- BEI tegaskan status HSC adalah transparansi kepemilikan saham, bukan sanksi bagi emiten.
- Sembilan emiten HSC mulai proaktif konsultasi dengan bursa untuk perbaiki struktur pemegang saham.
- Kebijakan HSC adopsi standar global guna tingkatkan kepercayaan dan transparansi bagi investor.
Suara.com - Bursa Efek Indonesia (BEI) akhirnya angkat bicara meluruskan gaduh terkait pengumuman sembilan emiten yang masuk dalam radar High Shareholder Concentration (HSC). Otoritas bursa menegaskan, masuknya emiten ke daftar tersebut bukan berarti perusahaan tersebut sedang "dihukum".
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, menekankan bahwa label HSC merupakan bentuk transparansi informasi, bukan sanksi administratif. Langkah ini diambil agar para investor lebih jeli melihat struktur kepemilikan saham sebelum memutuskan untuk mengguyur modal.
"Tolong diingat, ini adalah informasi yang netral dari regulator, bukan sanksi. Kami hanya menunjukkan struktur kepemilikannya saja, bahwa saham tersebut dimiliki oleh pihak-pihak tertentu secara terbatas (limited parties)," tegas Nyoman saat ditemui di Gedung BEI, Jakarta, Jumat (10/4/2026).
Pasca pengumuman yang dirilis pada 2 April lalu, Nyoman mengungkapkan bahwa sejumlah emiten yang masuk daftar mulai proaktif. Beberapa perwakilan perusahaan sudah menjalin komunikasi dan bertemu dengan pihak otoritas bursa untuk mendalami metodologi HSC.
BEI pun menaruh harapan besar agar para emiten tersebut segera berbenah. Tujuannya jelas: agar kepemilikan saham tidak lagi menumpuk di segelintir pihak, melainkan tersebar luas di masyarakat layaknya perusahaan publik sejati.
"Begitu masuk ke pengumuman HSC, kewajiban perusahaan adalah melakukan tindakan yang diperlukan untuk meyakinkan bursa bahwa struktur kepemilikannya tidak lagi terkonsentrasi," bebernya.
Terkait langkah perbaikan, BEI menyerahkan sepenuhnya mekanisme tersebut kepada internal emiten. Nyoman menegaskan bursa tidak akan mendikte jenis aksi korporasi yang harus dilakukan, selama hasilnya mampu mendiversifikasi kepemilikan saham sesuai standar regulator dan Self-Regulatory Organization (SRO).
"Jika nanti strukturnya sudah tidak lagi terkonsentrasi, maka kami akan keluarkan pengumuman baru bahwa perusahaan tersebut sudah lepas dari status HSC," imbuh Nyoman.
Kebijakan transparansi HSC ini disebut-sebut sebagai langkah progresif BEI dalam mengadopsi global best practices. Nyoman mencontohkan Bursa Hong Kong sebagai salah satu kiblat yang sudah menerapkan kebijakan serupa.
Baca Juga: BSA Logistics Jadi Pertama IPO di BEI, Emiten Raup Dana Rp302,4 Miliar
Langkah ini diharapkan menjadi suntikan kepercayaan bagi investor internasional. Dengan transparansi yang lebih tinggi (beyond international practices), pasar modal Indonesia diharapkan makin menarik di mata dunia.
"Harusnya investor lebih percaya (trust) ke pasar kita karena kita relatif lebih transparan. Ini adalah bagian dari pengayaan informasi kepada investor," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP Terbaru 2026 Harga Rp2 Jutaan, Kamera Bagus dan Baterai Besar hingga 7000 mAh
- Silsilah Keluarga Lim Xin Rui yang Resmi Jadi Menantu Hasto Kristiyanto
- 3 Klub Pemain Timnas Indonesia Berhasil Raih Tiket Promosi Musim Ini
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- HP Vivo yang Bagus Seri Apa? Ini Rekomendasi Seri X, V, dan Y Sesuai Kebutuhan
Pilihan
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
Terkini
-
Pelindo Lakukan Soft Launching Layanan Kepelabuhanan di Perairan Nipa
-
Setelah Sah Jadi BUMN, Danantara Mulai Audisi Direksi DSI
-
Danantara Punya Yayasan Filantropi, Fokus Benahi Kesehatan dan Pendidikan
-
BRI Salurkan KUR Perumahan Rp9,2 Triliun, Menteri PKP Maruarar Sirait Ungkap Manfaat untuk UMKM
-
Viral Pantai Kartika di Konawe Selatan Hancur Digempur Tambang, Ini Perusahaan Pemilik Konsesinya
-
Qita by BRI Diluncurkan, Permudah Pengelolaan Finansial dan Gaya Hidup Digital
-
Pegadaian dan ANTAM Perkuat Sinergi Strategis untuk Kembangkan Ekosistem Emas Nasional
-
Industri Keramik Mulai Bangkit, Utilisasi Industri Naik ke 75 Persen Tahun Ini
-
Prabowo Siapkan Pelatihan Industri Semikonduktor untuk 15 Ribu Anak Muda
-
PLTS Berkapasitas 71,9 MW Resmi Dibangun, Terbesar di Sektor Semen RI