- Badan Pusat Statistik memproyeksikan produksi beras nasional periode Januari hingga Mei 2026 mencapai 16,57 juta ton.
- Angka produksi beras tersebut mengalami penurunan sebesar 380 ribu ton atau 2,2 persen dibanding tahun 2025.
- Penurunan produksi beras disebabkan berkurangnya luas panen padi sebesar 0,13 juta hektar dibandingkan periode sebelumnya.
Suara.com - Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan produksi beras nasional selama Januari-Mei 2026 mencapai 16,57 juta ton. Angka ini menurun 380 ribu ton atau 2,2 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2025.
"Produksi beras sepanjang Januari sampai dengan Mei tahun 2026 diperkirakan mencapai 16,57 juta ton atau mengalami penurunan sebesar 0,38 juta ton, atau menurun 2,2 persen jika dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono dalam konferensi pers, dikutip Jumat (3/4/2026).
Dalam paparannya, Ateng menerangkan kalau produksi beras nasional menurun karena luas panen yang kemudian berdampak pada produksi padi atau gabah.
Pada Februari 2026, luas panen padi sebenarnya mencapai 0,94 juta hektar atau mengalami peningkatan sebesar 23,62 persen jika dibandingkan pada bulan Februari tahun 2025 yang sebesar 0,76 juta hektar.
Namun potensi luas panen pada Maret hingga Mei 2026 diperkirakan mencapai 3,85 juta hektar atau mengalami penurunan sebesar 0,46 juta hektar, menurun 10,60 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
"Dengan demikian, luas panen padi sepanjang Januari sampai dengan Mei 2026 diperkirakan mencapai 5,35 juta hektar atau mengalami penurunan sebesar 0,13 juta hektar atau menurun 2,35 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025," beber dia.
Sejalan dengan gambaran luas panen, produksi padi pada Februari tahun 2026 diperkirakan mencapai 5,05 juta ton gabah kering giling (GKG), atau mengalami peningkatan 27,41 persen jika dibandingkan dengan Februari 2025 yang mencapai 3,96 juta ton per GKG.
Sementara itu, untuk potensi produksi padi pada Maret hingga Mei 2026 diperkirakan sebesar 20,68 juta ton GKG atau mengalami penurunan sebesar 2,59 juta ton GKG. Ini menurun 11,12 persen jika dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025.
"Dengan demikian produksi padi sepanjang Januari sampai dengan bulan Mei tahun 2026 diperkirakan mencapai 28,77 juta ton GKG atau mengalami penurunan sebesar 0,65 juta ton GKG atau menurun sebesar 2,2 persen jika dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025," paparnya.
Baca Juga: BPS: Impor RI Februari 2026 Capai Rp 355,1 Triliun, Sektor Migas Turun
Kendati begitu, Ateng tak menampik angka potensi ini masih dapat berubah tergantung pada beberapa kondisi pertanaman sepanjang Maret hingga Mei 2026.
"Contohnya di sini ketika ada serangan hama atau organisme pengganggu tanaman (OPT) ketika nanti ada banjir, ketika kekeringan, ketika misalnya waktu pelaksanaan panen oleh petaninya bergeser, maka ini tentunya akan mengalami perubahan potensi yang sudah tadi saya uraikan tersebut," pungkasnya.
Berita Terkait
-
BPS: Impor RI Februari 2026 Capai Rp 355,1 Triliun, Sektor Migas Turun
-
Impor Mobil Pikap Tembus Rp 975,5 Miliar di Januari-Februari 2026, Buat Kopdes Merah Putih?
-
Data BPS Ungkap Emas Deflasi di Maret 2026 Usai Inflasi 30 Bulan Beruntun
-
Neraca Perdagangan RI Surplus 2,23 Miliar USD di Januari-Februari 2026, Naik 70 Bulan Beruntun
-
9.401 Peserta BPJS PBI Tak Terlacak dan 3.934 Lainnya Telah Meninggal, Mensos Beri Penjelasan
Terpopuler
- Honor X7d Resmi Meluncur di Indonesia, HP Tangguh 512GB, Baterai Awet 6500mAh, Harga Rp4 Jutaan
- 7 Parfum Tahan Lama di Indomaret, Wangi Mewah tapi Harga Ramah
- Anggota DPR Habiburokhman sampai Turun Tangan Komentari Kasus Erin Taulany vs eks ART
- 5 Cushion Anti Longsor 24 Jam, Makeup Tahan Lama Meski Cuaca Panas
- 8 Sepatu Skechers yang Diskon di MAPCLUB, Bisa Hemat hingga Rp700 Ribu
Pilihan
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
-
'Desa Nggak Pakai Dolar' Prabowo Dikritik: Realita Pahit di Dapur Rakyat Saat Rupiah Tembus Rp17.600
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
Terkini
-
Kemendag Bidik Penyalur Nakal, Tegakkan Sanksi Demi Jaga Pasokan Minyakita
-
Besok Purbaya Akan Buktikan Kritik The Economist Keliru
-
Purbaya Sebut 'Media Bodoh', Gurita Bisnis Pemilik The Economist Tembus Ratusan Triliun
-
PT Timah Setor Rp 1,624 triliun ke Negara Sepanjang 2025
-
CELIOS: Harga-harga Naik 2 Bulan ke Depan, PHK Mengintai
-
BI Pastikan Cadangan Devisa Lebih dari Cukup untuk Stabilisasi Nilai Tukar Rupiah
-
Menkeu dan BI Optimistis Rupiah Menguat Lagi di Juli 2026
-
PHK Meningkat Tajam, Klaim Kehilangan Kerja di BPJS Tenaga Kerja Melonjak 91 Persen
-
Tak Mau Tahu, BI Tetap Pede Rupiah di Level Rp 16.800 pada Akhir Tahun
-
Badai Ekonomi Ganda: Rupiah Terpuruk ke Rp 17.667 dan Harga Minyak Dunia Kian Membara