- Pemerintah Indonesia memastikan stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga menghadapi ketegangan geopolitik Timur Tengah.
- Stabilitas makroekonomi didukung pertumbuhan 5,11 persen tahun 2025 dan inflasi target, serta konsumsi domestik kuat.
- Ketahanan fiskal menguat, didukung pertumbuhan pajak 30,4 persen per Februari 2026, serta penguatan sektor manufaktur.
Suara.com - Pemerintah memastikan stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, termasuk konflik di kawasan Timur Tengah imbas perang Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Di tengah dinamika tersebut, Pemerintah menilai fundamental ekonomi Indonesia masih kuat dan resilien. Kondisi ini didukung oleh koordinasi kebijakan yang solid serta daya tahan ekonomi domestik yang dinilai tetap terjaga.
Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Haryo Limanseto, menjelaskan pemerintah terus mencermati perkembangan global sekaligus membuka ruang masukan dari masyarakat dalam perumusan kebijakan.
"Kami menghormati berbagai pandangan dari masyarakat, perlu kami tambahkan bahwa Pemerintah memastikan bahwa kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini tetap kuat dan resilian, ditopang oleh beberapa faktor utama," ujar Haryo dalam keterangan tertulis, Kamis (26/3/2026).
Ia menjelaskan, stabilitas makroekonomi Indonesia masih terjaga dengan baik di tengah tekanan global. Pertumbuhan ekonomi pada 2025 tercatat sebesar 5,11 persen secara tahunan, sementara inflasi tetap berada dalam kisaran target 2,5 persen plus minus 1 persen.
Dari sisi domestik, konsumsi masyarakat masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi. Hal ini diperkuat oleh berbagai stimulus fiskal serta program bantuan sosial yang terus digulirkan Pemerintah.
Selain itu, sektor manufaktur juga menunjukkan kinerja yang solid. Hal ini tercermin dari Purchasing Managers’ Index (PMI) yang berada di level 53,8 atau dalam fase ekspansi, sekaligus menjadi yang tertinggi dalam dua tahun terakhir.
Ketahanan fiskal juga dinilai tetap kuat. Hingga Februari 2026, penerimaan pajak tercatat tumbuh 30,4 persen secara tahunan, didukung reformasi perpajakan serta implementasi digitalisasi melalui sistem coretax.
Di tengah ketidakpastian global akibat konflik geopolitik, Pemerintah juga menyoroti penguatan ketahanan pangan dan energi sebagai bantalan ekonomi. Indonesia disebut telah mencapai swasembada pada sejumlah komoditas pangan serta mencatat surplus produksi energi melalui program biodiesel.
Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I Berpotensi Capai 5,5 Persen Berkat Lebaran dan Stimulus
Upaya transformasi ekonomi juga terus didorong melalui hilirisasi industri, penguatan investasi, hingga akselerasi digitalisasi. Pengembangan kendaraan listrik dan energi baru terbarukan menjadi bagian dari strategi jangka panjang Pemerintah.
Ke depan, Pemerintah tetap optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat mencapai sekitar 5,4 persen pada 2026, meski tekanan global masih berlanjut.
"Kami akan terus menjaga stabilitas dan memastikan kebijakan yang diambil adaptif terhadap perkembangan global, sehingga perekonomian nasional tetap tumbuh positif dan berkelanjutan," pungkas Haryo.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP dengan Baterai 7000 mAh Terbaik 2026, Anti Lowbat Seharian Cocok untuk Ojol
- Siapa Ginka Febriyanti yang Dituding Ikut Demo Bayaran dan Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- Sering Mati Listrik? Ini 4 Genset Mini 1000 Watt yang Irit dan Tidak Berisik
Pilihan
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
Terkini
-
Biang Kerok IHSG Melorot 1,72% ke Level 5.896
-
Purbaya Kembali Guyur Dana SAL Rp 100 T ke Himbara, Total Kas Negara Jadi Rp 400 T
-
Pengguna Pertamax Mulai Bergeser ke Pertalite, Stok Aman?
-
Mahasiswa Jangan Khawatir, Industri Petrokimia Butuh Banyak SDM
-
BGN Kembali Efisiensi Anggaran MBG, Purbaya Sebut Kemenkeu Kini Ikut Awasi SPPG
-
Kewajiban NIB bagi Pedagang Online: Solusi atau Beban Baru?
-
Danantara Bentuk BUMN Ekspor DSI, Bidik Kebocoran Devisa Rp 5.500 Triliun Lebih
-
Rupiah Berotot Sore Ini ke Level Rp17.922/USD
-
Pedagang Asing Jualan di E-Commerce RI Sekarang Semakin Sulit
-
Industri Alas Kaki Masih Butuh SDM, Difabel Punya Peluang Besar