- Indeks S&P 500, Nasdaq, dan Dow Jones sama-sama naik, dengan Dow mencatat kinerja positif sepanjang tahun.
- Minyak WTI dan Brent menguat signifikan akibat gangguan pasokan dan situasi Selat Hormuz yang belum sepenuhnya pulih.
- Optimisme atas gencatan senjata AS-Iran dan sinyal negosiasi di Timur Tengah mendorong kepercayaan investor, meski risiko masih membayangi.
Suara.com - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street terus meroket pada perdagangan Kamis, 9 April 2026, di tengah kenaikan harga minyak dan optimisme investor terhadap keberlangsungan gencatan senjata sementara antara AS dan Iran.
Mengutip CNBC, indeks S&P 500 ditutup menguat 0,62 persen ke level 6.824,66. Sementara itu, Nasdaq Composite dan Dow Jones Industrial Average juga mencatat kenaikan masing-masing 0,83 persen dan 0,58 persen.
Dow bahkan naik 275,88 poin ke 48.185,80 dan mencatatkan kinerja positif sepanjang tahun ini dengan kenaikan 0,25 persen.
Penguatan pasar saham terjadi meskipun harga minyak dunia kembali melonjak. Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik lebih dari 3 persen dan ditutup di level 97,87 dolar AS per barel, setelah sempat menembus 100 dolar AS.
Sementara minyak mentah Brent internasional menguat lebih dari 1 persen ke 95,92 dolar AS per barel.
Sentimen positif pasar turut didorong oleh perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan kesiapan negaranya untuk membuka negosiasi langsung dengan Lebanon.
Di sisi lain, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menilai serangan Israel ke Lebanon sebagai pelanggaran gencatan senjata.
Saham sektor teknologi ikut menopang penguatan indeks, terutama setelah saham Meta Platforms melonjak 2,6 persen menyusul peluncuran model kecerdasan buatan terbaru. Selain itu, saham defensif seperti Walmart dan perusahaan utilitas American Electric Power juga mengalami kenaikan.
Reli ini melanjutkan tren positif sejak Rabu, di mana tiga indeks utama AS melonjak lebih dari 2 persen. Dow Jones bahkan mencatatkan kinerja harian terbaik sejak April 2025, setelah Presiden AS Donald Trump melunakkan sikapnya terhadap kebijakan tarif.
Baca Juga: Konflik Iran-AS Mereda, Wall Street Terus Melejit
Diketahui, Trump sebelumnya menyepakati penghentian sementara serangan terhadap Iran, menyusul konflik yang telah berlangsung selama lima minggu dan berdampak pada penutupan Selat Hormuz—jalur vital distribusi minyak dunia.
Kesepakatan gencatan senjata ini bergantung pada komitmen Iran untuk membuka kembali jalur tersebut selama dua minggu ke depan, dengan syarat seluruh serangan dihentikan. Meski demikian, lalu lintas di Selat Hormuz dilaporkan masih terbatas.
"Fakta bahwa gencatan senjata ada dan kedua belah pihak menyetujuinya memberi investor kemampuan untuk percaya bahwa situasi ini akan terselesaikan dengan sendirinya dalam jangka panjang," ujar Rick Wedell, kepala investasi di RFG Advisory.
Namun ia mengingatkan, semakin lama jalur distribusi tersebut terganggu, maka dampak terhadap pasokan global akan semakin besar dan berpotensi menekan Wall Street ke depan.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP Terbaru 2026 Harga Rp2 Jutaan, Kamera Bagus dan Baterai Besar hingga 7000 mAh
- 3 Klub Pemain Timnas Indonesia Berhasil Raih Tiket Promosi Musim Ini
- Silsilah Keluarga Lim Xin Rui yang Resmi Jadi Menantu Hasto Kristiyanto
- HP Vivo yang Bagus Seri Apa? Ini Rekomendasi Seri X, V, dan Y Sesuai Kebutuhan
- 4 Rekomendasi Sampo Urang-Aring untuk Menghitamkan dan Menyuburkan Rambut
Pilihan
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
Terkini
-
Menko Airlangga Sebut Rupiah Lemah Saat Ini Cuma 5 Persen
-
Rupiah Konsisten Melemah saat Mata Uang Negara Lain Menguat Karena Harga Minyak Turun
-
Belajar dari Sejarah! Anggota DPR Misbakhun Klaim Rupiah Lemah Saat Ini Beda dari Krisis 1998
-
BGN Bantah Anggaran MBG Dipangkas Rp67 T Seperti Klaim Purbaya
-
OJK Tekankan Pentingnya Pasar Modal demi Pertumbuhan 7,5 Persen, Tapi Modal Asing Terus Kabur
-
Wamen ESDM Buka Suara soal Ganti Rugi Blackout Listrik Sumatra
-
Usai 1 Persen Saham Negara Masuk, Danantara Sumberdaya Indonesia Resmi Jadi BUMN
-
BTN Akuisisi Portofolio Kredit SMBCI Rp20 Triliun untuk Perkuat Transformasi Beyond Mortgage
-
5 Rekomendasi Investasi di 2026 untuk Dapat Passive Income, Aman dan Menguntungkan
-
Wamenkeu Ungkap 3 Sumber Krisis Ekonomi Negara, Gimana Nasib RI?