- Dapur Makan Bergizi Gratis kini wajib miliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).
- Kepatuhan sertifikasi dapur MBG melonjak tajam dari 2% menjadi 41% per April 2026.
- Pemerintah siapkan sanksi stop operasi bagi dapur yang tak penuhi standar kebersihan.
Suara.com - Pemerintah terus memperketat pengawasan program unggulan Makan Bergizi Gratis (MBG). Kabar terbaru, Deputi Bidang Koordinasi Keterjangkauan dan Keamanan Pangan Kemenko Pangan, Nani Hendiarti, menegaskan bahwa seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur umum kini wajib memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).
Kebijakan ini diambil bukan tanpa alasan. Pemerintah ingin memastikan bahwa setiap porsi makanan yang sampai ke tangan masyarakat diproses dalam lingkungan yang memenuhi standar kebersihan tertinggi.
"SPPG atau dapur itu harus, atau wajib memiliki SLHS, yang sebelumnya tidak wajib," ujar Nani dalam ajang Food Summit 2026 di Jakarta, Senin (27/4/2026).
Menariknya, sejak aturan ini diperketat, tingkat kepatuhan pengelola dapur di berbagai daerah melonjak drastis. Nani mengungkapkan data mengejutkan mengenai transformasi kesadaran sanitasi ini. Sebelumnya, kepatuhan hanya menyentuh angka 2 persen dan melambung tinggi hingga mencapai 41 persen dari total SPPG di seluruh Indonesia.
"Jumlah SPPG yang sudah bersertifikat SLHS ini meningkat tajam. Dari sebelumnya itu hanya 2 persen, lalu sampai April ini sudah meningkat menjadi 41 persen," jelasnya dengan nada optimis.
Langkah ini juga menjadi strategi preventif pemerintah untuk menekan risiko Kejadian Luar Biasa (KLB), seperti keracunan makanan yang kerap menghantui program pangan skala besar. Nani tidak main-main soal urusan keamanan perut rakyat. Bagi dapur yang membandel, pemerintah telah menyiapkan sanksi administratif berupa penghentian operasional sementara.
"Yang belum punya SLHS bisa diberhentikan sementara sampai memenuhi ketentuan," tegas Nani.
Selain urusan sertifikasi, pemerintah juga telah merilis Petunjuk Teknis (Juknis) yang komprehensif. Aturan ini mencakup seluruh rantai pasok, mulai dari pengolahan bahan baku yang ketat, prosedur distribusi makanan dan protokol penanganan cepat jika terjadi masalah di lapangan.
Dengan pengawasan berlapis ini, program Makan Bergizi Gratis diharapkan tidak hanya sekadar mengenyangkan, tapi benar-benar menjadi motor penggerak kualitas kesehatan dan ekonomi masyarakat Indonesia.
Baca Juga: Wamenkeu: MBG Absen di Sabtu Rp1 Triliun Dihemat per Pekan
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 HP Murah Memori 128 GB dan Kamera Bening di Bawah Rp1,5 Juta untuk Multitasking
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- 9 Rekomendasi Lipstik Tahan Lama yang Cocok untuk Kulit Sawo Matang
- 5 Sepatu Lari di Bawah Rp500 Ribu di Sports Station, Performa Nyaman Sesuai Review
Pilihan
-
Hukum Tak Mampu Meyakinkan Publik, Main Hakim Sendiri Jadi Jalan Pintas
-
Rupiah Jebol ke Rp18.083 per Dolar AS, Terpuruk Paling Dalam di Asia usai Perry Warjiyo Mundur
-
Adik Kim Jong un ke Indonesia Cs: Hei Antek-antek Asing, Stop Jadi Corong Bayaran AS
-
Melania Trump Hendak Dibunuh saat Belanja Baju, Ada 'Orang Dalam' Berkhianat
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
Terkini
-
Are You Afraid of the Dark? Ketika Ambisi Berubah Jadi Konspirasi Mematikan
-
Sequis Life Dorong Masyarakat Mengevaluasi Kebutuhan Perlindungan
-
Ternyata Rutinitas Commuting ke SCBD Ikut Menyelamatkan Bumi
-
KPK Tuntut Eks Dirut PGN Hendi Prio Santoso 5 Tahun Penjara di Kasus Jual Beli Gas
-
Amnesty International: Kejahatan Harus Dilawan dengan Hukum, Bukan Penghakiman Massa
-
APBN Biayai Gaji Manajer Koperasi Merah Putih Selama Dua Tahun
-
Menghidupkan Kembali Nilai Sampah Lewat Filosofi Hamemayu Hayuning Bawono, Bagaimana Praktiknya?
-
Goldfinches, Buku Cantik tentang Kebahagiaan dalam Hal-Hal Sederhana
-
Dialami Penjaga Rumah Febrie Adriansyah, Pakar Farmakologi Ungkap Sebab Mulut Bisa Berbusa
-
Macet Jakarta Tak Berujung, Dishub DKI Akui Kekurangan 'Senjata' Hadapi Truk Besar Mogok