Bisnis / Keuangan
Jum'at, 10 April 2026 | 09:14 WIB
Pekerja mengamati layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. [Suara.com/Alfian Winanto]
Baca 10 detik
  • IHSG naik 1,11 persen ke 7.388 dengan mayoritas saham menguat, didukung aktivitas transaksi yang cukup tinggi.
  • Kenaikan bursa AS, penurunan yield obligasi, dan melemahnya dolar AS memberi dorongan positif bagi pasar saham Indonesia.
  • IHSG diproyeksikan masih berpotensi melanjutkan reli seiring kondisi global yang kondusif dan aliran modal ke emerging markets.

Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih lari kencang menguat pada awal perdagangan Jumat, 10 April 2026. IHSG melesat ke level 7.346.

Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga pukul 09.04 WIB, IHSG terus meluncur ke atas dengan naik 1,11 persen ke level 7.388.

Pada perdagangan pada waktu itu, sebanyak 1,80 miliar saham diperdagangkan dengan nilai transaksi sebesar Rp 1,05 triliun, serta frekuensi sebanyak 130.800 kali.

Dalam perdagangan di waktu tersebut, sebanyak 355 saham bergerak naik, sedangkan 139 saham mengalami penurunan, dan 465 saham tidak mengalami pergerakan.

Pekerja beraktivitas dengan latar belakang layar pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta Selatan, Senin (21/2/2022). [Suara.com/Alfian Winanto]

Adapun, beberapa saham yang menjadi Top Gainers pada waktu itu diantaranya, WBSA, TRUK, PNSE, RANC, MEGA, ROCK.

Sedangkan, saham yang masuk dalam Top Loser diantaranya, HDFA, IPAC, BDNMN, NIRO, BRRC, PMUI, CTTH.

Proyeksi IHSG

IHSG diproyeksikan melanjutkan penguatan pada perdagangan hari ini, seiring sentimen positif dari pasar global yang masih terjaga.

Berdasarkan riset Samuel Sekuritas Indonesia, pasar saham Amerika Serikat ditutup menguat pada Kamis (9/4/2026). Indeks Dow Jones naik 0,58 persen, S&P 500 menguat 0,62 persen, dan Nasdaq melesat 0,83 persen.

Baca Juga: Tak Peduli Harga Minyak Dunia Naik, Wall Street Tetap Meroket

"Kenaikan tetap berlanjut meskipun harga minyak meningkat, seiring optimisme bahwa ketegangan geopolitik masih dapat terkendali sehingga menopang sentimen investor," tulis riset tersebut.

Selain itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun tercatat turun 0,37 persen menjadi 4,275 persen. Di sisi lain, indeks dolar AS juga melemah 0,32 persen ke level 98,82, memberikan ruang bagi aliran modal ke pasar berkembang, termasuk Indonesia.

Dengan kondisi tersebut, Indeks Harga Saham Gabungan diperkirakan masih memiliki peluang melanjutkan tren penguatan.

"Hari ini, kami memperkirakan IHSG berpotensi melanjutkan penguatan seiring sentimen positif dari pasar global dan regional," lanjut riset tersebut.

Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan dan analisis pasar yang ditujukan sebagai informasi umum, bukan saran atau rekomendasi investasi. Keputusan investasi tetap berada di tangan pembaca, dan setiap risiko investasi menjadi tanggung jawab pribadi.

Load More