Bisnis / Keuangan
Jum'at, 10 April 2026 | 18:37 WIB
Ilustrasi perumahan/KPR. [Antara]
Baca 10 detik
  • BTN berhasil menyalurkan 6 juta unit KPR dalam hampir lima dekade, memperkuat posisinya sebagai pemain utama sektor perumahan.
  • Mayoritas debitur berasal dari masyarakat berpenghasilan rendah, termasuk pekerja informal yang kini lebih mudah memiliki rumah.
  • BTN terus mengembangkan konsep beyond mortgage dan memperkuat ekosistem perumahan untuk mendukung pembiayaan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Suara.com - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) mencatatkan pencapaian besar dengan menyalurkan 6 juta unit Kredit Pemilikan Rumah (KPR) sejak 1976 hingga awal April 2026.

Total penyaluran tersebut mencapai Rp 530 triliun, mempertegas posisi BTN sebagai pemain utama dalam pembiayaan perumahan nasional.

Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, menyebut angka tersebut merupakan refleksi perjalanan panjang perseroan dalam membangun sektor perumahan nasional.

"Ke depan, kami terus memperkuat transformasi menuju beyond mortgage, di mana BTN tidak hanya melayani pembiayaan rumah, tetapi juga kebutuhan keuangan keluarga secara menyeluruh, mulai dari transaksi, usaha, hingga kebutuhan jangka panjang masyarakat," ujar Nixon di Jakarta, Jumat (10/4/2026).

"Kami juga menghadirkan inovasi pembiayaan melalui bundling KPR dengan kebutuhan isi rumah, sehingga nasabah dapat memperoleh solusi pembiayaan yang lebih terjangkau dan terintegrasi," sambungnya.

Nixon LP Napitupulu [BTN]

BTN juga menegaskan komitmennya untuk terus memperluas layanan keuangan bagi masyarakat melalui pendekatan yang lebih menyeluruh, tidak hanya di sektor pembiayaan rumah.

BTN kini mengembangkan konsep beyond mortgage dengan menghadirkan berbagai layanan keuangan yang mencakup seluruh siklus hidup nasabah, mulai dari produk tabungan, pembayaran digital, hingga layanan investasi dan pembiayaan pensiun.

Sementara itu, Direktur Consumer Banking BTN, Hirwandi Gafar, menambahkan bahwa capaian tersebut didorong oleh konsistensi perseroan dalam menjaga penyaluran pembiayaan serta memperluas akses di berbagai wilayah.

"Permintaan terhadap hunian layak dan terjangkau terus meningkat, sementara tantangan di sektor perumahan saat ini lebih banyak berasal dari sisi supply, seperti ketersediaan lahan dan perizinan. BTN berupaya menjawab hal tersebut melalui pendekatan yang lebih proaktif dan terintegrasi, agar penyaluran KPR dapat berjalan efektif dan menjangkau lebih banyak masyarakat," jelas Hirwandi.

Baca Juga: Rupiah Menembus Rp17.000: Mengapa Perbankan Tetap Tenang di Tengah Risiko Kredit Valas?

BTN mencatat mayoritas debitur KPR subsidi berasal dari masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dengan rata-rata penghasilan sekitar Rp 4,9 juta per bulan.

Segmen ini didominasi oleh pekerja informal seperti pedagang kecil, pekerja lepas, serta pelaku usaha mikro, di samping pekerja formal seperti aparatur sipil negara dan karyawan swasta.

Hal ini menunjukkan peran strategis BTN dalam memperluas inklusi pembiayaan perumahan, terutama bagi kelompok masyarakat yang sebelumnya memiliki keterbatasan akses terhadap hunian layak.

Selain KPR, BTN juga memperkuat ekosistem perumahan melalui penyaluran Kredit Program Perumahan (KPP) yang hingga Maret 2026 mencapai Rp2,17 triliun. Pembiayaan ini menyasar baik sisi pengembang maupun konsumen untuk memastikan keseimbangan antara pasokan dan permintaan.

Ke depan, BTN menargetkan penyaluran KPR mencapai 240.950 unit sepanjang 2026, sejalan dengan komitmen mendukung program perumahan nasional.

Load More