- OJK menyoroti minimnya kontribusi asuransi kesehatan komersial yang mengakibatkan tingginya beban bayar sendiri masyarakat.
- Mengingat tenor KPR yang panjang, OJK menekankan pentingnya asuransi jiwa dan properti agar risiko tidak membebani debitur.
- OJK akan mengoptimalkan program asuransi pertanian dan nelayan untuk melindungi produsen pangan dari ketidakpastian cuaca dan risiko kerja, memastikan ketahanan ekonomi sektor pangan tetap terjaga.
Suara.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah menyiapkan langkah strategis untuk memperkuat peran asuransi komersial. Hal ini untuk menekan beban biaya kesehatan pada masyarakat.
Dalam hal ini, Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun (PPDP) menyoroti tingginya angka pengeluaran kesehatan mandiri atau out-of-pocket. Sebab, kontribusi asuransi kesehatan komersial masih sangat minim, yakni hanya sebesar 5 persen.
"Masyarakat yang belum menggunakan produk untuk program kesehatan baik BPJS maupun asuransi kesehatan masih besar. Sehingga pembelanjaan kesehatan itu masih bayar pakai uang sendiri atau disebut dengan out of pocket itu 28,8 persen jumlahnya itu Rp 175 triliun itu yang kita mau turunkan kita bersama-sama," katanya di Jakarta, Senin (13/4/2026).
Oleh karena itu, OJK terus berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan untuk mengalihkan beban biaya besar tersebut ke dalam skema perlindungan asuransi yang lebih efisien dan terjangkau.
"Kita bersama-sama dengan kementerian lembaga kita turunkan dan mereka bisa ikut serta dari program asuransi komersial tentunya ini mereka melihat apa untung ruginya bagaimana prosesnya lebih efisien lebih baik," katanya.
Selain sektor kesehatan, OJK memberikan perhatian serius pada program 3 juta rumah yang dicanangkan pemerintah. Mengingat pembiayaan perumahan bersifat jangka panjang (15 hingga 20 tahun), Ogi menilai adanya risiko besar yang harus diantisipasi, mulai dari risiko jiwa debitur hingga kerusakan aset.
"Di situ ada risiko yang mungkin terjadi, seperti debitur meninggal dunia atau risiko properti akibat gempa bumi, kebakaran, hingga banjir. Kami ingin memberikan pemahaman bahwa asuransi jangan dilihat sebagai beban biaya, tetapi sebagai perlindungan risiko jangka panjang bagi peserta," bebernya.
Terkait mekanisme premi, OJK sedang mendiskusikan berbagai opsi teknis dengan kementerian terkait. Pilihannya meliputi pemberian subsidi premi oleh pemerintah atau skema blended yang menyatu dalam program fasilitas rumah rakyat.
Langkah ini diambil untuk memastikan masyarakat berpenghasilan rendah tetap terlindungi tanpa terbebani biaya tambahan yang berat.
Baca Juga: Jumlah Investor Reksa Dana Tembus 19,8 Juta di Awal 2026
Tak hanya kesehatan dan perumahan, OJK juga menerima permintaan dari sejumlah kementerian/lembaga untuk memperkuat perlindungan di sektor produksi pangan. Risiko gagal panen bagi petani dan kecelakaan kerja bagi nelayan menjadi fokus pengawasan ke depan.
OJK berkomitmen untuk mengembangkan program asuransi pertanian dan nelayan yang sudah ada agar berjalan lebih efektif dan tepat sasaran.
Dengan cakupan proteksi yang lebih luas, diharapkan stabilitas ekonomi para produsen pangan tetap terjaga meski dihadapkan pada ketidakpastian cuaca maupun risiko teknis lainnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 3 Sepatu New Balance Tanpa Tali, Bantalan Nyaman untuk Jalan Kaki Jauh
- Gugurkan Klaim Santriwati 'Hamil Tanpa Hubungan Badan', Polisi Tangkap Kiai di Pekalongan
- Persija Sudah Temukan Pengganti Mauricio Souza, Target Juara Super League Musim Depan
- 5 Sepatu Adidas Tanpa Tali yang Serbaguna, Anti Pegal Dipakai Jalan Seharian
Pilihan
-
Kebakaran RSUD Syekh Yusuf Gowa, Begini Kondisi Terkini Pasien
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
-
Skandal! Jaksa AS Selidiki FIFA, Penjualan Tiket Piala Dunia 2026 Diduga Bermasalah
-
Live 'Pocong Jadi-Jadian' Hebohkan Warga Sragen, 3 Pelajar Diamankan Polisi
Terkini
-
Rogoh Rp750 Juta, Mitratel Tebar 242 Hewan Kurban Premium
-
Konsumsi Daging Orang RI Ternyata Masih Rendah
-
Peruri Tebar Hewan Kurban ke 4 Daerah
-
Petani Diproyeksi Untung, Bulog Pastikan Harga Ekspor Beras ke Malaysia Lebih Mahal dari HET
-
Belajar dari Blackout Sumatra, Cuaca Kini Jadi Faktor Krusial Sistem Listrik
-
ESDM Kantongi 24 Ribu Hektare Lahan untuk Proyek PLTS
-
Rohis Pegadaian Wujudkan Satu Ketulusan Sejuta Kebermanfaatan: Distribusi 4.500 Paket Daging Kurban
-
Emiten MPMX Tebar Dividen Rp 170 per Saham
-
Memahami Pentingnya Layanan Keuangan Terdaftar dan Diawasi OJK
-
Jangan Salah, Angin Kencang Bisa Sebabkan Kabel Listrik Putus dan Picu Blackout