- S&P 500 dan Nasdaq cetak rekor baru, Nasdaq reli 12 hari beruntun
- Sentimen positif datang dari peluang gencatan senjata dan negosiasi AS-Iran
- Analis ingatkan potensi volatilitas akibat pertumbuhan ekonomi yang melambat
Suara.com - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street tembus rekor baru pada perdagangan Kamis, 16 April 2026 (Jumat pagi waktu Indonesia). Hal ini didorong optimisme investor terhadap potensi meredanya konflik Iran.
Mengutip CNBC, indeks S&P 500 naik 0,26 persen ke level 7.041, sementara Nasdaq Composite menguat 0,36 persen ke 24.102. Keduanya mencetak rekor intraday sekaligus penutupan tertinggi sepanjang masa.
Khusus Nasdaq, reli kali ini menandai sesi penguatan ke-12 berturut-turut—menjadi rekor kemenangan terpanjang sejak 2009.
Sementara itu, Dow Jones Industrial Average turut menguat 115 poin atau 0,24 persen ke posisi 48.578,72.
Jika dilihat secara mingguan, performa Wall Street juga solid. S&P 500 dan Nasdaq masing-masing melonjak 3,3 persen dan 5,2 persen, sedangkan Dow Jones naik lebih dari 1 persen.
Penguatan pasar dipicu sentimen geopolitik setelah Presiden AS Donald Trump mengungkapkan adanya komunikasi dengan Presiden Lebanon Joseph Aoun dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Trump menyebut Israel dan Lebanon telah menyepakati gencatan senjata selama 10 hari yang akan dimulai pukul 17.00 waktu setempat.
Di sisi lain, Ketua Parlemen Iran menegaskan bahwa penghentian serangan Israel ke Lebanon menjadi syarat utama dimulainya kembali negosiasi antara AS dan Iran.
Trump juga mengindikasikan bahwa pembicaraan lanjutan AS-Iran berpotensi digelar pada akhir pekan depan. Bahkan sebelumnya, ia menyebut konflik Iran 'hampir berakhir' dan menilai Teheran ingin segera mencapai kesepakatan.
Baca Juga: Investor Masa Bodoh dengan Perang, Wall Street Terus Meluncur Naik
Harapan damai ini menjadi katalis utama penguatan pasar dalam beberapa hari terakhir. Bahkan, S&P 500 telah berhasil menghapus seluruh kerugiannya sejak awal konflik Iran.
Sehari sebelumnya, S&P 500 juga mencetak tonggak sejarah dengan menembus level 7.000 untuk pertama kalinya, sementara Nasdaq menutup di atas 24.000.
Meski demikian, sejumlah analis mengingatkan potensi volatilitas masih membayangi pasar ke depan.
“Kita harus melewati beberapa kuartal pertumbuhan PDB yang kurang memuaskan,” ujar Kepala Strategi Investasi Sage Advisory, Rob Williams.
Ia menambahkan, meski pasar berharap konflik segera selesai, pertumbuhan ekonomi AS diperkirakan masih berada di kisaran 2% dan berpotensi turun di bawah level tersebut dalam beberapa kuartal ke depan.
“Saya tidak tahu apakah pasar sudah siap untuk itu,” tutupnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Parfum Paling Wangi Rasa Apa? Ini 5 Rekomendasi Aroma yang Populer
- 5 Rekomendasi Lipstik Wardah untuk Usia 40-an yang Elegan, Nyaman di Bibir dan Awet
- 5 HP Samsung Galaxy A Series Termurah: Layar Super AMOLED, 5G hingga NFC
- Pesaing Vario 125 dari Yamaha, Tampang Bernuansa R1M
- 5 Parfum Wanita Terbaik untuk Acara Malam, Wanginya Elegan dan Memikat
Pilihan
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
Terkini
-
Pulau Panggang Krisis BBM, Nelayan Terancam Tak Bisa Melaut
-
Misteri Pembunuhan di Ruangan Tertutup dalam Novel Everything Becomes F
-
Panut Rilis Buku Otobiografi, Tegaskan Komitmen Kawal Benteng Hijau Sumatra
-
Perjalanan Putra Samuel Silitonga Dikenal Jutaan Penonton Berkat Sosok Mumu Warintil
-
Cluster Beverly Hills Resmi Show Unit, Tawarkan Hunian American Classic di Semarang
-
Mau ke Monas Malam Ini? Simak Rekayasa Lalu Lintas dan Titik Parkir Konser Akbar 2026
-
Dua Mahasiswa Diduga Jadikan Instagram Lapak Tembakau Sintetis
-
Pelatih Spanyol Lebih Takut Naik Helikopter Dibanding Lawan Lionel Messi di Final Piala Dunia 2026
-
Kanker pada Perempuan Kini Bisa Ditangani Lebih Personal, Terapi Presisi Bawa Harapan Baru
-
Dari Propaganda hingga Pengawasan: Mengapa 1984 Tetap Relevan di Zaman Digital