Bisnis / Keuangan
Senin, 06 April 2026 | 17:05 WIB
Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Gedung Bursa Efek Indonesia. [Suara.com/Alfian Winanto]
Baca 10 detik
  • Donald Trump terhadap Iran memicu lonjakan harga minyak dan menekan pasar saham global, termasuk IHSG.
  • Isu potensi keluarnya sejumlah saham dari indeks MSCI akibat kepemilikan terkonsentrasi memperburuk tekanan indeks.
  • Secara teknikal, IHSG berpotensi menguji support 6.900, dengan sektor infrastruktur memimpin pelemahan dan sektor cyclicals menjadi penopang.

Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus menerus longsor hingga akhir perdagangan Senin, 6 April 2026. Pastinya, pelemahan IHSG disumbang dari meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik geopolitik di Timur Tengah, serta pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Mengutip riset Phintraco Sekuritas, IHSG ditutup melemah 0,53 persen ke level 6.989. Pergerakan indeks sudah berada di bawah tekanan sejak awal sesi perdagangan.

"Pelemahan IHSG dipicu oleh berlanjutnya kenaikan harga minyak mentah akibat konflik di Timur Tengah yang terus berlanjut,"tulis Phintraco dalam risetnya.

Sentimen utama datang dari pernyataan Presiden Donald Trump yang mengancam akan menyerang infrastruktur Iran jika akses pelayaran di Selat Hormuz tidak dibuka sepenuhnya. Namun Iran menolak ultimatum tersebut dan hanya bersedia membuka jalur tersebut jika mendapat kompensasi atas kerusakan akibat perang.

IHSG terus alami penurunan[Antara]

Di sisi lain, Trump juga menyampaikan harapan adanya peluang kesepakatan damai. Kondisi ini membuat investor global berada dalam posisi wait and see di tengah tarik ulur antara potensi deeskalasi dan risiko eskalasi konflik yang lebih luas.

Selain faktor eksternal, tekanan IHSG juga datang dari sentimen domestik. Pengumuman sejumlah saham dengan kepemilikan terkonsentrasi tinggi per Maret 2026 turut membebani pergerakan indeks.

"Hal ini karena kekhawatiran investor bahwa dalam saham-saham tersebut berpotensi akan dikeluarkan dari indeks MSCI pada rebalancing Mei 2026 mendatang," jelas Phintraco.

Meski demikian, dalam jangka menengah hingga panjang, kondisi tersebut dinilai dapat memberikan dampak positif karena meningkatkan transparansi dan pemahaman investor terhadap karakteristik saham.

Dari sisi sektoral, saham infrastruktur mencatatkan pelemahan terdalam sebesar 0,92 persen, sementara sektor cyclicals justru menjadi penopang dengan kenaikan 2,26 persen.

Baca Juga: Harga BBRI Tertekan Aksi Jual, Target Harga Sahamnya Masih Menarik?

Sejalan dengan IHSG, nilai tukar rupiah juga ditutup melemah 0,32 persen ke level Rp17.035 per dolar AS di pasar spot.

Secara teknikal, Phintraco memperkirakan IHSG masih berpotensi melanjutkan pelemahan dan menguji level support di 6.900, dengan resistance di 7.100 dan pivot di 7.000.

Trafik Perdagangan

Pada perdagangan pada hari ini, sebanyak 27,80 miliar saham diperdagangkan dengan nilai transaksi sebesar Rp 15,23 triliun, serta frekuensi sebanyak 1,67 juta kali. 

Dalam perdagangan sesi I, sebanyak 264 saham bergerak naik, sedangkan 437 saham mengalami penurunan, dan 257 saham tidak mengalami pergerakan.

Adapun, beberapa saham yang menjadi Top Gainers pada Hari ini diantaranya, VOKS, EKSIP, FORE, IFSH, POLA, YPAS, TRON.

Load More