Bisnis / Makro
Selasa, 21 April 2026 | 07:34 WIB
Pekerja memantau grafik pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Treasury ARSIP-BTN, Jakarta. [ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/wsj]
Baca 10 detik
  • IHSG melemah 0,52% pada Senin (20/4) namun investor asing tetap mencatatkan beli bersih senilai Rp124 miliar.
  • Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran memicu pelemahan Wall Street serta potensi koreksi IHSG lanjutan.
  • Investor disarankan mencermati sektor energi dan logam mulia sebagai aset pelarian akibat blokade di Selat Hormuz.

Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali pekan ini dengan catatan merah setelah ditutup melemah 0,52% pada perdagangan kemarin.

Meski mengalami penyusutan indeks, aktivitas pasar masih diwarnai oleh optimisme investor mancanegara yang tercermin dari aksi beli bersih (net buy) asing senilai kurang lebih Rp124 miliar.

Sejumlah saham big cap dan komoditas menjadi incaran utama para pemodal luar negeri, di antaranya adalah BREN, TLKM, BRMS, BBCA, dan MDKA.

Namun, melihat dinamika global yang kian memanas, IHSG diprediksi masih memiliki potensi untuk melanjutkan koreksi pada perdagangan Selasa, 21 April 2026.

Secara teknikal, pergerakan indeks hari ini akan menguji level pendukung (support) di rentang 7500-7560. Jika tekanan jual terus berlanjut, investor perlu mewaspadai area tersebut guna memitigasi risiko penurunan lebih dalam.

Di sisi lain, level perlawanan (resistance) terdekat berada di posisi 7620-7670. Kehati-hatian menjadi kunci utama bagi para pelaku pasar lokal, mengingat sentimen eksternal dari Timur Tengah sedang berada di titik didih yang cukup mengkhawatirkan.

Wall Street Melemah Akibat Memanasnya Teluk Oman

Pasar saham Amerika Serikat, Wall Street, terpaksa mengakhiri reli panjangnya pada penutupan perdagangan Senin (20/4). Indeks Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi melemah 0,26%, sementara S&P 500 turun 0,24% dan Dow Jones Industrial Average terkoreksi tipis 0,01%.

Pelemahan ini dipicu oleh ketegangan geopolitik yang kembali memuncak antara Amerika Serikat dan Iran.

Baca Juga: Wall Street Pecah Rekor di Tengah Harapan Damainya Perang, Berimbas ke IHSG?

Pelaku pasar global mulai kesulitan mengalkulasi skenario terburuk, terutama setelah pasar saham sebelumnya sempat pulih hingga menyentuh level tertinggi sepanjang masa.

Ketegangan ini bermula dari pernyataan keras Presiden AS, Donald Trump, yang menyebutkan bahwa pihaknya telah menembak dan menyita kapal kargo berbendera Iran di Teluk Oman.

Langkah agresif ini diambil setelah Iran menolak untuk mengikuti putaran baru pembicaraan damai yang direncanakan oleh AS di Pakistan.

"Trump juga mengancam akan menghancurkan infrastruktur penting Iran jika negara tersebut tidak menyetujui kesepakatan dengan AS," sebagaimana dilaporkan dalam pantauan pasar global.

Situasi ini kian genting mengingat masa gencatan senjata antara kedua negara dijadwalkan berakhir pada pekan ini.

Anomali Bursa Asia di Tengah Blokade Selat Hormuz

Load More