Bisnis / Makro
Kamis, 26 Maret 2026 | 19:36 WIB
Juru Bicara Kemenko Perekonomian, Haryo Limanseto. [Dok. Kemenko Perekonomian]
Baca 10 detik
  • Pemerintah Indonesia memastikan stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga menghadapi ketegangan geopolitik Timur Tengah.
  • Stabilitas makroekonomi didukung pertumbuhan 5,11 persen tahun 2025 dan inflasi target, serta konsumsi domestik kuat.
  • Ketahanan fiskal menguat, didukung pertumbuhan pajak 30,4 persen per Februari 2026, serta penguatan sektor manufaktur.

Suara.com - Pemerintah memastikan stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, termasuk konflik di kawasan Timur Tengah imbas perang Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel. 

Di tengah dinamika tersebut, Pemerintah menilai fundamental ekonomi Indonesia masih kuat dan resilien. Kondisi ini didukung oleh koordinasi kebijakan yang solid serta daya tahan ekonomi domestik yang dinilai tetap terjaga.

Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Haryo Limanseto, menjelaskan pemerintah terus mencermati perkembangan global sekaligus membuka ruang masukan dari masyarakat dalam perumusan kebijakan.

"Kami menghormati berbagai pandangan dari masyarakat, perlu kami tambahkan bahwa Pemerintah memastikan bahwa kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini tetap kuat dan resilian, ditopang oleh beberapa faktor utama," ujar Haryo dalam keterangan tertulis, Kamis (26/3/2026).

Analisis mendalam strategi perang atrisi Iran dalam menghadapi gempuran militer skala besar Amerika Serikat dan Israel. (BBC)

Ia menjelaskan, stabilitas makroekonomi Indonesia masih terjaga dengan baik di tengah tekanan global. Pertumbuhan ekonomi pada 2025 tercatat sebesar 5,11 persen secara tahunan, sementara inflasi tetap berada dalam kisaran target 2,5 persen plus minus 1 persen.

Dari sisi domestik, konsumsi masyarakat masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi. Hal ini diperkuat oleh berbagai stimulus fiskal serta program bantuan sosial yang terus digulirkan Pemerintah.

Selain itu, sektor manufaktur juga menunjukkan kinerja yang solid. Hal ini tercermin dari Purchasing Managers’ Index (PMI) yang berada di level 53,8 atau dalam fase ekspansi, sekaligus menjadi yang tertinggi dalam dua tahun terakhir.

Ketahanan fiskal juga dinilai tetap kuat. Hingga Februari 2026, penerimaan pajak tercatat tumbuh 30,4 persen secara tahunan, didukung reformasi perpajakan serta implementasi digitalisasi melalui sistem coretax.

Di tengah ketidakpastian global akibat konflik geopolitik, Pemerintah juga menyoroti penguatan ketahanan pangan dan energi sebagai bantalan ekonomi. Indonesia disebut telah mencapai swasembada pada sejumlah komoditas pangan serta mencatat surplus produksi energi melalui program biodiesel.

Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I Berpotensi Capai 5,5 Persen Berkat Lebaran dan Stimulus

Upaya transformasi ekonomi juga terus didorong melalui hilirisasi industri, penguatan investasi, hingga akselerasi digitalisasi. Pengembangan kendaraan listrik dan energi baru terbarukan menjadi bagian dari strategi jangka panjang Pemerintah.

Ke depan, Pemerintah tetap optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat mencapai sekitar 5,4 persen pada 2026, meski tekanan global masih berlanjut.

"Kami akan terus menjaga stabilitas dan memastikan kebijakan yang diambil adaptif terhadap perkembangan global, sehingga perekonomian nasional tetap tumbuh positif dan berkelanjutan," pungkas Haryo.

Load More