- SIG jaga profit 2025 lewat efisiensi dan pengelolaan pasar mikro yang disiplin.
- Penjualan luar negeri melonjak 14,3% jadi 7,95 juta ton di tengah pasar lesu.
- SIG bidik ekspor 1 juta ton semen via fasilitas Tuban pada pertengahan 2026.
Suara.com - PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) membuktikan ketangguhannya di tengah awan mendung yang menyelimuti industri bahan bangunan sepanjang 2025. Meski pasar domestik melambat, emiten bersandi SMGR pelat merah ini sukses membalikkan keadaan melalui transformasi bisnis agresif dan penguatan pasar luar negeri.
Corporate Secretary SIG, Vita Mahreyni mengungkapkan, kunci resiliensi perusahaan terletak pada transformasi yang dimulai sejak Juli 2025. Fokusnya jelas: pengelolaan pasar mikro, efisiensi biaya, serta optimalisasi produk turunan.
"Disiplin menjalankan transformasi bisnis sejak Juli 2025 membuat SIG lebih berdaya saing dan adaptif. Kami mampu mempertahankan profitabilitas di tengah pasar semen domestik yang masih melambat," ujar Vita dalam keterangannya, Kamis (2/4/2026).
Saat permintaan di dalam negeri menantang, SIG justru "tancap gas" di pasar regional. Tak main-main, perusahaan mencatatkan volume penjualan regional sebesar 7,95 juta ton pada 2025, melonjak 14,3% (yoy) dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 6,96 juta ton.
Keperkasaan SIG juga terlihat dari sisi neraca keuangan. Berkat operational excellence, beban pokok pendapatan berhasil ditekan 0,3% dan beban usaha turun 1,1%. Paling impresif, biaya keuangan bersih menyusut drastis 32,7% (yoy), memperkokoh fondasi keuangan perusahaan.
Menatap tahun 2026, SIG tidak mengendurkan ambisinya. Kolaborasi strategis dengan raksasa Jepang, Taiheiyo Cement Corporation, menjadi kartu as baru. Pengembangan dermaga dan fasilitas produksi ekspor di Tuban, Jawa Timur, kini menjadi prioritas utama.
"Kami menargetkan mulai ekspor pada pertengahan tahun 2026 dari fasilitas Tuban dengan kapasitas 500 ribu hingga 1 juta ton per tahun," tegas Vita.
Selain ekspor, kolaborasi ini merambah lini bisnis soil stabilization (stabilisasi tanah) untuk menciptakan pasar baru di industri konstruksi Asia.
SIG juga membuktikan bahwa profit dan keberlanjutan bisa berjalan beriringan. Pada 2025, intensitas emisi Gas Rumah Kaca (GRK) cakupan 1 turun hingga 21% dari basis 2010.
Baca Juga: Neraca Perdagangan RI Surplus 2,23 Miliar USD di Januari-Februari 2026, Naik 70 Bulan Beruntun
Langkah hijau ini didorong oleh peningkatan konsumsi bahan bakar alternatif sebesar 681.567 ton, pemanfaatan panel surya, hingga teknologi Waste Heat Recovery Power Generation.
"Bagi SIG, kinerja keberlanjutan adalah competitive advantage. Ini membuat perusahaan lebih adaptif di tengah dinamika industri dan situasi geopolitik yang tidak menentu," pungkas Vita.
Berita Terkait
Terpopuler
- Asal-usul Kenapa Semua Pejabat hingga Diplomat Iran Tak Pakai Dasi
- 5 HP Infinix Kamera Beresolusi Tinggi Terbaru 2026 dengan Harga Murah
- 7 Rekomendasi Parfum Lokal Tahan Lama dengan Wangi Musky
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
- Penyebab BRImo Sempat Terkendala Pagi Ini, Kini Layanan Pulih Sepenuhnya
Pilihan
-
Diperiksa Kasus Penggelapan Rp2,4 Triliun, Apa Peran Dude Harlino dan Istri di PT DSI?
-
Diguncang Gempa M 7,6, Plafon Gereja Paroki Rumengkor Ambruk Jelang Ibadah Kamis Putih
-
Isak Tangis Pecah di Kulon Progo, Istri Praka Farizal Romadhon Tiba di Rumah Duka
-
Bareskrim Periksa Pasangan Artis Dude Herlino-Alyssa Terkait Skandal Kasus PT DSI Rp2,4 Triliun
-
BREAKING NEWS: Peringatan Dini Tsunami 3, BMKG Minta Evakuasi Warga
Terkini
-
Dilema Selat Hormuz: DEN Minta Warga Tenang, Stok BBM Nasional Masih Terjaga
-
Impor Mobil Pikap Tembus Rp 975,5 Miliar di Januari-Februari 2026, Buat Kopdes Merah Putih?
-
Data BPS Ungkap Emas Deflasi di Maret 2026 Usai Inflasi 30 Bulan Beruntun
-
Bulog Tegaskan Komitmen Dukung Petani Tebu Blora, Siap Fasilitasi Penyaluran ke PG di Jawa Tengah
-
82 Orang Diperiksa dalam Kasus PT DSI, Ada Dude Herlino dan Alyssa Soebandono
-
Mudik Lebaran 2026: Penggunaan SPKLU PLN Melonjak 4 Kali Lipat
-
Pengusaha Soroti Risiko Ekonomi di Balik Imbauan WFH dan Pembatasan BBM Subsidi
-
Neraca Perdagangan RI Surplus 2,23 Miliar USD di Januari-Februari 2026, Naik 70 Bulan Beruntun
-
Waskita Karya Catat Laba Kotor Rp1,58 Triliun, Genjot Percepat Penyehatan Keuangan
-
SPBE Bekasi Terbakar: Pertamina Patra Niaga Gagap Soal Data Korban, Investigasi Masih Gelap