- PT Triputra Agro Persada Tbk mengadakan pelatihan PERKASA bagi petani sawit di Muaro Jambi dan Paser sejak April 2026.
- Program ini mengajarkan praktik agronomi terstruktur mengenai pembibitan, pemupukan disiplin, serta pengendalian hama untuk mengoptimalkan hasil panen petani.
- Perusahaan melakukan pendampingan berkelanjutan dan menyediakan layanan konsultasi untuk memastikan petani menerapkan standar budidaya sawit yang lebih profesional.
Suara.com - Para pertani sawit mulai menggunakan metode yang baru untuk bertani. Salah satunya dengan metode yang lebih terukur dan berbasis ilmu agronomi.
Salah satu pertani sawit di Muaro Jambi, Maijan, mengaku kini lebih terstruktur dalam melakukan pemupukan, mulai dari penentuan dosis hingga jadwal aplikasi yang lebih disiplin.
Transformasi tersebut terjadi setelah ia mengikuti pelatihan Petani Berkualitas dan Sejahtera (PERKASA) yang diinisiasi oleh PT Triputra Agro Persada Tbk. (TAPG) di berbagai wilayah operasionalnya.
"Dulu saya pikir mupuk itu gampang, tinggal tabur saja. Ternyata cara kita memupuk itu menentukan sehat tidaknya sawit yang ditanam. Kalau pemupukan dilakukan dengan benar, hasilnya memang akan optimal. Hal ini baru saya ketahui saat mengikuti pelatihan PERKASA di PT Brahma Binabakti yang sangat bagus untuk kami para petani sawit. Kami mendapat banyak pengalaman tentang pembibitan, perawatan hingga panen yang bisa langsung kami terapkan di kebun," ujarnya seperti dikutip, Rabu (1/4/2026).
Melalui pelatihan ini, para petani mulai memahami praktik agronomi yang benar, mulai dari pemilihan pupuk, dosis yang tepat, hingga waktu aplikasi yang efektif untuk mendukung pertumbuhan tanaman.
Hal serupa juga dirasakan Durham, petani asal Desa Muara Pias, Long Kali, Paser. Ia mengaku selama ini menghadapi berbagai kendala dalam budidaya sawit akibat keterbatasan pengetahuan.
"Kendala di lapangan memang banyak, terutama soal bibit dan hama. Dulu kami bekerja berdasarkan kebiasaan saja, jadi ketika ada tanaman yang tidak berbuah, kami tidak tahu apakah itu karena bibit atau cara perawatannya. Setelah ikut pelatihan PERKASA, kami jadi paham sistem dan praktik yang benar. Ilmu ini sangat membantu untuk memperbaiki pengelolaan kebun agar hasilnya bisa lebih baik," ungkapnya.
Program PERKASA sendiri dirancang dengan kombinasi 40 persen teori dan 60 persen praktik langsung di lapangan selama tiga hari. Metode ini diharapkan mampu membuat petani lebih cepat memahami sekaligus menerapkan ilmu yang didapat.
Tak berhenti pada pelatihan, perusahaan juga melakukan monitoring secara berkala untuk memastikan praktik baru tersebut benar-benar diterapkan di kebun masing-masing. Pendampingan ini dinilai penting agar perubahan tidak hanya bersifat sementara, tetapi menjadi standar baru dalam bertani.
Baca Juga: Tak Hanya Kejar Cuan, Emiten TAPG Kerek Kualitas Hidup Masyarakat Sekitar Operasional
Selain itu, petani juga dapat mengakses layanan konsultasi agronomi melalui hotline WhatsApp, serta mendapatkan panduan praktis melalui buku yang disediakan perusahaan.
Peserta pelatihan lainnya, Feidy Rogi, mengaku pendekatan ini sangat membantu petani dalam meningkatkan hasil panen.
"Selama ini para petani sawit hanya mengandalkan pengalaman otodidak dan hasil panennya kurang memuaskan. Buku ini sangat membantu kami untuk terus memperbaiki cara pengelolaan kebun yang baik dan benar agar hasil panennya juga semakin optimal," bebernya.
Melalui pendekatan berbasis edukasi dan pendampingan, program ini mulai mendorong perubahan pola pikir petani dari sekadar kebiasaan menjadi praktik yang lebih profesional.
Berita Terkait
Terpopuler
- Asal-usul Kenapa Semua Pejabat hingga Diplomat Iran Tak Pakai Dasi
- Sunscreen SPF 50 Apa yang Bagus? Ini 5 Pilihan untuk Perlindungan Maksimal
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
- Harga Adidas Adizero Termurah Tipe Apa Saja? Ini 5 Varian Terbaiknya
- 7 Rekomendasi Parfum Lokal Tahan Lama dengan Wangi Musky
Pilihan
-
Buntut Polemik Suket Pendidikan Gibran, Subhan Palal Juga Gugat Pimpinan DPR-MPR
-
Tok! Eks Sekretaris MA Nurhadi Divonis 5 Tahun Penjara dan Wajib Bayar Uang Pengganti Rp137 Miliar
-
Aksi Tenang Nenek Beruban Curi TV 30 Inci di Jatinegara Viral, Korban Tak Tega Lapor Polisi
-
Panglima TNI: Tiga Prajurit yang Gugur di Lebanon Terima Santunan Miliaran dan Pangkat Anumerta
-
Swasta Diimbau Ikut WFH, Tak Ada Sanksi Menanti
Terkini
-
Sambangi Korsel, Bahlil Hasilkan 3 Kerja Sama Strategis di Sektor Energi
-
Sumbang Rp 4,96 T, ITDC Beberkan Efek MotoGP ke Ekonomi RI
-
Menaker: WFH Tidak Boleh Kurangi Gaji dan Tunjangan Karyawan
-
Ekonom Beberkan Solusi Agar APBN Tak Terbebani Subsidi Energi
-
WFH Seminggu Sekali untuk Swasta Tak Harus Setiap Jumat
-
Dorong WFH 1 Hari dalam Sepekan, Menaker Pastikan Hak Pekerja Tak Dipangkas
-
Dana SAL Rp 420 Triliun, Purbaya Buka Opsi Pakai Kas Pemerintah demi Amankan APBN
-
Imbauan WFH 1 Hari Seminggu di Sektor Swasta Dapat Dukungan Pengusaha dan Pekerja
-
Purbaya Proyeksi Defisit APBN 2026 Tembus 2,9% Meski Harga Minyak Terus Naik
-
Purbaya Ungkap Harga BBM Stabil karena Ditanggung Pertamina Sementara