Bisnis / Makro
Senin, 13 April 2026 | 16:21 WIB
Sejumlah kendaraan melintas saat penerapan rekayasa lalu lintas satu arah atau one way di ruas Tol Cikopo-Palimanan, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, Jumat (27/3/2026). [ANTARA FOTO/Fauzan/sgd]
Baca 10 detik
  • Penjualan ritel Maret 2026 diprediksi melonjak 9,3% mtm berkat momentum Ramadan dan Lebaran.
  • Sektor sandang, pangan, dan bahan bakar jadi pendorong utama kuatnya daya beli masyarakat.
  • BI optimis konsumsi domestik kokoh, meski ada potensi kenaikan harga bahan baku pada Mei 2026.

Suara.com - Momentum Ramadan dan Idulfitri 1447 H membawa angin segar bagi nadi perekonomian nasional. Bank Indonesia (BI) memproyeksikan kinerja penjualan eceran pada Maret 2026 bakal tumbuh agresif, dipicu oleh lonjakan permintaan rumah tangga yang kian tak terbendung.

Direktur Eksekutif Komunikasi BI, Ramdan Denny, mengungkapkan bahwa Indeks Penjualan Riil (IPR) Maret 2026 diperkirakan mencapai pertumbuhan 2,4 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka ini menunjukkan daya beli masyarakat masih berada dalam posisi yang sangat solid.

"Secara bulanan, penjualan eceran pada Maret 2026 diprakirakan tumbuh signifikan sebesar 9,3 persen (month-to-month/mtm), melonjak jauh dibanding pertumbuhan Februari 2026 yang sebesar 4,1 persen," ujar Denny dalam keterangan resminya di Jakarta, Senin (13/4/2026).

Peningkatan drastis ini merupakan imbas positif dari persiapan masyarakat menyambut Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN). Denny menyebutkan, kelompok sandang serta peralatan informasi dan komunikasi menjadi motor utama di sisi konsumsi.

Selain itu, rapor hijau penjualan eceran ini juga ditopang oleh beberapa sektor kunci lainnya Kelompok Suku Cadang dan Aksesori, Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau dan Kelompok Barang Budaya dan Rekreasi.

Tak ketinggalan, kelompok bahan bakar kendaraan bermotor ikut terkerek naik. Hal ini sejalan dengan tingginya mobilitas masyarakat yang melakukan perjalanan mudik dan silaturahmi menjelang lebaran.

Jika menilik ke belakang, performa ritel memang menunjukkan tren pendakian. Pada Februari 2026, IPR tahunan tercatat tumbuh 6,5 persen (yoy), lebih tinggi dari capaian Januari sebesar 5,7 persen (yoy).

Menariknya, penjualan eceran Februari juga berhasil melakukan rebound ke angka 4,1 persen (mtm) setelah sempat mengalami kontraksi tipis pada bulan pembuka tahun.

Meski konsumsi melesat, tantangan dari sisi harga tetap mengintai. BI memaparkan adanya potensi kenaikan inflasi pada Mei 2026. Hal ini terlihat dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Mei yang menyentuh angka 157,4, naik dari posisi April sebesar 153,9 akibat kenaikan harga bahan baku.

Baca Juga: Ramadan-Lebaran 2026 Jadi 'Booster' Konsumsi, Program Belanja Tembus Rp184,02 Triliun

Namun, Denny memberikan sinyal tenang untuk jangka menengah. Harga diprediksi akan kembali stabil pada Agustus 2026 dengan tingkat IEH di level 157,2.

Dengan fundamental konsumsi domestik yang kokoh, Bank Indonesia optimistis ekonomi nasional akan terus bergerak stabil di sepanjang semester pertama tahun 2026. Konsumsi rumah tangga pun dipastikan tetap menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Load More