- Maret 2026, ekspor minyak Rusia melonjak ke US$ 19 miliar imbas konflik Iran vs Israel-AS.
- Volume ekspor naik jadi 4,6 juta bph; pendapatan energi topang belanja militer Kremlin.
- IEA peringatkan produksi Rusia terhambat kerusakan infrastruktur akibat serangan drone.
Suara.com - Eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel rupanya menjadi berkah tersendiri bagi Kremlin. Di tengah guncangan pasar energi global, Rusia mencatatkan lonjakan pendapatan ekspor minyak dan bahan bakar yang fantastis pada periode Maret 2026.
Mengutip laporan Badan Energi Internasional (IEA) via Reuters, Selasa (14/4), pendapatan ekspor minyak mentah dan produk olahan Rusia melonjak tajam hingga menyentuh angka US$ 19 miliar atau setara Rp 325,35 triliun (asumsi kurs Rp 17.123 per dolar AS).
Angka ini hampir dua kali lipat dibandingkan perolehan bulan Februari yang hanya sebesar US$ 9,75 miliar (Rp 166,95 triliun). Kenaikan signifikan ini dipicu oleh dua faktor utama: volume ekspor yang menggemuk dan kenaikan harga minyak global akibat risiko geopolitik di Selat Hormuz.
Berdasarkan data IEA, ekspor minyak mentah Rusia tercatat naik sebesar 270.000 barel per hari (bph), sehingga total pengiriman mencapai 4,6 juta bph pada Maret lalu. Kenaikan ini didominasi oleh pengiriman melalui jalur laut.
Dari sisi hulu, produksi minyak Rusia juga ikut terkerek naik menjadi 8,96 juta bph, dibandingkan posisi Februari yang berada di level 8,67 juta bph. Pendapatan dari sektor energi ini menjadi napas buatan bagi anggaran negara Rusia, terutama untuk mendanai belanja militer yang terus membengkak di tengah konflik yang masih berlangsung.
Meski sedang di atas angin, IEA memberikan catatan kritis. Rusia diprediksi akan menemui jalan terjal untuk meningkatkan produksi lebih lanjut dalam waktu dekat karena kerusakan infrastruktur akibat serangan drone Ukraina terhadap fasilitas kilang dan pelabuhan.
Selain itu aliran minyak melalui pipa Druzhba menuju Hungaria dan Slovakia masih terhenti total sejak serangan akhir Januari lalu, yang secara otomatis membatasi distribusi jalur darat.
Para analis menilai, surplus pendapatan yang dinikmati Moskow saat ini lebih banyak dikontribusikan oleh anomali harga pasar global akibat perang di Timur Tengah, ketimbang peningkatan kapasitas produksi yang berkelanjutan.
Baca Juga: Izin ke Amerika Serikat, Negara Tetangga Ingin Beli Lebih Banyak Minyak dari Rusia
Berita Terkait
Terpopuler
- LHKPN Tembus Rp7,2 Miliar, Kendaraan Plt Jampidsus Rudi Margono Cuma Motor Honda Seharga Rp5 Juta
- HP Murah Tapi Bagus HP Apa? Ini 9 Rekomendasi Terbaik Mulai Rp1 Jutaan
- 5 Sepatu Kanky Warna Putih Mulai Rp160 Ribuan, Nyaman dan Stylish
- 5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking dan Transaksi Cashless Lancar
- Tan Kian Orang Terkaya ke Berapa di Indonesia?
Pilihan
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
-
Hari Pertama Sekolah Mencekam! SDN Srengseng Sawah 15 Diteror Bom, Gegana dan Densus 88 Turun Tangan
Terkini
-
Pemerintah Siapkan Insentif ETF Emas, Bursa Mineral, Hingga Demutualisasi
-
Jumlah Saham HSC Membengkak Jadi 51 Emiten Pasca Pengesahan Aturan Baru BEI
-
Rombak Aturan Pasar Modal, OJK Target Demutualisasi Tuntas September 2026
-
Saham HSC Dilarang Masuk LQ45, Puluhan Emiten Jumbo Kena Dampak!
-
Analis Sebut IHSG Seharusnya Jauh Lebih Tinggi, Ini Alasannya
-
Purbaya Minta Investor Beli Saham dan Jual Dolar, Klaim Ekonomi RI Mulai Diakui Internasional
-
Purbaya Girang S&P Pertahankan Rating Indonesia: Bukan Indonesia Cemas tapi Indonesia Emas
-
Inflasi Juli 2026 Naik ke 3,34%, Tiket Pesawat hingga Harga Beras Jadi Pemicu
-
Amman Mineral Bidik Produksi 16 Ton Emas dan 162.000 Ton Tembaga di 2026
-
Alasan Pemerintah Optimis Inflasi Mereda, Mendagri Singgung Harga BBM