Bisnis / Keuangan
Senin, 09 Maret 2026 | 13:25 WIB
Layar digital menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (9/7/2025). [Suara.com/Alfian Winanto]
Baca 10 detik
  • Pada Senin (9/3/2026) sesi pertama, IHSG terpuruk 3,49 persen ke level 7.321 akibat sentimen global yang kuat.
  • Pelemahan pasar dipicu ketegangan Timur Tengah dan lonjakan harga minyak dunia menembus USD 100 per barel.
  • Faktor domestik berupa defisit APBN Februari Rp135,7 triliun berpotensi memburuk akibat kenaikan harga energi.

Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) semakin terpuruk pada perdagangan sesi pertama awal pekan. Tekanan kuat dari sentimen global membuat pasar saham Indonesia bergerak di zona merah.

Berdasarkan riset Pilarmas Investindo Sekuritas, pada sesi pertama perdagangan Senin (9/3/2026) IHSG turun 264 poin atau 3,49 persen ke level 7.321.

Pelemahan tersebut sejalan dengan mayoritas bursa saham Asia yang juga terkoreksi akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya konflik antara Amerika Serikat (AS)–Israel dengan Iran yang terus meluas.

Pilarmas Investindo Sekuritas menilai pasar global saat ini juga diguncang oleh kekhawatiran inflasi setelah harga minyak melonjak tajam.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tersungkur dan mayoritas investor memilih untuk melakukan aksi jual pada Kamis (29/1/2026). Foto Rina-Suara.com

Lonjakan biaya energi memicu kekhawatiran meningkatnya biaya hidup serta potensi kenaikan suku bunga di berbagai negara. Konflik yang memasuki minggu kedua juga meningkatkan risiko gangguan pasokan energi global.

Produsen minyak utama di Timur Tengah seperti Kuwait, Iran, dan Uni Emirat Arab dilaporkan memangkas produksi minyak mentah setelah pengiriman melalui Selat Hormuz terhenti.

Kondisi tersebut membuat harga minyak dunia menembus level USD 100 per barel, memicu kekhawatiran akan tekanan inflasi global sekaligus ancaman terhadap pertumbuhan ekonomi.

Di sisi lain, perkembangan politik di Iran juga menjadi perhatian pasar setelah Mojtaba Khamenei ditunjuk sebagai Pemimpin Tertinggi Iran menggantikan ayahnya yang meninggal dunia. Penunjukan tersebut dinilai menandakan kelompok garis keras masih memegang kendali di negara tersebut.

Sementara itu dari Amerika Serikat, data ketenagakerjaan yang lebih lemah dari perkiraan sebelumnya sempat memicu ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter oleh Federal Reserve (The Fed).

Baca Juga: IHSG Masih Merah di Senin Pagi, Apa Pemicunya?

Namun, spekulasi tersebut mulai memudar pada pekan ini seiring lonjakan harga minyak yang kembali memicu kekhawatiran inflasi sehingga mengubah ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed dalam waktu dekat.

Dari dalam negeri, tekanan juga datang dari kondisi fiskal pemerintah. APBN Februari 2026 tercatat mengalami defisit Rp135,7 triliun atau setara 0,53 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Kenaikan harga minyak global dinilai berpotensi memperlebar defisit anggaran tahun ini. Pemerintah bahkan membuka opsi pemangkasan anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) senilai Rp335 triliun apabila lonjakan harga minyak membuat defisit APBN melewati batas aman 3 persen.

Trafik perdagangan

Dalam perdagangan sesi I, sebanyak 63 saham bergerak naik, sedangkan 717 saham mengalami penurunan, dan 36 saham tidak mengalami pergerakan.

Adapun, beberapa saham yang menjadi Top Gainers pada Hari ini diantaranya, SHID, SICO, OILS, ASPR, MKAP, BOBA, UNIC, PSDN, JATI, STAA, MPOW.

Load More