- OJK menyatakan industri perbankan solid hingga 2026, ditandai pertumbuhan kredit 9,96% dan NPL terjaga 2,14%.
- Revisi *outlook* negatif bank besar dipicu penyesuaian peringkat *sovereign* Indonesia, bukan fundamental bank.
- Permodalan bank tetap kuat dengan rasio kecukupan modal mencapai 25,87%, likuiditas sangat memadai.
Suara.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan kondisi industri perbankan nasional hingga awal 2026 tetap berada dalam kinerja yang solid dan menunjukkan tren pertumbuhan positif.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menekankan bahwa revisi outlook negatif terhadap sejumlah bank besar di Indonesia, termasuk kelompok Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), bukan disebabkan oleh pelemahan fundamental kinerja perbankan.
Menurut Dian, perubahan outlook tersebut lebih dipicu oleh penyesuaian outlook peringkat kredit sovereign Indonesia oleh lembaga pemeringkat internasional seperti Moody’s dan Fitch Ratings, dari stabil menjadi negatif.
Hal ini turut memengaruhi persepsi risiko terhadap sektor perbankan nasional, ditambah dengan dinamika makroekonomi global.
“Pada dasarnya kondisi industri perbankan nasional berada dalam kondisi yang positif, dengan pertumbuhan kredit pada Januari 2026 sebesar 9,96 persen (year on year), sejalan dengan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga sebesar 13,48 persen,” ujar Dian dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Rabu (25/3/2026).
Dari sisi kualitas aset, OJK mencatat rasio kredit bermasalah (NPL) tetap terjaga di level 2,14 persen. Sementara itu, permodalan industri perbankan juga tergolong kuat dengan rasio kecukupan modal mencapai 25,87 persen.
Likuiditas pun dinilai sangat memadai, tercermin dari rasio AL/NCD sebesar 121,23 persen, AL/DPK 27,54 persen, serta Liquidity Coverage Ratio (LCR) mencapai 197,92 persen, seluruhnya jauh di atas ambang batas yang ditetapkan.
Secara lebih rinci, kinerja bank-bank besar yang tergabung dalam Kelompok Bank berdasarkan Modal Inti (KBMI) 4 dan Himbara menunjukkan pertumbuhan kredit dua digit, masing-masing sebesar 13,34 persen dan 13,43 persen.
Dari sisi pendanaan, pertumbuhan DPK juga kuat, yakni 16,32 persen untuk KBMI 4 dan 16,38 persen untuk Himbara, mencerminkan tingginya kepercayaan masyarakat.
Baca Juga: Penghapusan KBMI 1 Masih Bertahap, OJK Pastikam Tidak Ada Unsur Paksa
Ketahanan permodalan juga tetap solid. Rasio CAR Himbara tercatat sebesar 20,32 persen, sementara KBMI 4 berada di level 22,33 persen. Angka ini dinilai memberikan ruang ekspansi yang memadai sekaligus menjadi bantalan dalam menghadapi potensi risiko ke depan.
Dari aspek kualitas kredit, rasio NPL gross berada pada kisaran kurang dari 1 persen hingga 3 persen, dengan Loan at Risk (LaR) yang tetap terkendali. Kondisi ini menunjukkan penerapan manajemen risiko yang prudent serta tata kelola yang baik dalam penyaluran kredit.
Sepanjang 2025, bank KBMI 4 dan Himbara juga membukukan laba yang positif, mencerminkan keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, efisiensi operasional, serta kualitas aset.
Di tengah ketidakpastian global, Himbara dinilai tetap mampu menjalankan fungsi intermediasi secara stabil dan berperan strategis dalam mendukung pembiayaan sektor riil serta program prioritas pemerintah.
OJK menegaskan akan terus melakukan pengawasan berkelanjutan guna memastikan perbankan menjalankan prinsip kehati-hatian, tata kelola yang baik, serta manajemen risiko yang memadai.
Penyesuaian outlook oleh lembaga pemeringkat, lanjut Dian, tidak secara langsung memengaruhi kemampuan bank dalam mengakses pendanaan.
Berita Terkait
-
Survei OJK: Perbankan Tetap Solid di Awal 2026, Meski Inflasi dan Rupiah Jadi Tantangan
-
Ini Alasan Komisi XI Pilih Friderica Widyasari Dewi Menjabat Ketua OJK yang Baru
-
DPR Sepakat Tunjuk Friderica Widyasari Sari Jadi Ketua DK OJK
-
OJK: Pasar Saham Domestik Stabil, Asing Masih Beli
-
Fit and Proper Test Bos OJK, Friderica Widyasari: Ini Adalah Awal dari Era Baru!
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 Bedak Tabur Terbaik untuk Kerutan dan Garis Halus Usia 50 Tahun ke Atas
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- Promo Alfamart Hari Ini 7 Mei 2026, Body Care Fair Diskon hingga 40 Persen
- 5 Pilihan HP Android Kamera Stabil untuk Hasil Video Minim Jitter Mei 2026, Terbaik di Kelasnya
Pilihan
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
Terkini
-
5 Tabungan yang Wajib Dimiliki Saat Muda, Bisa Jadi Bekal di Hari Tua
-
Asing 'Borong' Rp11 Triliun di IHSG, Sinyal Rebound Saham Blue Chip?
-
Ini Cara Kiai Ashari Kumpulkan Uang untuk Ponpes Ndholo Kusumo
-
Pengusaha Ngadu ke Purbaya, Proyek PLTSa Makassar Terhambat Sejak 2022
-
OJK Pantau Pindar KoinP2P, Setelah Petingginya Tersandung Korupsi
-
Industri Kretek Indonesia Terancam Mati
-
Fenomena Food Noise yang Bikin Indonesia Peringkat ke-3 di Asia Tenggara
-
Setelah Ada Kecelakaan KRL, KAI Baru Benahi Perlintasan Sebidang
-
Anomali IHSG Pekan Ini: Indeks Melemah, Asing 'Net Buy' Jumbo
-
Tak Hanya Eksploitasi Seksual, Ashari Kiai Cabul Juga Minta Setoran Uang dari Pengikut