi eksekusi digital otomatis yang beroperasi hampir 24 jam setiap hari.
Data Citi mengungkapkan fakta menarik: meski tarif Amerika Serikat melonjak hingga 16,8 persen dari sebelumnya hanya 2,4 persen, Indeks Tekanan Rantai Pasok Global (GSCPI) justru tetap rendah, mendekati level sebelum pandemi.
Hal ini menunjukkan perusahaan global telah semakin piawai meredam guncangan. Strategi yang diterapkan mencakup pengelolaan inventaris yang lebih taktis, diversifikasi pemasok, hingga percepatan nearshoring atau mendekatkan basis produksi ke pasar utama.
Vietnam, Thailand, India, dan Meksiko kini muncul sebagai destinasi utama bagi 65 persen perusahaan yang aktif mendiversifikasi rantai pasok mereka guna menghindari ketergantungan pada satu negara saja.
Baca Juga: Kolaborasi PLN dan Kementerian Perdagangan Hadirkan SPKLU Ultra Fast Charging
Dampak AI tidak hanya pada efisiensi, tetapi juga siklus investasi. Citi Research memproyeksikan belanja modal global terkait AI akan meledak hingga 7,75 triliun dolar AS pada tahun 2030, terutama untuk pembangunan pusat data.
Namun, transisi ini bukan tanpa hambatan. Sekitar 64 persen perusahaan mengaku khawatir dengan kenaikan biaya input, di mana rata-rata 6,3 persen modal kerja perusahaan kini terikat akibat dampak tarif.
“Kombinasi inovasi teknologi dan keahlian penstrukturan keuangan membantu perusahaan meningkatkan likuiditas yang sebelumnya terperangkap, sekaligus mendukung efisiensi rantai pasok global,” pungkas Cestari.
Berita Terkait
Terpopuler
- Daftar Lokasi ATM Pecahan Rp20 Ribu dan Rp10 Ribu di Tangerang
- Apakah Ada Penukaran Uang Baru BI Pintar Periode 3? Ini Pengumuman Pastinya
- 3 Cara Melihat Data Kepemilikan Saham di Atas 1 Persen: Resmi KSE dan BEI
- 10 Lokasi ATM Pecahan Rp10 Ribu dan Rp20 Ribu Bank Mandiri Terdekat di Jakarta
- 6 Sepatu Lari Lokal Berkualitas Selevel HOKA Ori, Cocok untuk Trail Run
Pilihan
-
Iran Tutup Pintu Negosiasi, Dubes: Kami Bereskan Musuh di Medan Perang
-
Fatwa Ayatollah Ali Khamenei soal Senjata Nuklir: Haram!
-
KPK Ungkap ART Fadia Arafiq Jadi Direktur PT RNB, Diduga Alat Korupsi Rp13,7 Miliar
-
Dua Hari Lalu Dinyatakan Gugur, Eks Presiden Iran Ahmadinejad Masih Hidup
-
Skandal Saham BEBS Dibongkar OJK: Rp14,5 Triliun Dibekukan, Kantor Mirae Asset Digeledah!
Terkini
-
BI Kejar Target Inklusi 98 Persen, Perry Warjiyo: Literasi Jadi Tameng Kejahatan Digital
-
Rupiah Kian Tak Berdaya, Cadangan Devisa RI Kian Menyusut
-
Menteri KKP Targetkan 1.000 Kampung Nelayan Merah Putih di 2026
-
Kolaborasi PLN dan Kementerian Perdagangan Hadirkan SPKLU Ultra Fast Charging
-
THR Pensiunan Cair, Komisaris PT TASPEN Pantau Langsung: Dibayar Full Tanpa Potongan
-
BRIVolution Reignite Perkuat Sumber Pertumbuhan, Laba Perusahaan Anak BRI Group Tembus Rp10,38T
-
Bahlil Sebut Stok BBM Cuma 20 Hari, ESDM Buru-buru Redam Panic Buying: Jangan Menimbun!
-
BRI KPR Hadirkan Ragam Kemudahan untuk Wujudkan Rumah Impian
-
BRIVolution Reignite Dorong Sumber Pertumbuhan, Laba Perusahaan Anak BRI Group Capai Rp10,38 Triliun
-
PMI Manufaktur Ekspansi, tapi Fondasi Konsumsi Rakyat Rapuh