- BPS mencatat komoditas emas perhiasan mengalami deflasi sebesar 1,17 persen pada Maret 2026 setelah 30 bulan berturut-turut inflasi.
- Inflasi bulanan Maret 2026 tercatat 0,41 persen, sementara inflasi tahunan mencapai 0,94 persen akibat kenaikan harga pangan dan energi.
- Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama inflasi nasional dengan kenaikan harga pada komoditas beras serta daging.
Suara.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan komoditas emas mengalami deflasi pada Maret 2026. Ini terjadi setelah 30 bulan berturut-turut emas mengalami inflasi.
"Komoditas emas perhiasan selama 30 bulan berturut-turut mengalami inflasi, dan baru saat ini komoditas emas mengalami deflasi," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, dikutip Kamis (2/4/2026).
Ia menjelaskan, tingkat deflasi emas perhiasan pada Maret 2026 mencapai 1,17 persen secara month-to-month (mtm) dengan andil inflasi umum sebesar 0,03 persen.
Akibat deflasi beruntun itu, emas perhiasan menjadi komoditas yang memberikan andil terdalam terhadap kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, dengan kontribusi deflasi sebesar 0,37 persen.
Adapun kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi salah satu hal utama penyumbang deflasi Maret 2026, dengan tingkat deflasi sebesar 0,21 persen dan andil deflasi sebesar 0,01 persen.
Atang juga mengungkapkan kalau deflasi kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya pada Maret 2026 merupakan yang terendah dalam empat tahun terakhir.
Inflasi Maret naik 0,94 persen yoy
Di saat yang sama, BPS melaporkan adanya kenaikan tekanan inflasi pada periode Maret 2026. Meroketnya harga sejumlah komoditas pangan dan energi menjadi pemicu utama terkereknya Indeks Harga Konsumen (IHK) di bulan ketiga tahun ini.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono mengungkapkan, inflasi bulanan (month-to-month/mtm) Maret 2026 tercatat sebesar 0,41%. Angka ini membawa IHK bergerak naik ke level 110,95, dibandingkan posisi Februari yang berada di angka 110,57.
"Pada Maret 2026 terjadi inflasi sebesar 0,41 persen secara bulanan. Sementara itu, jika ditarik secara tahunan (year-on-year), inflasi tercatat sebesar 0,94 persen," ujar Ateng dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (1/4/2026).
Baca Juga: Neraca Perdagangan RI Surplus 2,23 Miliar USD di Januari-Februari 2026, Naik 70 Bulan Beruntun
Lonjakan inflasi ini utamanya disumbang oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi sebesar 1,07% dengan andil mencapai 0,32%. Ateng merinci, komoditas "meja makan" seperti ikan segar dan daging ayam ras menjadi motor utama dengan andil masing-masing 0,06%.
Menyusul di belakangnya adalah beras dengan andil 0,03%. Sementara telur ayam ras, cabai rawit, minyak goreng, hingga daging sapi masing-masing memberikan kontribusi sebesar 0,02% terhadap laju inflasi.
Tak hanya urusan perut, sektor transportasi juga ikut memanas. Kenaikan harga bensin menyumbang inflasi 0,04%, disusul tarif angkutan antarkota sebesar 0,03%.
"Seluruh komponen penyusun inflasi mengalami kenaikan. Komponen harga bergejolak (volatile food) menjadi penyumbang utama dengan inflasi 1,58 persen dan andil 0,27 persen," tambah Ateng.
Berita Terkait
-
Neraca Perdagangan RI Surplus 2,23 Miliar USD di Januari-Februari 2026, Naik 70 Bulan Beruntun
-
Harga Tembaga dan Emas Terkoreksi, Tekan Kinerja Ekspor Tambang Awal April 2026
-
Midah Si Manis Bergigi Emas: Ketika Perempuan Menggugat Moralitas Semu
-
Harga Emas di Pegadaian Naik Signifikan Hari Ini, Kembali ke Rp 3 Jutaan
-
9.401 Peserta BPJS PBI Tak Terlacak dan 3.934 Lainnya Telah Meninggal, Mensos Beri Penjelasan
Terpopuler
- 6 Warna Pakaian yang Dipercaya Bawa Keberuntungan untuk Shio di Tahun Kuda Api 2026
- Jokowi Sembuh dan Siap Keliling Indonesia, Pengamat: Misi Utamanya Loloskan PSI ke Senayan!
- 5 HP Xiaomi RAM Besar Termurah, Baterai Awet untuk Multitasking Harian
- 5 Lipstik Wardah Tahan Lama dan Tidak Luntur Saat Makan, Cocok untuk Daily hingga Kondangan
- 5 HP Xiaomi Paling Murah 2026, Mulai Rp1 Juta Spesifikasi Mantap untuk Harian
Pilihan
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
-
Di Tengah Maraknya Klitih, Korban Kejahatan di Jogja Harus Cari Penjamin Biaya Medis Sendiri
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
-
Menilik Sepatu Lari 'Anak Jaksel' di Lapangan Banteng: Brand Lokal Mulai Mendominasi?
Terkini
-
BRI Terapkan Aturan Baru Rekening 2026: Ini Beda Status Aktif, Tidak Aktif, dan Dormant
-
Cara Cek NIK Penerima Bansos Kemensos Usai Update dari DTKS Jadi DTSEN
-
Rupiah Bisa Tembus Rp17.900, Ini Alasan Mata Uang RI Diproyeksi Makin Anjlok!
-
Harga Pangan Hari Ini: Cabai Rawit dan Daging Ayam Naik, Beras Premium Tetap Tinggi
-
3 Pilihan Aset Aman untuk Investasi saat Rupiah Melemah ke Rp17.600 per Dolar AS
-
IKN Disebut 'Gegabah Terstruktur', Prabowo Diminta Evaluasi Proyek Era Jokowi
-
Nilai Tukar Rupiah dari Masa ke Masa, Era Prabowo Subianto di Posisi Berapa?
-
Kesepakatan China-AS Jadi 'Omong Kosong', Perang Masih Ancam Ekonomi Dunia
-
IHSG Libur 4 Hari, Senin Besok Dihantui Pelemahan Rupiah dan Aksi Jual Investor
-
Percepat Akselerasi KEK di Indonesia, Wahyu Agung Group Jalani MOU dengan Perusahaan China