Bisnis / Energi
Senin, 09 Maret 2026 | 08:15 WIB
PT BUMI Resources Tbk [Suara.com]

Suara.com - PT Bumi Resources Tbk (BUMI) kembali memicu adrenalin para pelaku pasar modal. Berdasarkan data terbaru yang dirilis Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 27 Februari 2026, terjadi pergeseran peta kekuatan pemegang saham yang cukup drastis.

HSBC–FUND SVS A/C Chengdong Investment Corporation (CIC)—yang sebelumnya merupakan pemain lama di BUMI—secara mengejutkan raib dari daftar pemilik modal di atas 1%.

Padahal, jika kita menengok catatan per 30 Januari 2026, entitas yang berafiliasi dengan sovereign wealth fund China ini masih menggenggam lebih dari 10 miliar lembar saham.

Hilangnya nama CIC dari radar KSEI memicu bisik-bisik di lantai bursa mengenai kemungkinan adanya pengalihan kepemilikan kepada kelompok investor besar yang belakangan ini kerap menjadi perbincangan hangat.

Struktur Pemegang Saham BUMI: Dominasi Salim dan Eksistensi Bakrie

Di tengah misteri hengkangnya CIC, struktur kepemilikan BUMI kini terlihat lebih terkonsentrasi pada beberapa entitas besar. Berikut adalah rincian pemilik modal signifikan per akhir Februari 2026:

  1. Mach Energy (Hongkong) Limited: Menempati posisi puncak sebagai pengendali utama dengan kepemilikan sekitar 170 miliar saham (45,78%). Entitas ini merupakan kendaraan investasi strategis milik Grup Salim.
  2. UBS Switzerland AG: Memegang posisi kedua dengan porsi 18,94 miliar saham (5,10%).
  3. Cris Developments Limited: Tercatat menguasai 14,77 miliar saham (3,98%).
  4. Treasure Global Investments Limited: Memiliki simpanan sebesar 11,80 miliar saham (3,18%).
  5. Glas Trust (Singapore) Ltd.: Menggenggam sekitar 7,71 miliar saham (2,08%).
  6. PT Bakrie Capital Indonesia: Mewakili eksistensi Grup Bakrie dengan kepemilikan 4,39 miliar saham (1,18%).
  7. Bank of Singapore Limited: Mengamankan porsi sebesar 3,85 miliar saham (1,04%).

Meski saat ini batubara termal masih menjadi tulang punggung pendapatan, BUMI sedang melancarkan transformasi bisnis jangka panjang.

Perusahaan menargetkan komposisi pendapatan dari sektor batubara dan non-batubara dapat berimbang (50:50) pada tahun 2031.

Head of Investor Relations BUMI, Yudicia Retnodewi, menjelaskan bahwa strategi ini adalah langkah krusial untuk menghadapi dinamika industri energi global.

Baca Juga: Emiten BUMI Bangkit, Investor Serok Saham di Tengah Teka-teki Hilangnya Chengdong

Fokus masa depan BUMI kini bergeser secara bertahap ke sektor logam, mineral, dan pengembangan hilirisasi.

Hal ini nampak dari manuver BUMI di pasar internasional. Melalui holding Bumi Resources Australia, perusahaan kini telah menguasai dua aset mineral strategis di Negeri Kanguru:

Wolfram: BUMI telah menguasai 100% saham aset ini, yang diproyeksikan akan menjadi produsen konsentrat tembaga.

Jubilee Metals: BUMI memegang kendali sebesar 64,98% saham per tahun 2025, dengan fokus utama pada produksi emas.

Selain ekspansi di Australia, BUMI tetap memperkuat portofolio mineral dalam negeri melalui kepemilikan 20,09% di PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS). 

Kontributor : Rizqi Amalia

Load More