- Ratusan perajin tahu dan tempe di Lebak, Banten, mengalami krisis akibat lonjakan harga kedelai impor per Mei 2026.
- Para pelaku usaha kecil terpaksa memperkecil ukuran produk guna mempertahankan operasional dan menghindari pemutusan hubungan kerja karyawan.
- Sebanyak 550 unit usaha terancam gulung tikar sehingga mendesak pemerintah segera menstabilkan harga bahan baku tersebut.
Suara.com - Dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mulai memukul sektor riil hingga ke akar rumput.
Di Kabupaten Lebak, Banten, ratusan perajin tahu dan tempe kini berada di titik nadir akibat meroketnya harga kedelai impor yang menjadi bahan baku utama.
Berdasarkan pantauan Antara di lapangan pada Sabtu (30/5/2026), harga kedelai melonjak drastis dari angka normal Rp300.000 menjadi Rp545.000 per karung isi 50 kilogram.
Kondisi ini memaksa para pelaku usaha kecil melakukan strategi bertahan hidup yang pahit: memperkecil ukuran produk demi menghindari kebangkrutan.
Strategi Bertahan di Tengah "Badai" Impor
Mad Soleh (58), seorang perajin tahu di Rangkasbitung, mengungkapkan bahwa dirinya tidak punya pilihan lain selain mengurangi dimensi tahu yang ia jual. Menurutnya, kenaikan harga kedelai dalam dua pekan terakhir terjadi hampir setiap hari.
"Kami sekarang terpaksa mengurangi ukuran menjadi lebih kecil agar bisa bertahan, karena harga kedelai melambung," ujar Mad Soleh.
Akibat lonjakan modal ini, omzet harian Soleh merosot tajam. Dari biasanya mampu mengolah 100 kg kedelai, kini ia hanya sanggup memproduksi 50 kg. Keuntungan bersihnya pun terpangkas separuh, dari Rp220.000 kini hanya tersisa Rp110.000 per hari.
Dilema Harga: Takut Pelanggan Lari, Pekerja Dirumahkan
Baca Juga: Rupiah Terus Terpuruk, Djarot PDIP: Rakyat Desa Tak Pakai Dolar tapi Harga Sembako Melambung Tinggi!
Persoalan serupa dialami Yanto, perajin tempe setempat. Ia mengaku berada dalam posisi dilematis karena tidak berani menaikkan harga jual ke konsumen di tengah daya beli masyarakat yang juga sedang tertekan.
"Kami memperkecil ukuran agar produksi tetap berjalan dan pekerja sebanyak tiga orang tidak dirumahkan," jelas Yanto.
Bagi Yanto dan banyak perajin lainnya, menjaga agar roda produksi tetap berputar adalah prioritas utama agar tidak ada pemutusan hubungan kerja (PHK) di tingkat desa.
Namun, jika tren kenaikan ini terus berlanjut, bayang-bayang penutupan usaha menjadi kian nyata.
Ancaman Henti Produksi Massal
Keluhan senada datang dari Ujang (50), yang mengaku terpaksa "jual rugi" demi menjaga loyalitas pelanggan yang mayoritas adalah pedagang pasar. Ia memperingatkan bahwa tanpa intervensi pemerintah, industri tahu tempe bisa lumpuh total.
"Jika harga kedelai itu tidak dikendalikan, dipastikan (kami) menghentikan produksi," tegas Ujang.
Ketua Perajin Tahu Tempe Kabupaten Lebak, Liri, mencatat ada sekitar 550 unit usaha di wilayahnya yang kini terancam gulung tikar. Ia mendesak pemerintah pusat maupun daerah untuk segera turun tangan menstabilkan harga kedelai impor.
"Kami ingin harga kedelai kembali normal agar perajin bisa tumbuh dan menyerap tenaga kerja. Perlu pemerintah turun tangan untuk mengatasi lonjakan ini," pungkas Liri.
Berita Terkait
-
Rupiah Dibuka Menguat ke Rp17.700 per Dolar, Pengamat Ungkap Faktor Penentu
-
Jeritan Orang Desa Saat Dolar Tembus Rp17.600, dari Dapur, Pasar, hingga Industri Tahu
-
Rupiah Anjlok, Nasabah Mulai Berbondong-bondong Nabung Dolar AS
-
Tak Hanya Kelola Dana Pensiun, Asabri Kini Garap UMKM hingga Ekonomi Hijau
-
BI Minta Publik Tak Borong Dolar, saat Masyarakat Ramai-ramai Timbun Valas di Bank
Terpopuler
- 5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking dan Transaksi Cashless Lancar
- 11 Merek Sepatu Lari Buatan Indonesia yang Populer, Kualitas Lokal Tak Bisa Diremehkan
- 6 Shio yang Menarik Keberuntungan 14 Juli 2026, Banyak Teka-teki Akhirnya Terjawab
- Bagaimana Dody Hanggodo Memanfaatkan Kekuasaannya sebagai Menteri di Kementerian PU
- Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Potensi Menang Praperadilan: Siasat Redam Konflik Polri-Kejagung
Pilihan
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
Terkini
-
Messi Anak Emas FIFA! Petisi Coret Argentina dari Piala Dunia Tembus 10 Juta Tanda Tangan
-
Susunan Pemain Argentina vs Inggris: Tuchel dan Scaloni Bikin Kejutan di Starting XI
-
The Beatles Warnai Rivalitas Argentina vs Inggris: Dominasi Tangga Lagu hingga Skandal Band Palsu
-
Kursi Botol Berterbangan, Suporter Argentina Bakul Pukul Jelang Lawan Inggris
-
10 Trik Kotor Kiper Argentina Emiliano Martinez Bikin Publik Inggris Ketar-ketir
-
Makna Tersembunyi Jersey Argentina Lawan Inggris: Warisan Budaya hingga Memori 1986
-
AI Prediksi Hasil Inggris vs Argentina: Albiceleste Menang Dramatis, Messi dan Kane Cetak Gol?
-
Medco E&P Perkuat Ekonomi Warga Muba Lewat Budidaya Lele Berkelanjutan
-
Prabowo Didesak Evaluasi KDKMP, Dinilai Menyimpang dari Semangat Koperasi
-
Bank Sumsel Babel dan Unsri Perkuat Sinergi, Buka Jalan Pendidikan bagi Putra-Putri Daerah