Bisnis / Keuangan
Kamis, 02 April 2026 | 16:46 WIB
PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) membuktikan ketangguhannya di tengah awan mendung yang menyelimuti industri bahan bangunan sepanjang 2025. Foto ist.
Baca 10 detik
  • SIG jaga profit 2025 lewat efisiensi dan pengelolaan pasar mikro yang disiplin.
  • Penjualan luar negeri melonjak 14,3% jadi 7,95 juta ton di tengah pasar lesu.
  • SIG bidik ekspor 1 juta ton semen via fasilitas Tuban pada pertengahan 2026.

Suara.com - PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) membuktikan ketangguhannya di tengah awan mendung yang menyelimuti industri bahan bangunan sepanjang 2025. Meski pasar domestik melambat, emiten bersandi SMGR pelat merah ini sukses membalikkan keadaan melalui transformasi bisnis agresif dan penguatan pasar luar negeri.

Corporate Secretary SIG, Vita Mahreyni mengungkapkan, kunci resiliensi perusahaan terletak pada transformasi yang dimulai sejak Juli 2025. Fokusnya jelas: pengelolaan pasar mikro, efisiensi biaya, serta optimalisasi produk turunan.

"Disiplin menjalankan transformasi bisnis sejak Juli 2025 membuat SIG lebih berdaya saing dan adaptif. Kami mampu mempertahankan profitabilitas di tengah pasar semen domestik yang masih melambat," ujar Vita dalam keterangannya, Kamis (2/4/2026).

Saat permintaan di dalam negeri menantang, SIG justru "tancap gas" di pasar regional. Tak main-main, perusahaan mencatatkan volume penjualan regional sebesar 7,95 juta ton pada 2025, melonjak 14,3% (yoy) dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 6,96 juta ton.

Keperkasaan SIG juga terlihat dari sisi neraca keuangan. Berkat operational excellence, beban pokok pendapatan berhasil ditekan 0,3% dan beban usaha turun 1,1%. Paling impresif, biaya keuangan bersih menyusut drastis 32,7% (yoy), memperkokoh fondasi keuangan perusahaan.

Menatap tahun 2026, SIG tidak mengendurkan ambisinya. Kolaborasi strategis dengan raksasa Jepang, Taiheiyo Cement Corporation, menjadi kartu as baru. Pengembangan dermaga dan fasilitas produksi ekspor di Tuban, Jawa Timur, kini menjadi prioritas utama.

"Kami menargetkan mulai ekspor pada pertengahan tahun 2026 dari fasilitas Tuban dengan kapasitas 500 ribu hingga 1 juta ton per tahun," tegas Vita.

Selain ekspor, kolaborasi ini merambah lini bisnis soil stabilization (stabilisasi tanah) untuk menciptakan pasar baru di industri konstruksi Asia.

SIG juga membuktikan bahwa profit dan keberlanjutan bisa berjalan beriringan. Pada 2025, intensitas emisi Gas Rumah Kaca (GRK) cakupan 1 turun hingga 21% dari basis 2010.

Baca Juga: Neraca Perdagangan RI Surplus 2,23 Miliar USD di Januari-Februari 2026, Naik 70 Bulan Beruntun

Langkah hijau ini didorong oleh peningkatan konsumsi bahan bakar alternatif sebesar 681.567 ton, pemanfaatan panel surya, hingga teknologi Waste Heat Recovery Power Generation.

"Bagi SIG, kinerja keberlanjutan adalah competitive advantage. Ini membuat perusahaan lebih adaptif di tengah dinamika industri dan situasi geopolitik yang tidak menentu," pungkas Vita.

Load More