Bisnis / Keuangan
Senin, 20 April 2026 | 12:50 WIB
Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta Pusat. [Suara.com/Alfian Winanto]
Baca 10 detik
  • Indeks Harga Saham Gabungan terkoreksi 12 poin ke level 7.621 pada perdagangan Senin, 20 April 2026 di Jakarta.
  • Pergerakan pasar dipengaruhi ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu kekhawatiran gangguan distribusi energi global.
  • Sentimen domestik tertolong peringkat layak investasi dari S&P, namun tertekan oleh potensi inflasi akibat kenaikan harga BBM nonsubsidi.

Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai terkoreksi pada perdagangan, Senin, 20 April 2026. IHSG merosot 12 poin atau 0,16 persen ke level 7.621.

Berdasarkan riset Pilarmas Investindo Sekuritas, pergerakan IHSG cenderung fluktuatif di tengah dinamika global dan domestik yang saling tarik-menarik.

Bursa saham Asia sendiri terpantau bergerak variatif dengan kecenderungan menguat, meskipun dibayangi meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Pilarmas menjelaskan, sentimen global masih dipengaruhi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Ketegangan meningkat setelah adanya penyitaan kapal kargo berbendera Iran oleh militer AS di Teluk Oman.

Selain itu, Iran juga memberi sinyal tidak akan melanjutkan putaran kedua negosiasi dengan Washington, yang sebelumnya diharapkan dapat meredakan konflik.

Layar digital menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. [Suara.com/Alfian Winanto]

"Kondisi ini membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati, terutama terkait potensi gangguan distribusi energi di Selat Hormuz yang merupakan jalur vital perdagangan minyak dunia," tulis Pilarmas dalam risetnya.

Di tengah tekanan tersebut, pasar mendapat sedikit katalis positif dari kebijakan moneter China. Bank sentral China (PBOC) memutuskan mempertahankan suku bunga pinjaman utama (Loan Prime Rate/LPR), dengan LPR satu tahun tetap di level 3,0 persen dan LPR lima tahun di 3,5 persen.

Keputusan ini menjadi sinyal bahwa otoritas China masih menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global. Apalagi, pertumbuhan ekonomi Negeri Tirai Bambu pada kuartal I 2026 tercatat mencapai 5 persen, lebih tinggi dari capaian akhir 2025 sebesar 4,5 persen.

Dari dalam negeri, sentimen positif datang dari lembaga pemeringkat Standard & Poor’s (S&P) yang tetap mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB dengan outlook stabil. Hal ini menegaskan posisi Indonesia masih berada dalam kategori layak investasi (investment grade).

Baca Juga: IHSG Masih Perkasa Senin Pagi ke Level 7.600, Tapi Rawan Terkoreksi

Pemerintah juga dinilai konsisten menjaga disiplin fiskal, termasuk memastikan defisit anggaran tetap di bawah 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Namun, Pilarmas mengingatkan bahwa pasar masih menghadapi tekanan dari kebijakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi. Kebijakan ini berpotensi mendorong inflasi, terutama melalui kenaikan biaya transportasi dan logistik.

Di sisi lain, penahanan harga BBM subsidi memang membantu meredam dampak inflasi, namun berisiko menambah beban fiskal pemerintah melalui subsidi dan kompensasi energi.

"Bagi pasar keuangan, kondisi ini cenderung netral hingga negatif dalam jangka pendek karena menciptakan trade-off antara stabilitas inflasi dan kesehatan fiskal," jelas Pilarmas.

Trafik Perdagangan

Pada perdagangan Sesi I, sebanyak 23,10 juta saham diperdagangkan dengan nilai transaksi sebesar Rp 9,36 triliun, serta frekuensi sebanyak 1,49 juta kali.

Load More